FONEMIK
FONEM
DAN ALOFON
FONEM
BAHASA INDONESIA
Dosen : Noor Cahaya,M.Pd
DISUSUN OLEH :
1.
Alya
Dhania Riadyni (1610116320003)
2.
Mina
Merdekarti (1610116320021)
3.
Nur
Redha Namiya (1610116320025)
4.
Shalna
Aulia (1610116320030)
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
BANJARMASIN
2017
Fonemik
Kajian
fonetik adalah bunyi bahasa atau font sedangkan kajian objek fonemik adalah
fonem. Lalu, persoalannya bedanya font dan fonem, sebab keduanya sama-sama
bunyi bahasa disebutkan juga bahwa fonetik mengkaji bunyi-bunyi bahasa dengan
tidak memperhatikan status bunyi itu bisa membedakan makna kata atau tidak,
semantara fonemik dikatakan mengkaji bunyi bahasa dengan memperhatikan
statusnya sebagai pembeda makna. Bunyi-bunyi bahasa yang sudah dibicarakan pada
bab yang lalu, baik yang disebut vocal maupun konsonan jumlahnya sangat banyak.
Bunyi-bunyi tersebut meskipun merakan representasi dalam pertuturan, ternyata
yang satu dengan yang lain dapat bergabung dalam satu kesatuan yang statusnya
lebih tinggi yaitu sebuah fonem, sehingga dapat membedakan makna kata. Jadi,
fonem merupakan abstraksi dari satu atau sejumlah font, entah vokal maupun
konsonan.
Memanag
banyak versi mengenai definisi atau konsep fonem. Namun intinya adalah satu
kesatuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna kata. Bagaimana kita tahu
sebuah bunyi adalah fonem atau bukan fonem banyak cara dan prosedur telah
dikemukakan berbagai pakar namun intinya adalah kalau kita ingin mengetahui
sebua bunyi adalah fonem atau bukan kita harus mencari yang disebut pasangan
minimal atau minimal pair, yaitu dua buah bentuk yang bunyinya mirip dan hanya
sedikit berbeda, umpanmanya kita ingin mengetahui bunyi [p] fonem atau bukan
maka kita cari misalnya pasangan kata paku dan baku kedua kata ini mirip
sekali. Masing-masing terdir dari empat buah buah bunyi. Kata paku terdiri dari
bunyi [p], [a], [k], [u] dan bunyi [u] sedangkan kata baku terdiri dari bunyi
[b], [a], [k] dan [u] jadi pasangan paku dan baku terdapat tiga buah bunyi yang
sama yaitu bunyi kedua, ketiga, dan keempat. Yang berbeda hanya bunyi pertama
yaitu bunyi [p]pada kata paku dan bunyi [b] pada kata baku.
p
|
A
|
K
|
u
|
b
|
A
|
K
|
u
|
Dengan
demikian kita sudah dapat membuktikan bahwa bunyi [p] dalam bahasa Indonesia
adalah sebuah fonem . Mengapa? Karena kalau posisinya diganti oleh bunyi [b],
maka maknanya akan berbeda. Untuk membuktikan sebuah bunyi adalah fonem atau
bukan dapat juga digunakan pasangan minimal yang salah satu anggota nya “rumpang”
artinya ,jumlah bunyi pada anggota pasangan yang rumpang itu kekurangan satu
bunyi dari anggota yang utuh. misalnya ,untuk membuktikan bunyi [h] adalah
fonem atau bukan kita dapat mengambil pasangan (tuah) dan (tua). Bentuk (tuah)
memiliki 4 buah bunyi ,sedangkan bentuk (tua) hanya memiliki tiga buah bunyi.
Maka ,kalau bunyi [h] itu ditanggalkan ,makna kata itu akan berbeda. Oleh karena
itu, dapat di simpulkan bunyi itu [h] adalah sebuah fonem [h].
t
|
U
|
A
|
h
|
t
|
U
|
A
|
-
|
Alofon
Kalau kita melihat kembali pembicaraan mengenai vokal (bab 8), maka kita akan melihat
bahwa bunyi vokal depan tinggi ada dua, yaitu vokal depan tinggi atas atau [i]
dan vokal depan tinggi bawah [I]. Begitu juga vokal belakang tinggi ada dua,
yaitu vokal belakang tinggi atas [u] dan vokal belakang tinggi bawah [U].
Demikian juga vokal belakang sedang ada dua, yaitu vokal belakang sedang atas
[o] dan vokal belakang sedang bawah [ﬤ]
Persoalan
kita sekarang apakah bunyi vokal [i] dan vokal [I] dua buah fonem atau sebuah
fonem. Kalau kita menggunakan cara dengan mencari pasangan minimal untuk kedua
bunyi vokal itu dalam bahasa Indonesia ternyata sampai saat ini tidak ada. Yang
menjadi kenyataan adalah bahwa kedua vokal itu, [i] dan [I], memiliki
distribusi yang berbeda. Vokal [i] menempati posisi pada silabel (suku kata)
terbuka, silabel yang tidak memiliki koda; sedangkan [I] menempati silabel yang
mempunyai koda. Simak:
Vokal
[i] pada kata <i.ni> [ini]; <ti.ti> [titi]; dan <i.si> [isi]
Vokal
[I] pada kata <benih> [b∂nIh]; <ba.tik> [batIk]; dan <ta.sik.
[tasIk]
Oleh karena itu, bisa disumpulkan bahwa:
(a)
Vokal
[i] dan [I] bukanlah merupakan dua buah fonem, melainkan cuma anggota dari dua
buah fonem yang sama yaitu fonem /i/
(b)
Vokal
[i] dan vokal [I] distribusinya tidak sama: vokal [i] berdistribusi pada
silabel terbuka atau silabel tidak berkoda; sedangkan vokal [I] berdistribusi
pada silabel tertutup atau silabel berkoda.
(c)
Vokal
[i] dan vokal [I] memiliki distribusi komplementer, berdistribusi yang saling
melengkapi.
Analog dengan kasus vokal [i] dan vokal [I], maka dapat
dikatakan vokal [u] dan vokal [U] juga merupakan anggota dari satu fonem yang
sama, yaitu fonem /u/, yang juga berdistribusi secara komplementer. Vokal [u]
untuk silabel terbuka (tak berkoda), dan vokal [U] untuk silabel tertutup
(berkoda). Perhatikan!
Vokal
[u] pada kata <buku> [buku]; <ibu> [ibu]; dan <itu> [itu]
Vokal
[U] pada kata <akur> [akUr]; <libur> [libur]; dan <atur>
[atUr]
Hal yang sama terjadi juga pada kasus vokal [o] dan vokal
[ﬤ].
Di mana vokal [o] untuk silabel terbuka, seperti pada
kata <toko> [toko] dan <bodo> [bodo], sedangkan vokal [ﬤ] untuk silabel tertutup seperti <tokoh> [tﬤkﬤh] dan
<bodoh> [bﬤdﬤh].
Vokal-vokal
yang menjadi anggota dari sebuah fonem, seperti [u] dan [U] untuk fonem /u/
disebut dengan istilah alofon. Dengan demikian kalau dibalik, bisa dikatakan
alofon adalah anggota dari sebuah fonem atau varian dari sebuah fonem.
Dari
pembicaraan tentang fonem dan alofon di atas, bisa dikatakan bahwa fonem
merupakan konsep abstrak karena kehadirannya dalam ujaran dia diwakili oleh
alofon yang sifatnya konkret, dapat diamati (didengar) secara empiris. Jadi,
misalnya fonem /i/ pada kata <tani> diwakili oleh alofon [i], karena
lafal kata itu adalah [tani], sedangkan pada kata <tarik> diwakili oleh
alofon [I] karena lafalnya adalah [tarIk]. Contoh fonem /k/ pada kata
<baku> diwakili oleh alofon [k] karena lafalnya adalah [baku], sedangkan
pada kata <bapak> diwakili oleh alofon [?] karena lafalnya [bapa?].
Dengan
perkataan lain, fonem /i/ direalisasikan oleh alofon [i] dan alofon [I];
fonem/u/ direalisasikan oleh alofon [u] dan alofon [U]; sedangkan fonem /o/
direalisasikan oleh alofon [o] dan alofon [].
Fonem vokal
Nama-nama fonem vokal yang ada dalam bahasa indonesia
adalah:
1.
/i/
vokal depan, tinggi, tak bundar.
2.
/e/
vokal depan, sedang, atas, tak bundar.
3.
/a/
vokal depan, rendah, tak bundar.
4.
//
vokal belakang,atas, bundar.
5.
/u/
vokal belakng, atas, bundar.
6.
/o/
vokal belakang, sedang, bundar.
Status-status fonem vokal :
Fonem
|
Posisi dalam kata
|
||
Awal
|
Tengah
|
Akhir
|
|
1.
/b/
2.
/p/
3.
/m/
4.
/w/
5.
/f/
6.
/d/
7.
/t/
8.
/n/
9.
/l/
10. /r/
11. /z/
12. /s/
13. /∫/
14. /ñ/
15. /j/
16. /c/
17. /y/
18. /g/
19. /k/
20. /ղ/
21. /x/
22. /h/
23. /?/
|
bara x para
paku x baku
mati x kati
waris x laris
fakta x pakta
dari x tari
tahan x lahan
nama x lama
lari x dari
rupa x lupa
zaman x taman
satu x batu
syarat x sarat
ñiur x siur
jahit x pahit
x jari
yuri x puri
guru x buru
kapak x lapak
ŋaղa x mama
xas x kas
hitam x pitam
b∂la? x b∂lok
|
kabur x kapur
kapur x kabur
tamu x tabu
bawaŋ x balaղ
kafan x kapan
udaղ x ulaղ
batu x baru
kina x kita
gelap x genap
para x pala
lazim x lalim
pasaղ x palaղ
-
Bañak x barak
Laju x lalu
Acar x ajar
Layar x lapar
Lagu x laku
Luka x lupa
Aŋan x akan
-
Paha x pala
Sa?at x sakat
|
sembab x sembah
dekap x dekat
malam x malaղ
-
-
Abad x abaղ
Kasut x kasur
Bahan x bahas
Batal x bataղ
Bakar x bakal
-
b∂kas x b∂las
-
-
-
-
-
-
Ajak x ajal
Kadaղ x kadal
Tarix x tarik
Mudah x muda
-
|
Simak peta fonem konsonan berikut!
Tempat
Artikulasi
Cara
Artikulasi
|
Bilabial
|
Labiodental
|
Apikoalveolar
|
Laminoalveolar
|
Laminopalatal
|
Dorsovelar
|
Uvular
|
Laringal
|
Glotal
|
|
Hambat (Letup)
|
BS
|
B
|
D
|
g
|
?
|
|||||
TBS
|
P
|
T
|
k
|
|||||||
Nasal
|
M
|
A
|
||||||||
Paduan (afrikat)
|
BS
|
j
|
||||||||
TBS
|
c
|
|||||||||
Sampingan (lateral)
|
||||||||||
Geseran (frikatif)
|
BS
|
V
|
z
|
H
|
||||||
TBS
|
F
|
s
|
||||||||
Getar (tril)
|
R
|
|||||||||
Semivokal
|
W
|
y
|
||||||||
Keterangan
1)
BS =
bersuara
TBS = tak bersuara
2)
/f/
dan /v/ dalam bahasa indonesia tidak ada pasangan minimal, masalahnya ada pada
persoalan ortografi.
Ciri
pembeda fonem bahasa indonesia
Secara keseluruhan ciri pembeda fonem-fonem bahasa
indonesia dapat dilihat pada bagan berikut:
FONEM
|
Silabis
|
konsonantal
|
Sonoran
|
akute
|
belakang
|
rendah
|
anterior
|
koronal
|
bulat
|
tegang
|
kontinuan
|
bersuara
|
nasal
|
i
|
+
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
.
|
.
|
.
|
u
|
+
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
.
|
o
|
+
|
_
|
+
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
.
|
a
|
+
|
_
|
+
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
.
|
.
|
.
|
e
|
+
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
.
|
.
|
.
|
∂
|
+
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
.
|
.
|
.
|
y
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
.
|
.
|
.
|
|
w
|
_
|
+
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
+
|
_
|
.
|
.
|
.
|
|
l
|
+
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
+
|
+
|
_
|
r
|
+
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
_
|
+
|
_
|
+
|
|||||||||||||
h
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
_
|
_
|
.
|
.
|
+
|
_
|
_
|
?
|
_
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
_
|
_
|
.
|
.
|
_
|
_
|
_
|
p
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
_
|
.
|
.
|
_
|
_
|
_
|
b
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
_
|
.
|
.
|
_
|
+
|
_
|
f
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
_
|
.
|
.
|
+
|
_
|
_
|
m
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
_
|
.
|
.
|
_
|
+
|
+
|
t
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
_
|
_
|
_
|
d
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
_
|
+
|
_
|
c
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
.
|
.
|
_
|
_
|
_
|
|
j
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
.
|
.
|
_
|
+
|
_
|
|
s
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
+
|
_
|
_
|
z
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
+
|
+
|
_
|
n
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
+
|
+
|
.
|
.
|
_
|
+
|
+
|
|
∫
|
_
|
+
|
_
|
+
|
_
|
_
|
_
|
+
|
.
|
.
|
+
|
_
|
_
|
ñ
|
_
|
+
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
+
|
.
|
.
|
_
|
+
|
+
|
k
|
_
|
+
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
.
|
.
|
_
|
_
|
_
|
g
|
_
|
+
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
.
|
.
|
_
|
+
|
_
|
x
|
_
|
+
|
_
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
.
|
.
|
+
|
_
|
_
|
ŋ
|
_
|
+
|
+
|
+
|
+
|
_
|
_
|
_
|
.
|
.
|
_
|
+
|
+
|
Keterangan:
(1)
Yang
dimaksud dengan ciri pembeda di sini adalah pertentangan biner, misalnya
silabis x nonsilabis, konsonantal x nonkonsonantal, sonoran x nonsonoran, dan
sebagainya.
(2)
Tanda-tanda
Tanda
+ berarti memiliki ciri
-berarti tidak memiliki ciri
. tidak berkaitan dengan ciri
DAFTAR PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia.
Jakarta: Rineka Cipta.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalamualaikum, wr, wb.
BalasHapusNama : Oktavia Permita Sari
NIM : 1610116320027
Kelompok : 6
Pertanyaan : tolong jelaskan secara singkat, bagaimana cara menempatkan kata sesuai dengan posisi katanya (awal, depan, akhir)
Terima kasih, wassalamualaikum wr, wb.
Nama saya Alya Dhania Riadyni, NIM 1610116320003. Saya akan menjawab pertanyaan dari Oktavia Permita Sari. Penempatan yang di dalam tabel itu disesuaikan dengan letak bunyi yang memiliki pasangan minimal. Untuk contohnya bisa dilihat di dalam tabel. Misalnya, ikan x akan merupakan pasangan minimal, bedanya di bunyi /i/ dan /a/, kedua bunyi tersebut terdapat di awal kata.
Hapusassalamualaikum,wr,wb.
BalasHapusNama : Muhammad Setiawan Dini
NIM : 1610116310022
Kelompok : 7
pertanyaan : Diatas telah jelaskan tentang Fonemik dan Alofon,yang saya ingin tanyakan adalah apakah Fonemik dan Alofon memiliki hubungan, jika ada tolong jelaskan secara rinci.
Terima Kasih,wassalamualaikum wr,wb.
Walaikumsalam wr wb
HapusNama saya Nur Redha Namiya ,NIM 1610116320025.Saya akan menjawab pertanyaan dari Muhammad Setiawan Dini ,Saling berhubungan karena sudah ada di makalah kami yaitu Vokal-vokal yang menjadi anggota dari sebuah fonem, seperti [u] dan [U] untuk fonem /u/ disebut dengan istilah alofon. Dengan demikian kalau dibalik, bisa dikatakan alofon adalah anggota dari sebuah fonem atau varian dari sebuah fonem.
Dari pembicaraan tentang fonem dan alofon di atas, bisa dikatakan bahwa fonem merupakan konsep abstrak karena kehadirannya dalam ujaran dia diwakili oleh alofon yang sifatnya konkret, dapat diamati (didengar) secara empiris. Jadi, misalnya fonem /i/ pada kata diwakili oleh alofon [i], karena lafal kata itu adalah [tani], sedangkan pada kata diwakili oleh alofon [I] karena lafalnya adalah [tarIk]. Contoh fonem /k/ pada kata diwakili oleh alofon [k] karena lafalnya adalah [baku], sedangkan pada kata diwakili oleh alofon [?] karena lafalnya [bapa?].
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
BalasHapusNama: Fermansyah
NIM: 1610116310010
Perwakilan dari kelompok 8
Pertanyaan:
Mengapa setiap fonem memiliki alofon? dan
akibat distribusi apa akan terjadi perubahan bunyi yang disebut aspirasi? Berikan contohnya?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusNama saya Shalna Aulia nim 1610116320030 saya akan menjawab pertanyaan Femansyah.
HapusDalam fonemik terdapat istilah fonem, alofon, dan jenis bahasa. berikut penjelasannya
Fonem adalah bahasa Jepan disebut onso adalah satuan bunyi terkecil berwujud abstrak dengan ciri pembeda fonetis tertentu yang berfungsi membedakan makna dalam bahasa lisan,dan merupakan kristalisasi dari beberapa bunyi konkrit sebagai alofon dalam tata bunyi suatu bahasa. Jadi, bunyi konkrit alami disebut alofon dan fonem adalah satuan bunyi yang diciptakan ahli sehingga berwujud abstrak, karena keberadaan fonem ada didalam benak pikiran penutur dan didalam masyarakat pemakai bahasa yang yang bersangkutan. Oleh karena itu, fonem sering di kaitkan memiliki satu atau beberapa alofon, atau kebalikannya, satu atau beberapa alofon yang membentuk fonem. Jika meminjam konsep induk dan anak, maka fonem adalah induknya dan alofon adalah anaknya.
Aspirasi merupakan pengucapan suatu bunyi yang disertai dengan hembusan keluarnya udara dengan keras, sehingga keluar bunyi /h/ lepas tajam pelepasan artikulasi sec. tajam atau penuh. lepas nasal: adalah pelepasan bunyi nasal didepannya. Lepas sampingan: terjadi ketika adanya bunyi sampingan didepannya
Nama : Tesa Oktavia
BalasHapusNIM : 16100116320032
Perwakilan kelompok 3
dijelaskan fonem merupakan abstrasi dari satu atau sejumlahnya font entah vocal maupun konsonan yang saya tanyakan contoh abstrasinya seperti apa ? terimakasih .
Nama saya Alya Dhania Riadyni, NIM 1610116320003. Saya akan menjawab pertanyaan Tesa Oktavia.
HapusMaksudnya fonem merupakan abstraksi dari satu atau sejumlah fon, entah vokal maupun konsonan itu begini : Bunyi, meskipun merupakan representasi dalam pertuturan, ternyata yang satu dengan yang lain dapat bergabung dalam satu kesatuan yang statusnya lebih tinggi yaitu sebuah fonem, sehingga dapat membedakan makna kata. Contohnya, dalam fon ada [b] dan [p], untuk membuktikan sebagai fonem, kita lihat misalnya dalam kata "baku", jika bunyi /b/ diganti dengan /p/ maka akan menjadi kata lain dengan makna berbeda. Begitulah mengapa fonem disebut abstraksi atau gambaran dari satu atau beberapa fon.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalmu'alaikum Wr.Wb
BalasHapusNama :herlina sri damayanti
Nim :1610116320012
Perwakilan kelompok 4
Pertanyaan saya apa ada kaitan fonem vokal dan fonem bahasa indonesia jika ada tolong jelaskan
Terima Kasih Wassalamualaikum Wr.Wb
Nama saya Alya Dhania Riadyni, NIM 1610116320003. Saya akan menjawab pertanyaan dari Herlina Sri Damayanti.
HapusSebelumnya, kami memohon maaf karena ada kesalahan dalam penerbitan artikel tersebut. Sehingga materi yang dipaparkan tidak lengkap. Pembahasan mengenai fonem vokal masuk di dalam pembahasan Fonem Bahasa Indonesia. Adapun fonem vokal dalam bahasa Indonesia yaitu : /i/,/e/,/a/,/u/,/o/, dan /ә/.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalamu'alaikum Wr.Wb
BalasHapusNama : Elva Riyani
NIM : 1610116320008
Perwakilan dari kelompok 2
Yang ingin saya tanyakan
Berikan contoh fonetik yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa dengan tidak memperhatikan status bunyi itu apakah bisa membedakan makna kata atau tidak ?
Terima kasih
Nama saya Shalna Aulia nim 1610116320030 saya akan menjawab pertanyaan dari Elva Riyan.
HapusMaaf sebelumnya, pembahasan kami disini adalah fonemik. Fonemik adalah kajian atau analisa bunyi bahasa dengan memperhatikan statusnya sebagai pembeda makna. Bunyi bahasa yang diucapkan oleh manusia akan memiliki pembeda makna pada setiap bunyi bahasanya.
contohnya bisa anda lihat dalam tabel pada artikel, dimna untuk menentukan sebuah fonem diperlukan mencari pasangan minimal.
Assalamu'alaikum..
BalasHapusNama : Malia
Nim : 1610116320019
Perwakilan dari kelompok 1
Dikatakan bahwa "fonem merupakan konsep abstrak karena kehadirannya dalam ujaran dia diwakili oleh alofon yang sifatnya konkret, dapat diamati (didengar)secara empiris". Jadi, pertanyaan saya. Jelaskan hubungan antara fonem dan alofon?
Terima kasih
Waalaikumsalam.
HapusNama saya Mina Merdekarti.NIM 1610116320021. Saya akan menjawab pertanyaan dari Malia.
Fonem realisasinya adalah alofon, itu berarti alofon bukanlah fonem tetapi realisasi dari fonem. Bunyi alofon dapat dipertukarkan ditempat yang sama, sedangkan fonem tidak. Fonem bersifat abstrak, sedangkan alofon berabstraksi, bentuk abstraksi alofon adalah fonem.
izin copas ya min
BalasHapussyukron
saya mau bertanya: apa perbedaan,persamaan alofon sama fonem
BalasHapus