Jumat, 03 Maret 2017




PEMBAHASAN FONOLOGI ( BAGIAN DARI FONETIK )
Dosen Pengampu: Noor Cahaya, M.Pd
 
 Disusun Oleh:
Kelompok 3
MUZDALIFAH: 1610116320023
RIZKI TRI YUNIAR : 1610116320028
SINANGKUNG ROHMAT: A1B114247
TESA OKTAVIA : 1610116320032
THATA SANTICA : 1610116320033
Kelas: Regular B (A-2)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA dan SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TAHUN AJARAN 2017


Bab 7 Jenis-Jenis Bunyi Bahasa
1.      Bunyi Vokal, Konsonan, dan Semi Vokal
Bunyi-bunyi vokal, konsonan, dan semi vokal dibedakan berdasarkan tempat dan cara artikulasinya. Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara, setelah arus udara keluar dari glottis, (celah pita suara), lalu arus ujar hanya “diganggu” atau diubah oleh posisi lidah dan bentuk mulut. Misanya, bunyi [I], bunyi, bunyi [a], dan bunyi [u]. Sedangkan bunyi konsonan terjadi setelah arus ujar melawati suara diteruskan kerongga mulut dengan mendapatkan hambatan dari artikulator aktif dan artikulator pasif. Misalnya, bunyi [b] yang mendapat hambatan kepada dua bibir, bunyi [d]  yang mendapat hambatan pada ujung lidah (apeks) dan gigi atas, atau bunyi [g] yang mendapat hambatan pada belakang lidah  (dorsum) dan langit-langit lunak (velum). Sedangan bunyi semi vocal adalah bunyi yang proses pembentukan mula-mula secara vocal lalu diakhiri secara konsonan. Karena itu, bunyi ini sering juga disebut bunyi hampiran (aproksiaman). Bunyi semivokal hanya ada dua yaitu bunyi [D] yang termasuk bunyi bilabial dan bunyi [y] yang termasuk bunyi laminopalatal .
2. Bunyi Oral dan Bunyi Nasal
            Kedua bunyi ini dibedakan berdasarkan keluarnya arus ujar.  Bila arus ujar keluar melalui rongga mulut maka disebut bunyi oral. Bila keluar melalui rongga hidung disebut bunyi nasal. Bunyi nasal yang ada hanyalah bunyi [m] yang nerupakan nasal bilabilal, bunyi [n]  yang merupakan nasal laminoalveoral atau apikkodental, bunyi [n] yang merupakan nasal laminopalatal, dan bunyi [n] yang merupakan nasal dorsevelar.
3. Bunyi Bersuara dan Bunyi tak Besuara
            Kedua bunyi ini dibedakan berdasarkan ada tidaknya getaran pada pita suara sewaktu bunyi itu diproduksi . Bila pita suara turut bergetar pada proses pembunyian itu, maka disebut bunyi bersuara. Hal ini terjadi karena glottis pita suara itu terbuka sedikit. Yang temasuk bunyi bersuara antara lain bunyi [b], bunyi [d], dan bunyi [g]. Bila pita suara tidak bergetar diesebut bunyi tak bersuara. Hal ini terjadi karena glottis pada pita suara itu agak terbuka lebar. Dalam bahasa Indonesia hanya ada empat buah bunyi tak bersuara, yaitu bunyi [s], bunyi [k], bunyi[p], dan bunyi [t] .
            Bagaimana kita tahu bahwa bunyi [b] adalah bersuara, sedangkan bunyi [p] tidak besuara? Mudah saja, bila pada sebuah kata yang dimulai dengan bunyi bersuara diimbuhkan prefiks me- atau pe-, maka bunyi tersebut akan tetap ada. Sebaliknya bila kata itu dimulai dengan bunyi tak bersuara diberi prefiks me- atau pe-, maka bunyi tersebut akan hilang, bersenyawa dengan bunyi nasal dari kedua prefiks itu .
4. Bunyi Keras dan Bunyi Lunak
            Pembedaan kedua bunyi ini berdasarkan ada tidaknya ketegangan kekuatan arus udara ketika bunyi ini diartikulasikan. Sebuah bunyi disebut keras (fortis) apabila terjadi karena pernafasan yang kuat dan otot tegang. Bunyi [t], [k], dan [s] adalah fortis. Sebalikanya sebuah bunyi disebut lunak (lenis) apabila terjadi karena pernafasan lembut dan otot kendur. Bunyi seperti [d], [g], dan [z] adalah lenis.
5. Bunyi Panjang dan Bunyi Pendek
            Pembedaan kedua bunyi ini berdasarkan pada lama dan tidaknya bunyi diartukulasikan. Baik bunyi vocal maupan bunyi konsonan dapat dibagi atas bunyi panjang dan bunyi pendek. Kasus ini tidak ada dalam bahsa Indonesia, tetapi ada dalam bahasa Latin dan bahasa Arab .
6. Bunyi Tunggal dan Bunyi Rangkap
            Pembedaan ini berdasarkan pada hadirnya sebuah  bunyi  yang  tidak sama sebagai satu kesatuan dalam sebuah silabel (suku kata). Bunyi rangkap konsonan disebut  klaster. Tempat artikulasi kedua konsonan dalam klaster berbeda.
            Contohnya bunyi rangkap vokal seprti bunyi [a] dan [i] pada kata <lantai> dan <cerai>. Contoh bunyi rangkap konsonan seperti bunyi [k] [i] pada kata <klasik> dan <klitika>.
7. Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
            Pembedaann kedua bunyi ini berdasarkan derajat kenyaringan (senoritas) bunyi-bunyi itu yang ditentukan oleh besar kecilnya ruang resonasi pada waktu bunyi itu diujarkan. Bunyi vocal pada umumnya  mempunyai senoritas yang lebih tinggi daripada bunyi konsonan. Oleh karena itu, setiap bunyi vocal menjadi puncak kenyaringan setiap silabel. Bila a dua buah vocal beruntun yang masing-masing memiliki kenyaringan yang tinggi berarti kedua vokal itu merupakan dua silabel yang berbeda, seperti pada kata <ia> <beo>, dan <tua> dalam bahasa Indonesia.
8. Bunyi Egresif dan Bunyi Ingresif
Pembedaan kedua bunyi ini berdasarkan dari mata datangnya arus udara dalam pembentukan bunyi itu. Kalau arus udara datang dari dalam ( seperti dari paru-paru), maka bunyi tersebut disebut bunyi egresif, bila datangnya dari luar disebut bunyi ingresif.
9. Bunyi Segmentral dan Bunyi Suprasegmental
Pembedaan kedua bunyi ini didasarkan pada dapat tidaknya bunyi itu disegmentasikan. Bunyi yang dapat disegmentalkan, seperti semua bunyi vokal dan bunyi konsonan adalah bunyi segmental. Sedangkan bunyi atau unsur yang tidak dapat disegmentasikan, yang menyertai bunyi segmental itu, seperti tekanan, nada, jeda, dan durasi ( pemanjangan ) disebut bunyi atau unsur suprasegmental atau non segmental.
10. Bunyi Utama dan Bunyi Sertaan
Dalam pertuturan bunyi-bunyi bahasa itu tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling pengaruh-mempengaruhi baik dari bunyi yang ada sebelumnya maupun dari bunyi sesudahnya. Begitulah ketika ebuah bunyi diartikulasikan, maka akibat dari pengaruh bunyi berikutnya terjadi pulalah artikulasi lain yang disebut artikulasi sertaan atau ko-artikulasi atau artikulasi sekuder. Maka, pembedaan adanya bunyi utama dan bunyi sertaan ini didasarkan pada adanya proses artikulasi pertama, artikulasi utama, atau artikulasi primer, dan adanya artikulasi sertaan.
Bunyi-bunyi sertaan disebut juga bunyi pengiring yang muncul antara lain, akibat adanya proses artikulasi sertaan yang disebut:
(a)    labialisasi, yaitu bunyi sertaan yang dihasailkan dengan cara kedua bibir dibulatkan dan disempitkan segera atau ketika bunyi utama diucapkan, sehingga terdengar bunyi sertaan [w] pada bunyi utama. Misalnya, bunyi [t] pada kata < tujuan > terdengar sebagai bunyi [Tw] sehingga lafalnya [Tw ujungnya]. Jadi, bunyi [t] ditakatan labialisasi
(b)   palatalisasi, yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cera tengah lidah dinaikkan mendekati langit-langit keras (palatum) segera atau ketika bunyi utama diucapakan sehingga terdengar bunyi sertaan [y]. Misalnya, bunyi [p] pada kata  <piara > terdengar sebagai bunyi [Py] sehinggaucapannya menjadi [Pyara]. Jadi, bunyi [p] telah dipalatalisasi
(c)    velariasi, yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara mengangkat lidah kearah langit-langit lunak (velum) segera atau ketika bunyi utama diucapakan sehingga terdengar bunyi sertaan [x]. Misalnya, bunyi [m] pada kata < makhluk > terdengar sebagai bunyi [Mx], sehingga ucapannya menjadi < m*axluk >
(d)   retrofleksi, yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara ujung lidah ditarik ke belakang segera atau ketika bunyi utama diucapakan sehingga bunyi terdengar bunyi sertaan [r]. Misalnya bunyi kata [k] pada kata < kertas > terdengar sebagai bunyi [Kr], sehingga ucapannya menjadi [K*r ertas]. Jadi bunyi [k] telah diretrofleksi
(e)    glotalisai, bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup sesudah bunyi utama diucapakan sehingga terdengar bunyi sertaan [?]. misalnya, bunyi [a] pada kata < akan > terdengar sebagai bunyi [A?]. sehingga ucapannya menjadi [A* ? akan )
(f)    aspirasi, bunyi sertaan yang dihasilakan dengan cara arus uadara yang keluar lewat rongga mulut terlalu keras sehingga terdengar bunyi sertaan [h]. Misalnya, bunyi [p] pada awal kata bahasa inggris < paece > terdengar sebagai bunyi (Ph), sehingga ucapannya menjadi [Ph eis]
(g)   nasalisa, yaitu bunyi sertaan yang dihasilakan dengan cara memberikan kesempatan arus udara melalu rongga hidung sebelum atau sesaat bunyi utama diucapakn, sehingga terdengar bunyi sertaan [m]. Hal ini biasa terjadi pada konsonan hambat bersuara, yaitu [b], [d], dan [g], sehingga menjadi [M b ] [N d] [K g].
Kemungkinan masih ada bunyi sertaan yang lain, yang diberikan diatas hanya sekedar contoh.
Bab 8 Bunyi Vokal
            Vokal adalah jenis bunyi bahasa yang ketika dihasilkan atau diproduksi, setelah arus ujar ke luar dari glotis tidak mendapatkan hambatan dari alat ucap melainkan hanya diganggu oleh posisi lidah, baik vertikal maupun horisontal, dan bentuk mulut.
    Bunyi-bunyi vokal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Tinggi Rendahnya Posisi Lidah
   Berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah bunyi-bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a. Vokal tinggi atas, seperti bunyi [i] dan [u]
b. Vokal tinggi bawah, seperti bunyi [I] dan [U]
c. Vokal sedang atas, seperti bunyi [e] dan [o]
d. Vokal sedang bawah, seperti bunyi [ԑ] dan []
e. Vokal setengah sedang, seperti bunyi [ ]
f. Vokal rendah, seperti bunyi [a]
2.      Maju Mundurnya Lidah
Berdasarkan maju mundurnya lidah bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a. Vokal depan, seperti bunyi [i], [e], dan [a]
b. Vokal tengah, seperti bunyi [ ]
c. Vokal belakang, seperti bunyi [a]

   Berkenaan dengan penentuan bunyi vokal berdasarkan posisi lidah ada konsep yang disebut vokal kadinal (Jones 1958: 18), yang berguna untuk membandingkan vokal-vokal suatu bahasa di antara bahasa-bahasa lain. Konsep vokal kardinal ini menjelaskan adanya posisi lidah teringgi, terendah, dan terdepan dalam memproduksi bunyi vokal itu. Bunyi vokal [i] diucapkan dengan meninggikan lidah depan setinggi mungkin tanpa menyebabkan terjadinya konsonan geseran. Vokal [a] diucapkan dengan merendhkan lidah depan (ujung lidah) serandah mungkin. Vokal [ ] diucapkan dengan cara merendahkan pangkal lidah sebawah mungkin. Vokal [u] diucapkan dengan menaikkan pangkal lidah setinggi mungkin. Jika dibandingkan posisi keempat vokal tersebut akan tampak dalam bagan berikut (kemungkinan vokal lain diisikan di dalamnya).
Penyederhanaan dilakukan dengan membuat garis sejajar garis yang menghubungkan    vokal [i]-[u] dengan garis yang menghubungkan vokal [a]-[a].
Pada bagan berikut posisi lidah ketika mengucapkan vokal [i], [a], [ ], dan vokal [u].

3. Striktur
Striktur pada bunyi vocal adalah jarak antara lidah dengan langit-langit keras. Maka, bedasarkan strikturnya bunyi vocal dapat dibedakan mejadi :
(a)  vocal tertutup, yang terjadi apa bila lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit seperti bunyi I dan U .
(b) vocal terbuka, yang terjadi apa bila lidah berada dalam posisi serendah mungkin seperti bunyi A ..
4 . Bentuk mulut
   Berdasarkan bentuk mulut sewaktu bunyi vocal itu di produksi dapat di bedakan :
(a) vocal bundar, yaitu vocal yang di ucapkan dengan bentuk mulut bundar missal nya seperti O dan U .
(b) vocal tak bundar , yaitu vocal yang di ucapkan melainkan terbentang lebar  seperti bunyi I dan E .
(c) vocal netral yaitu vokal yang di ucapkan dengan bentuk mulut tidak bundar dan tidak melebar seperti bunyi A .
Bab 9 Bunyi Diftong
            Kosep diftong berkaitan dengan dua buah vokal yang merupakan satu bunyi dalam satu silabel . namun posisi lidah ketika mengucapkan bergeser keatas arau ke bawah . karena itu , dikenal adanya adatiga macam diftong. Yaitu diftong naik dan diftong turun, dan diftong memusat . yang ada dalam bahasa Indonesia tampak nya hanya diftog naik .
1 . Diftong naik terjadi jika vokal yang ke dua di ucapkan dengan lidah mejadi lebih tinggi dari pada yang pertama .
2 . Diftong turun yakni yang terjadi bila vokal kedua diucapkan dengan posisi lidah lebih rendah dari pada yang pertama .
3 . Diftong memusat , yaitu yang terjadi bila vokal kedua diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih tinggi, dan juga diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih rendah.
 Bab 10 Bunyi Konsonan 
Konsonan adalah bunyi bahsa yang diproduksi dengan cara, setelah arus ujar keluar dari glotis, lalu mendapat hambatan pada alat-alat ucap tertentu di dalam rongga mulut atau rongga hidung.
Bunyi konsonan diklasifikasikan berdasarkan:
1.      Tempat artikulasi yaitu tempat terjadinya bunyi konsonan atau tempat bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat artikulasi disebut titik artikulasi.
Contoh: bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir (bibir atas dan bibir bawah), sehingga tempat artikulasinya disebut bilabial. Bunyi [d] artikulator aktifnya adalah ujung lidah (apeks) dan artikulator pasifnya adalah gigi atas (dentum), sehingga temat artikulasinya disebut apikodental.

2.      Cara artikulasi yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus udara yang baru ke luar dari glotis dalam mengahasilakan bunyi konsonan itu.
Contoh; bunyi [p] dihasilkan dengan cara mula-mula arus udara dihambat pada kedua belah bibir, lalu tiba-tiba diletupkan dengan keras. Maka bunyi [p] disebut bunyi hambat atau bunyi letup. Bunyi [h] dihasilkan dengan cara arus udara digesekan di laring (tempat artikulasinya). Maka, bunyi [h] disebut bunyi geseran atau frikatif.

3.      Bergetar tidaknya pita suara, yaitu jika pita suara dalam proses pembunyian itu turut bergetar atau tidak. Bila pita suara turut bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut bergetar maka disebut bunyi bersuara. Jika pita suara tidak turut bergetar, maka bunyi desbut bunyi tak bersuara. Bergetarnya pita suara adalah karena glotis (celah pita suara) terbuka sedikit, dan tidak bergetarnya pita suara karena glotis terbuka agak lebar.

4.      Striktur yaitu hubungan posisi antara artikulator aktif dan artikulator pasif. Dalam memproduksi bunyi [p] hubungan artikulator aktif dan artikulator pasif, mula-mula rapat lalu secara tiba-tiba dilepas. Sedangkan dalam memproduksi bunyi [w] artikulator aktif dan artikulator pasif hubungannya renggang dan melebar.

Nama-nama Bunyi Konsonan
            Dengan melihat tempat artikulasi, cara artikulasi, dan bergetar tidaknya pita suara, maka nama-nama bunyi konsonan disebutkan sebagai berikut:
[b] bunyi bilabial, hambat, bersuara
[p] bunyi bilabial, hambat, tak bersuara
[m] bunyi bilabial, nasal
[w] bunyi bilabial, semi vokal
[v] bunyi labiodental, geseran, bersuara
[f] bunyi labiodental, geseran, tak bersuara,
[d] bunyi apikoalveolar, hambat, bersuara
[t] bunyi apikoalveolar, hambat, tak bersuara
[n] bunyi apikoalveolar, nasal
[l] bunyi apikoalveolar, sampingan
[r] bunyi apikoalveolar, getar
[z] bunyi naminoalveolar, geseran, bersuara
[ń] bunyi naminopalatal, nasal
]j] bunyi naminopalatal, paduan bersuara
[c] bunyi naminopalatal. tak bersuara
[∫] bunyi naminopalatal, geseran bersuara
[s] bunyi naminopalatal, geseran, takk bersuara
[g] bunyi dorsovelar, hambat, bersuara
[k] bunyi dosvelar, hambat, tak bersuara
[ŋ] bunyi dorsovelar, nasal
[x] bunyi dorsovelar, geseran, bersuara
[h] bunyi laringal, geseran, bersuara
[?] bunyi hambat, glottal

Catatan:
(1)   sebenarnya bunyi-bunyi konsonan yang disebutkan diatas sangat sedikit dibandingkan dengan bunyi-bunyi konsonan yang ada di dunia. Untuk konsonan bahasa Indonesia simak Stokhof (1980) atau Aminudin dkk.(1984). Begitu juga berbagai kemungkinan paduan tempat artikulasi dan cara artikulasi  masih banyak jumlahnya. Jadi, yang disebutkan di atas hanya sekedar yang dekat dengan konsonan dalam bahasa Indonesia.

(2)   Kalau dalam satu silabel terdapat dua buah vokal beruntun disebut diftong, maka bila terdapat dua buah konsonan dalam satu silabel yang beruntun disebut gugus konsonan atau klutser. Misalnya gugus kosnonan:
[pr] pada kata <prajurit>, <prihatin>, dan <preposisi>
[kl] pada kata <klasik>, <klinik>, dan <klakson>
[tr] pada kata <tradisi>, <sutra>, dan <traktor>
Malah sebagai akibat pengaruh bahasa asing (Inggris, Belanda) terdapat juga dalam bahasa Indonesia kini gugus konsonan yang terdiri dari tiga buah konsonan. Contoh;
[str] seperti pada kata <strategi>
[skr] seperti pada kata <skripsi>
[spr] seperti pada kata <sprinter>

Dalam bahasa Indonesia kini banyak gugus konsonan dari kata yang berasal dari bahsa asing diselipkan bunyi schwa [∂]. Misalnya, [klas] menjadi [kal∂s], [praktek] menjadi [p∂raktek], dan [drama] menjadi [d∂rama], dengan maksud untuk mempermudah ucapan.
(3)   Gugus konsonan harus dibedakan dari deret konsonan. Kalau gugus konsonan berada pada sebuah silabel, maka deret konsonan berada di antara dua silabel. Berikut contoh deret konsonan;
[mb] seperti pada kata <lambat>, <sambut>, dam <tembus>
[ks] seperti pada kata <taksir>, <paksa>, <siksa>
[nd] seperti pada kata <undang>, tanding, dan <kandang>


Kesimpulan :
Dari sedikit penjelasan di atas tentang bagian-bagian fonetik  dapat disimpulakan, dari jenis-jenis bunyi bahasa, bunyi vocal, bunyi diftong, bunyi konsonan . Merupakan bentuk-bentuk bunyi dari fonologi yang merupakan proses sehingga menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung bagaimana cara vocal, cara pengucapan, atau tempat posisi alau ucap tersebut ketika ingin melafalkan kata yang dipergunakan untuk menghasilakan sebuah bunyi yang berbeda .

12 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Nma : Eli Yanti
    NIM : 1610116320007
    Perwakilan kelompok 7

    dari pembahasan kalian, kalian telah menjelaskan tentang bunyi konsonan. nah, tolong berikan contoh bunyi konsonan tersebut secara lebih jelas lagi. terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. contoh yang di ambil ialah menurut cara pengartikulasiannya, yang salah satunya Konsonan Letupan. konsonan letupan berarti konsonan yang dihasilkan dengan menghambat arus udara seluruhnya, ditempat artikulasi tertentu secara tiba-tiba dan alat bicara ditempat tersebut lalu dilepaskan kembali. contohnya: Di antara bibir : hasilnya [p] atau [b] ( paman; Batak ); antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, hasilnya [t] atau [d] (tari; dari ;
      Antara ujung lidah dan langit-langit keras: hasilnya [ t ] dan [ d ] yang retrofleks itu (Jawa penthung ‘tongkat’; Jawa dhateng ‘datang’);

      Hapus
  3. Nama : Jordi Nanda Heriady
    NIM : 1610116310015
    Perwakilan kelompok 8

    Dari pembahasan diatas tentang bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara, tolong jelaskan kembali dan berikan contoh agar mudah di pahami.terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunyi bersuara adalah bunyi di mana pita vocal bergetar saat memproduksi bunyi atau glottis (pangkal tenggorokan) pita suara itu terbuka sedikit contoh yaitu pada bunyi [b], bunyi [d] dan bunyi [g] . kemudian bunyi tak bersuara adalah bunyi yang mana pita vokal tidak bergetar atau glotisnya pada pita suara itu agak terbuka lebar contoh yaitu pada bunyi [s], bunyi [k], bunyi[p], dan bunyi [t] .

      Hapus
  4. nama : Annisa Nurshifariani Ahya
    NIM : 1610116320004
    kelompok : 6

    mengapa kasus bunyi panjang dan bunyi pendek tidak ada di dalam bahasa Indonesia? dan tolong berikan contoh bunyi egresif dan bunyi ingresif.
    terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertanyaan ini di jawab oleh Muzdalifah, kasus bunyi panjang dan bunyi pendek tidak ada di dalam bahasa Indonesia, karena cuma ada di bahasa latin dan bahsa arab. sedangkan contohnya dijawab saat persentasi

      Hapus
  5. Nama : Aas Charniago
    NIM : 1610116320001
    Perwakilan kelompok 1

    Jelaskan perbedaan antara diftong naik, turun, dan memusat serta berikan contohnya masing-masing.
    Terimakasih

    BalasHapus
  6. Nama: Elva Riyani
    NIM: 1610116320008
    Perwakilan kelompok 2

    Bunyi [p] disebut bunyi oral, sedangkan bunyi [n] disebut bunyi nasal.Coba jelaskan apa sebabnya!

    Terima Kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunyi oral merupakan arus ujar keluar melalui rongga mulut karena itu saat mengucapkan bunyi [p] dapat didengar dikeluarkan melalui rongga mulut saat itu lah bunyi [p] disebut bunyi oral dan kenapa [n] disebut bunyi nasal karena keluar dari rongga hidung saat diucapkan .

      Hapus
  7. Nama :Nur Redha Namiya
    NIM :1610116320025
    Perwakilan dari kelompok 5

    Sebutkan apa saja contoh bunyi voral?
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunyi oral merupakan bunyi yang arus keluarnya melalui rongga mulut contoh saat mengucapkan bunyi [p] dapat didengar atau dilafalkan melalui rongga mulut .

      Hapus