PEMBAHASAN FONOLOGI ( BAGIAN DARI FONETIK )
Dosen Pengampu: Noor Cahaya, M.Pd
Disusun Oleh:
Kelompok 3
MUZDALIFAH: 1610116320023
RIZKI TRI YUNIAR : 1610116320028
SINANGKUNG ROHMAT: A1B114247
TESA OKTAVIA : 1610116320032
THATA SANTICA : 1610116320033
Kelas: Regular B (A-2)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA dan SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TAHUN AJARAN 2017
Bab 7 Jenis-Jenis Bunyi Bahasa
1. Bunyi Vokal, Konsonan, dan Semi
Vokal
Bunyi-bunyi
vokal, konsonan, dan semi vokal dibedakan berdasarkan tempat dan cara
artikulasinya. Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara, setelah
arus udara keluar dari glottis, (celah pita suara), lalu arus ujar hanya
“diganggu” atau diubah oleh posisi lidah dan bentuk mulut. Misanya, bunyi [I],
bunyi, bunyi [a], dan bunyi [u]. Sedangkan bunyi konsonan terjadi setelah arus
ujar melawati suara diteruskan kerongga mulut dengan mendapatkan hambatan dari
artikulator aktif dan artikulator pasif. Misalnya, bunyi [b] yang mendapat hambatan
kepada dua bibir, bunyi [d] yang
mendapat hambatan pada ujung lidah (apeks) dan gigi atas, atau bunyi [g] yang
mendapat hambatan pada belakang lidah
(dorsum) dan langit-langit lunak (velum). Sedangan bunyi semi vocal
adalah bunyi yang proses pembentukan mula-mula secara vocal lalu diakhiri
secara konsonan. Karena itu, bunyi ini sering juga disebut bunyi hampiran
(aproksiaman). Bunyi semivokal hanya ada dua yaitu bunyi [D] yang termasuk
bunyi bilabial dan bunyi [y] yang termasuk bunyi laminopalatal .
2.
Bunyi Oral dan Bunyi Nasal
Kedua
bunyi ini dibedakan berdasarkan keluarnya arus ujar. Bila arus ujar keluar melalui rongga mulut
maka disebut bunyi oral. Bila keluar melalui rongga hidung disebut bunyi nasal.
Bunyi nasal yang ada hanyalah bunyi [m] yang nerupakan nasal bilabilal, bunyi
[n] yang merupakan nasal laminoalveoral
atau apikkodental, bunyi [n] yang merupakan nasal laminopalatal, dan bunyi [n]
yang merupakan nasal dorsevelar.
3.
Bunyi Bersuara dan Bunyi tak Besuara
Kedua
bunyi ini dibedakan berdasarkan ada tidaknya getaran pada pita suara sewaktu
bunyi itu diproduksi . Bila pita suara turut bergetar pada proses pembunyian
itu, maka disebut bunyi bersuara. Hal ini terjadi karena glottis pita suara itu
terbuka sedikit. Yang temasuk bunyi bersuara antara lain bunyi [b], bunyi [d],
dan bunyi [g]. Bila pita suara tidak bergetar diesebut bunyi tak bersuara. Hal
ini terjadi karena glottis pada pita suara itu agak terbuka lebar. Dalam bahasa
Indonesia hanya ada empat buah bunyi tak bersuara, yaitu bunyi [s], bunyi [k],
bunyi[p], dan bunyi [t] .
Bagaimana
kita tahu bahwa bunyi [b] adalah bersuara, sedangkan bunyi [p] tidak besuara?
Mudah saja, bila pada sebuah kata yang dimulai dengan bunyi bersuara diimbuhkan
prefiks me- atau pe-, maka bunyi tersebut akan tetap ada. Sebaliknya bila kata
itu dimulai dengan bunyi tak bersuara diberi prefiks me- atau pe-, maka bunyi
tersebut akan hilang, bersenyawa dengan bunyi nasal dari kedua prefiks itu .
4.
Bunyi Keras dan Bunyi Lunak
Pembedaan
kedua bunyi ini berdasarkan ada tidaknya ketegangan kekuatan arus udara ketika
bunyi ini diartikulasikan. Sebuah bunyi disebut keras (fortis) apabila terjadi
karena pernafasan yang kuat dan otot tegang. Bunyi [t], [k], dan [s] adalah
fortis. Sebalikanya sebuah bunyi disebut lunak (lenis) apabila terjadi karena
pernafasan lembut dan otot kendur. Bunyi seperti [d], [g], dan [z] adalah
lenis.
5.
Bunyi Panjang dan Bunyi Pendek
Pembedaan
kedua bunyi ini berdasarkan pada lama dan tidaknya bunyi diartukulasikan. Baik
bunyi vocal maupan bunyi konsonan dapat dibagi atas bunyi panjang dan bunyi
pendek. Kasus ini tidak ada dalam bahsa Indonesia, tetapi ada dalam bahasa
Latin dan bahasa Arab .
6.
Bunyi Tunggal dan Bunyi Rangkap
Pembedaan
ini berdasarkan pada hadirnya sebuah
bunyi yang tidak sama sebagai satu kesatuan dalam sebuah
silabel (suku kata). Bunyi rangkap konsonan disebut klaster. Tempat artikulasi kedua konsonan
dalam klaster berbeda.
Contohnya
bunyi rangkap vokal seprti bunyi [a] dan [i] pada kata <lantai> dan
<cerai>. Contoh bunyi rangkap konsonan seperti bunyi [k] [i] pada kata
<klasik> dan <klitika>.
7.
Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
Pembedaann
kedua bunyi ini berdasarkan derajat kenyaringan (senoritas) bunyi-bunyi itu
yang ditentukan oleh besar kecilnya ruang resonasi pada waktu bunyi itu
diujarkan. Bunyi vocal pada umumnya
mempunyai senoritas yang lebih tinggi daripada bunyi konsonan. Oleh
karena itu, setiap bunyi vocal menjadi puncak kenyaringan setiap silabel. Bila
a dua buah vocal beruntun yang masing-masing memiliki kenyaringan yang tinggi
berarti kedua vokal itu merupakan dua silabel yang berbeda, seperti pada kata
<ia> <beo>, dan <tua> dalam bahasa Indonesia.
8.
Bunyi Egresif dan Bunyi Ingresif
Pembedaan kedua bunyi ini berdasarkan
dari mata datangnya arus udara dalam pembentukan bunyi itu. Kalau arus udara
datang dari dalam ( seperti dari paru-paru), maka bunyi tersebut disebut bunyi
egresif, bila datangnya dari luar disebut bunyi ingresif.
9.
Bunyi Segmentral dan Bunyi Suprasegmental
Pembedaan kedua
bunyi ini didasarkan pada dapat tidaknya bunyi itu disegmentasikan. Bunyi yang
dapat disegmentalkan, seperti semua bunyi vokal dan bunyi konsonan adalah bunyi
segmental. Sedangkan bunyi atau unsur yang tidak dapat disegmentasikan, yang
menyertai bunyi segmental itu, seperti tekanan, nada, jeda, dan durasi (
pemanjangan ) disebut bunyi atau unsur suprasegmental atau non segmental.
10.
Bunyi Utama dan Bunyi Sertaan
Dalam pertuturan
bunyi-bunyi bahasa itu tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling
pengaruh-mempengaruhi baik dari bunyi yang ada sebelumnya maupun dari bunyi
sesudahnya. Begitulah ketika ebuah bunyi diartikulasikan, maka akibat dari
pengaruh bunyi berikutnya terjadi pulalah artikulasi lain yang disebut
artikulasi sertaan atau ko-artikulasi atau artikulasi sekuder. Maka, pembedaan
adanya bunyi utama dan bunyi sertaan ini didasarkan pada adanya proses
artikulasi pertama, artikulasi utama, atau artikulasi primer, dan adanya
artikulasi sertaan.
Bunyi-bunyi
sertaan disebut juga bunyi pengiring yang muncul antara lain, akibat adanya
proses artikulasi sertaan yang disebut:
(a)
labialisasi,
yaitu bunyi sertaan yang dihasailkan dengan cara kedua bibir dibulatkan dan
disempitkan segera atau ketika bunyi utama diucapkan, sehingga terdengar bunyi
sertaan [w] pada bunyi utama. Misalnya, bunyi [t] pada kata < tujuan >
terdengar sebagai bunyi [Tw] sehingga lafalnya [Tw ujungnya]. Jadi, bunyi [t]
ditakatan labialisasi
(b)
palatalisasi,
yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cera tengah lidah dinaikkan mendekati
langit-langit keras (palatum) segera atau ketika bunyi utama diucapakan
sehingga terdengar bunyi sertaan [y]. Misalnya, bunyi [p] pada kata <piara > terdengar sebagai bunyi [Py]
sehinggaucapannya menjadi [Pyara]. Jadi, bunyi [p] telah dipalatalisasi
(c)
velariasi,
yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara mengangkat lidah kearah
langit-langit lunak (velum) segera atau ketika bunyi utama diucapakan sehingga
terdengar bunyi sertaan [x]. Misalnya, bunyi [m] pada kata < makhluk >
terdengar sebagai bunyi [Mx], sehingga ucapannya menjadi < m*axluk >
(d)
retrofleksi,
yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara ujung lidah ditarik ke belakang
segera atau ketika bunyi utama diucapakan sehingga bunyi terdengar bunyi
sertaan [r]. Misalnya bunyi kata [k] pada kata < kertas > terdengar
sebagai bunyi [Kr], sehingga ucapannya menjadi [K*r ertas]. Jadi bunyi [k]
telah diretrofleksi
(e)
glotalisai,
bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup sesudah bunyi utama
diucapakan sehingga terdengar bunyi sertaan [?]. misalnya, bunyi [a] pada kata
< akan > terdengar sebagai bunyi [A?]. sehingga ucapannya menjadi [A* ?
akan )
(f)
aspirasi,
bunyi sertaan yang dihasilakan dengan cara arus uadara yang keluar lewat rongga
mulut terlalu keras sehingga terdengar bunyi sertaan [h]. Misalnya, bunyi [p]
pada awal kata bahasa inggris < paece > terdengar sebagai bunyi (Ph),
sehingga ucapannya menjadi [Ph eis]
(g)
nasalisa,
yaitu bunyi sertaan yang dihasilakan dengan cara memberikan kesempatan arus
udara melalu rongga hidung sebelum atau sesaat bunyi utama diucapakn, sehingga
terdengar bunyi sertaan [m]. Hal ini biasa terjadi pada konsonan hambat
bersuara, yaitu [b], [d], dan [g], sehingga menjadi [M b ] [N d] [K g].
Bab 8 Bunyi Vokal
Vokal adalah jenis bunyi
bahasa yang ketika dihasilkan atau diproduksi, setelah arus ujar ke luar dari
glotis tidak mendapatkan hambatan dari alat ucap melainkan hanya diganggu oleh
posisi lidah, baik vertikal maupun horisontal, dan bentuk mulut.
Bunyi-bunyi vokal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Tinggi Rendahnya Posisi Lidah
Berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah
bunyi-bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a. Vokal tinggi
atas, seperti bunyi [i] dan [u]
b. Vokal tinggi
bawah, seperti bunyi [I] dan [U]
c. Vokal sedang
atas, seperti bunyi [e] dan [o]
d. Vokal sedang
bawah, seperti bunyi [ԑ] dan [ﬤ]
e. Vokal setengah sedang, seperti bunyi [
]
f. Vokal rendah, seperti bunyi [a]
2. Maju Mundurnya Lidah
Berdasarkan maju
mundurnya lidah bunyi vokal dapat dibedakan atas:
a. Vokal depan,
seperti bunyi [i], [e], dan [a]
b. Vokal tengah,
seperti bunyi [
]
c. Vokal
belakang, seperti bunyi [a]
Berkenaan dengan penentuan bunyi vokal
berdasarkan posisi lidah ada konsep yang disebut vokal kadinal (Jones 1958:
18), yang berguna untuk membandingkan vokal-vokal suatu bahasa di antara
bahasa-bahasa lain. Konsep vokal kardinal ini menjelaskan adanya posisi lidah
teringgi, terendah, dan terdepan dalam memproduksi bunyi vokal itu. Bunyi vokal
[i] diucapkan dengan meninggikan lidah depan setinggi mungkin tanpa menyebabkan
terjadinya konsonan geseran. Vokal [a] diucapkan dengan merendhkan lidah depan
(ujung lidah) serandah mungkin. Vokal [
]
diucapkan dengan cara merendahkan pangkal lidah sebawah mungkin. Vokal [u]
diucapkan dengan menaikkan pangkal lidah setinggi mungkin. Jika dibandingkan
posisi keempat vokal tersebut akan tampak dalam bagan berikut (kemungkinan
vokal lain diisikan di dalamnya).
Penyederhanaan
dilakukan dengan membuat garis sejajar garis yang menghubungkan vokal [i]-[u] dengan garis yang
menghubungkan vokal [a]-[a].
Pada bagan
berikut posisi lidah ketika mengucapkan vokal [i], [a], [
],
dan vokal [u].
3.
Striktur
Striktur pada
bunyi vocal adalah jarak antara lidah dengan langit-langit keras. Maka,
bedasarkan strikturnya bunyi vocal dapat dibedakan mejadi :
(a)
vocal tertutup, yang terjadi apa bila lidah diangkat setinggi mungkin
mendekati langit-langit seperti bunyi I dan U .
(b) vocal terbuka, yang terjadi apa bila
lidah berada dalam posisi serendah mungkin seperti bunyi A ..
4
. Bentuk mulut
Berdasarkan bentuk mulut sewaktu bunyi vocal
itu di produksi dapat di bedakan :
(a) vocal bundar, yaitu vocal yang di
ucapkan dengan bentuk mulut bundar missal nya seperti O dan U .
(b) vocal tak bundar , yaitu vocal yang
di ucapkan melainkan terbentang lebar
seperti bunyi I dan E .
(c) vocal netral yaitu vokal yang di
ucapkan dengan bentuk mulut tidak bundar dan tidak melebar seperti bunyi A .
Bab
9 Bunyi Diftong
Kosep diftong berkaitan dengan
dua buah vokal yang merupakan satu bunyi dalam satu silabel . namun posisi
lidah ketika mengucapkan bergeser keatas arau ke bawah . karena itu , dikenal
adanya adatiga macam diftong. Yaitu diftong naik dan diftong turun, dan diftong
memusat . yang ada dalam bahasa Indonesia tampak nya hanya diftog naik .
1 . Diftong naik terjadi jika vokal yang
ke dua di ucapkan dengan lidah mejadi lebih tinggi dari pada yang pertama .
2 . Diftong turun yakni yang terjadi
bila vokal kedua diucapkan dengan posisi lidah lebih rendah dari pada yang
pertama .
3 . Diftong memusat , yaitu yang terjadi
bila vokal kedua diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih tinggi, dan juga
diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih rendah.
Bab 10 Bunyi Konsonan
Konsonan adalah bunyi bahsa
yang diproduksi dengan cara, setelah arus ujar keluar dari glotis, lalu
mendapat hambatan pada alat-alat ucap tertentu di dalam rongga mulut atau
rongga hidung.
Bunyi konsonan
diklasifikasikan berdasarkan:
1.
Tempat artikulasi yaitu tempat terjadinya bunyi
konsonan atau tempat bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat
artikulasi disebut titik artikulasi.
Contoh:
bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir (bibir atas dan bibir bawah), sehingga
tempat artikulasinya disebut bilabial. Bunyi
[d] artikulator aktifnya adalah ujung lidah (apeks) dan artikulator pasifnya
adalah gigi atas (dentum), sehingga temat artikulasinya disebut apikodental.
2.
Cara artikulasi yaitu bagaimana tindakan atau
perlakuan terhadap arus udara yang baru ke luar dari glotis dalam
mengahasilakan bunyi konsonan itu.
Contoh;
bunyi [p] dihasilkan dengan cara mula-mula arus udara dihambat pada kedua belah
bibir, lalu tiba-tiba diletupkan dengan keras. Maka bunyi [p] disebut bunyi
hambat atau bunyi letup. Bunyi [h] dihasilkan dengan cara arus udara digesekan
di laring (tempat artikulasinya). Maka, bunyi [h] disebut bunyi geseran atau
frikatif.
3.
Bergetar
tidaknya pita suara, yaitu jika pita suara dalam proses pembunyian itu turut
bergetar atau tidak. Bila pita suara turut bergetar atau tidak. Bila pita suara
itu turut bergetar maka disebut bunyi
bersuara. Jika pita suara tidak turut bergetar, maka bunyi desbut bunyi tak bersuara. Bergetarnya pita
suara adalah karena glotis (celah pita suara) terbuka sedikit, dan tidak
bergetarnya pita suara karena glotis terbuka agak lebar.
4.
Striktur yaitu hubungan posisi antara
artikulator aktif dan artikulator pasif. Dalam memproduksi bunyi [p] hubungan
artikulator aktif dan artikulator pasif, mula-mula rapat lalu secara tiba-tiba
dilepas. Sedangkan dalam memproduksi bunyi [w] artikulator aktif dan
artikulator pasif hubungannya renggang dan melebar.
Nama-nama Bunyi Konsonan
Dengan
melihat tempat artikulasi, cara artikulasi, dan bergetar tidaknya pita suara,
maka nama-nama bunyi konsonan disebutkan sebagai berikut:
[b] bunyi bilabial, hambat, bersuara
[p] bunyi bilabial, hambat, tak bersuara
[m] bunyi bilabial, nasal
[w] bunyi bilabial, semi vokal
[v] bunyi labiodental, geseran, bersuara
[f] bunyi labiodental, geseran, tak bersuara,
[d] bunyi apikoalveolar, hambat, bersuara
[t] bunyi apikoalveolar, hambat, tak bersuara
[n] bunyi apikoalveolar, nasal
[l] bunyi apikoalveolar, sampingan
[r] bunyi apikoalveolar, getar
[z] bunyi naminoalveolar, geseran, bersuara
[ń] bunyi naminopalatal, nasal
]j] bunyi naminopalatal, paduan bersuara
[c] bunyi naminopalatal. tak bersuara
[∫] bunyi naminopalatal, geseran bersuara
[s] bunyi naminopalatal, geseran, takk bersuara
[g] bunyi dorsovelar, hambat, bersuara
[k] bunyi dosvelar, hambat, tak bersuara
[ŋ] bunyi dorsovelar, nasal
[x] bunyi dorsovelar, geseran, bersuara
[h] bunyi laringal, geseran, bersuara
[?] bunyi hambat, glottal
Catatan:
(1)
sebenarnya
bunyi-bunyi konsonan yang disebutkan diatas sangat sedikit dibandingkan dengan
bunyi-bunyi konsonan yang ada di dunia. Untuk konsonan bahasa Indonesia simak Stokhof (1980) atau Aminudin dkk.(1984). Begitu juga berbagai kemungkinan paduan tempat
artikulasi dan cara artikulasi masih
banyak jumlahnya. Jadi, yang disebutkan di atas hanya sekedar yang dekat dengan
konsonan dalam bahasa Indonesia.
(2)
Kalau
dalam satu silabel terdapat dua buah vokal beruntun disebut diftong, maka bila terdapat dua buah
konsonan dalam satu silabel yang beruntun disebut gugus konsonan atau klutser.
Misalnya gugus kosnonan:
[pr] pada kata
<prajurit>, <prihatin>, dan <preposisi>
[kl] pada kata
<klasik>, <klinik>, dan <klakson>
[tr] pada kata
<tradisi>, <sutra>, dan <traktor>
Malah sebagai akibat pengaruh
bahasa asing (Inggris, Belanda) terdapat juga dalam bahasa Indonesia kini gugus
konsonan yang terdiri dari tiga buah konsonan. Contoh;
[str] seperti pada kata
<strategi>
[skr] seperti pada kata
<skripsi>
[spr] seperti pada kata
<sprinter>
Dalam bahasa Indonesia kini
banyak gugus konsonan dari kata yang berasal dari bahsa asing diselipkan bunyi schwa [∂]. Misalnya, [klas] menjadi
[kal∂s], [praktek] menjadi [p∂raktek], dan [drama] menjadi [d∂rama], dengan
maksud untuk mempermudah ucapan.
(3)
Gugus
konsonan harus dibedakan dari deret konsonan. Kalau gugus konsonan berada pada
sebuah silabel, maka deret konsonan berada di antara dua silabel. Berikut
contoh deret konsonan;
[mb] seperti pada kata
<lambat>, <sambut>, dam <tembus>
[ks] seperti pada kata
<taksir>, <paksa>, <siksa>
[nd] seperti pada kata
<undang>, tanding, dan <kandang>
Kesimpulan :
Dari sedikit penjelasan di atas
tentang bagian-bagian fonetik dapat
disimpulakan, dari jenis-jenis bunyi bahasa, bunyi vocal, bunyi diftong, bunyi
konsonan . Merupakan bentuk-bentuk bunyi dari fonologi yang merupakan proses
sehingga menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung bagaimana cara vocal, cara
pengucapan, atau tempat posisi alau ucap tersebut ketika ingin melafalkan kata
yang dipergunakan untuk menghasilakan sebuah bunyi yang berbeda .
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNma : Eli Yanti
BalasHapusNIM : 1610116320007
Perwakilan kelompok 7
dari pembahasan kalian, kalian telah menjelaskan tentang bunyi konsonan. nah, tolong berikan contoh bunyi konsonan tersebut secara lebih jelas lagi. terimakasih.
contoh yang di ambil ialah menurut cara pengartikulasiannya, yang salah satunya Konsonan Letupan. konsonan letupan berarti konsonan yang dihasilkan dengan menghambat arus udara seluruhnya, ditempat artikulasi tertentu secara tiba-tiba dan alat bicara ditempat tersebut lalu dilepaskan kembali. contohnya: Di antara bibir : hasilnya [p] atau [b] ( paman; Batak ); antara ujung lidah dan lengkung kaki gigi, hasilnya [t] atau [d] (tari; dari ;
HapusAntara ujung lidah dan langit-langit keras: hasilnya [ t ] dan [ d ] yang retrofleks itu (Jawa penthung ‘tongkat’; Jawa dhateng ‘datang’);
Nama : Jordi Nanda Heriady
BalasHapusNIM : 1610116310015
Perwakilan kelompok 8
Dari pembahasan diatas tentang bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara, tolong jelaskan kembali dan berikan contoh agar mudah di pahami.terimakasih
Bunyi bersuara adalah bunyi di mana pita vocal bergetar saat memproduksi bunyi atau glottis (pangkal tenggorokan) pita suara itu terbuka sedikit contoh yaitu pada bunyi [b], bunyi [d] dan bunyi [g] . kemudian bunyi tak bersuara adalah bunyi yang mana pita vokal tidak bergetar atau glotisnya pada pita suara itu agak terbuka lebar contoh yaitu pada bunyi [s], bunyi [k], bunyi[p], dan bunyi [t] .
Hapusnama : Annisa Nurshifariani Ahya
BalasHapusNIM : 1610116320004
kelompok : 6
mengapa kasus bunyi panjang dan bunyi pendek tidak ada di dalam bahasa Indonesia? dan tolong berikan contoh bunyi egresif dan bunyi ingresif.
terimakasih.
pertanyaan ini di jawab oleh Muzdalifah, kasus bunyi panjang dan bunyi pendek tidak ada di dalam bahasa Indonesia, karena cuma ada di bahasa latin dan bahsa arab. sedangkan contohnya dijawab saat persentasi
HapusNama : Aas Charniago
BalasHapusNIM : 1610116320001
Perwakilan kelompok 1
Jelaskan perbedaan antara diftong naik, turun, dan memusat serta berikan contohnya masing-masing.
Terimakasih
Nama: Elva Riyani
BalasHapusNIM: 1610116320008
Perwakilan kelompok 2
Bunyi [p] disebut bunyi oral, sedangkan bunyi [n] disebut bunyi nasal.Coba jelaskan apa sebabnya!
Terima Kasih
Bunyi oral merupakan arus ujar keluar melalui rongga mulut karena itu saat mengucapkan bunyi [p] dapat didengar dikeluarkan melalui rongga mulut saat itu lah bunyi [p] disebut bunyi oral dan kenapa [n] disebut bunyi nasal karena keluar dari rongga hidung saat diucapkan .
HapusNama :Nur Redha Namiya
BalasHapusNIM :1610116320025
Perwakilan dari kelompok 5
Sebutkan apa saja contoh bunyi voral?
Terima kasih
Bunyi oral merupakan bunyi yang arus keluarnya melalui rongga mulut contoh saat mengucapkan bunyi [p] dapat didengar atau dilafalkan melalui rongga mulut .
Hapus