Selasa, 14 Februari 2017



FONOLOGI
PENDAHULUAN FONOLOGI, LINGUISTIK dan DISIPLIN LAIN
Dosen Pengampu : Noor Cahaya, M.Pd

 
 


Disusun oleh :


Kelompok 1 :
1. Aas Charniago (1610116320001)
2. Hafizahtunnisa Amsyah (1610116320011)
3. Malia (1610116320019)
4. Nia Amelia (1610116320024)


Kelas : Reguler B (A2)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA dan SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TAHUN AJARAN 2017




A.    Pendahuluan
Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi’, dan logi yang berarti ‘ilmu’. Fonologi diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Fonologi mengkaji ilmu bahasa secara umum dan fungsional.
Bila kita mendengar suara orang berbicara entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtutan bunyi-bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang-kadang suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar dan hentian sejenak dan hentian agak lama, kadang-kadang terdengar pula suara panjang dan suara biasa, dan sebagainya. Runtutan bunyi bahasa ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkat-tingkat kesatuannya. Umpamanya, runtutan bunyi dalam bahasa indonesia. Digunakan transkripsi ortografis, bukan transkripsi fonetis.

Contoh : [monyetitumelompatkeatastrukpisang]
Pada tahap pertama runtunan bunyi di atas dapat disegmentasikan menjadi (1a) dan (1b):
(1a) [monyetitu]
(1b) [melompatkeatastrukpisang]

Pada tahap kedua segmen (1a) dapat disegmentasikan menjadi (1a1) dan (1a2); sedangkan segmen (1b) dapat disegmentasikan menjadi (1b1) dan (1b2):
(1a1) [monyet]
(1a2) [itu]
(1b1) [melompat]
(1b2) [keatastrukpisang]

Pada tahap ketiga segmen (1b2) dapat disegmentasikan lagi menjadi (1b2.1) dan (1b2.2):
(1b2.1) [keatas]
(1b2.2) [trukpisang]

Pada tahap keempat, segmen (1b2.1) dapat disegmentasikan lagi menjadi (1b2.1.1) dan (1b2.1.2), dan segmen (1b2.2) dapat disegmentasikan menjadi (1b2.2.1) dan (1b2.2.2):
(1b2.1.1) [ke]
(1b2.1.2) [atas]
(1b2.2.1) [truk]
(1b2.2.2) [pisang]

Kemudian segmen-segmen runtunan bunyi itu dapat disegmentasikan lagi sehingga kita sampai pada satuan-satuan runtunan bunyi yang disebut silabel dan suku kata.
Silabel dan suku kata merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh bunyi lain, di depannya, di belakangnya, atau sekaligus di depan dan dibelakangnya. Adanya puncak kenyaringan atau sonoritas inilah yang menandai silabel itu. Puncak kenyaringan itu biasanya sebuah bunyi vocal, yakni bunyi yang dihasilkan tanpa adanya hambatan atau gangguan di rongga mulut. Misalnya pada silabel [mo] ada bunyi vocal [o], dan pada silabel [nyet] dapat disegmentasikan lagi menjadi bunyi [ny], bunyi [e], dan bunyi [t].
Menurut status atau hierarki satuan bunyi terkecil yang menjadi objek kajiannya, fonologi dibagi atas dua bagian, yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik adalah cabang fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa tanpa memperhatikan statusnya, apakah bunyi-bunyi bahasa itu dapat membedakan makna (kata) atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang kajian fonologi yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna (kata).

B.     Fonologi, Linguistik dan Disiplin lain
Kalau kita lihat kembali segmentasi terhadap tuturan (1) [monyetitumelompatkeatastrukpisang] yang dibicarakan pada bab I, akan kita lihat bahwa fonologi merupakan urutan paling bawah atau paling dasar dalam hierarki kajian linguistik. Mengapa? Karena objek kajiannya ialah bunyi-bunyi bahasa sebagai hasil akhir dari serangkaian tahap segmentasi terhadap suatu ujaran.
Yang dikaji fonologi ialah bunyi-bunyi bahasa sebagai satuan terkecil dari ujaran beserta dengan “gabungan” antar bunyi yang membentuk silabel atau suku kata. Serta juga dengan unsur-unsur suprasegmentalnya, seperti tekanan, nada, hentian dan durasi.
Satu tingkat diatas satuan silabel ialah satuan morfem yang menjadi objek kajian morfologi. Bedanya silabel dengan morfem adalah kalau silabel tidak memiliki makna, maka morfem mempunyai makna. Secara kuantitatif sebuah morfem, bisa sama atau lebih besar daripada sebuah silabel.
Morfologi yang lazim diartikan sebagai kajian mengenai proses-proses pembentukan kata dalam kajiannya juga masih memerlukan bantuan kajian fonologi. Misalnya dalam kasus yang disebut morfofonemik akan dibicarakan adanya perubahan bunyi, penembahan bunyi, pergeseran bunyi, dan sebagainya sebagai akibat dari adanya proses pertemuan morfem dengan morfem, terutama antara morfem afiks dengan morfem dasar atau morfem akar.
Dalam beberapa bahasa tertentu unsur suprasegmental yang juga menjadi objek kajian fonologi seperti nada, tekanan, dan durasi, akan memberi “warna” makna pula terhadap wujud sebuah morfem atau kata. jadi, kajian fonologi masih terlibat dalam kajian morfologi.
Di atas satuan morfem ada satuan ujar yang disebut kata, frase, klausa, dan kalimat (kalau ujarannya dalam bentuk wacana), yang menjadi objek kajian linguistik bidang sintaksis. Dalam kajian sintaksis ini fonologi juga masih terlibat karena seringkali makna sebuah ujaran (kalimat) tergantung pada unsur supra segmentalnya. Misalnya ujaran “guru baru datang” akan bermakna ‘guru itu terlambat’ apabila diberi jeda antara kata guru dan kata baru; tetapi akan bermakna ‘guru itu baru diangkat’ apabila diberi jeda antara kata baru dan kata datang.
Begitu juga, sebuah ujaran (kalimat) yang sama akan berbeda modus dan maknanya apabila diberi intonasi final yang berbeda.
Di luar kajian struktur internal bahasa, yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis, ada bidang kajian linguistik yang lain, yaitu semantik, leksikografi, sosiolinguistik, psikolinguistik, dan dialektologi.
Kajian semantik yang meliputi semua tataran bahasa juga banyak melibatkan kajian fonologi. Perbedaan bunyi pada sebuah “pasangan minimal” dapat membedakan makna kedua kata itu. Kajian leksikografi memanfaatkan kajian fonologi dalam memanfaatkan penulisan entri (lema) dengan tulisan fonetik agar entri itu dapat diucapkan dengan tepat dan benar.
Kajian sosiolinguistik juga memanfaatkan hasil kajian fonologi, dalam hal variasi-variasi bunyi dapat menunjukan status sosial dari seseorang atau sekelompok orang di dalam masyarakat.
Kajian psikolinguistik juga banyak meminta bantuan kajian fonologi. Sewaktu membicarakan perkembangan pemerolehan bunyi-bunyi bahasa oleh anak-kanak tentu memerlukan bantuan fonologi.
Kajian dialektologi yang berusaha memetakan dialek-dialek dari satu bahasa juga sangat membutuhkan hasil kajian fonologi. Mengapa? Karena penentuan dialek-dialek dari satu bahasa didasarkan pada perbedaan-perbedaan bunyi dari bentuk-bentuk kata yang sama.
Hasil kajian fonologi juga diperlukan dalam bidang klinis yaitu dalam membantu mereka yang mendapat hambatan dalam berbicara maupun mendengar. Yang diperlukan di sini adalah hasil kajian fonetiknya.
Di luar kajian linguistik masih banyak bidang kegiatan lain yang memerlukan bantuan fonologi. Misalnya, seni suara, seni musik, seni sastra (terutama dalam pembacaan puisi), dan juga dalam seni berbicara.

18 komentar:

  1. Nama saya Alya Dhania Riadyni, NIM : 1610116320003. Saya dari kelompok 5, ingin menanyakan : dalam materi saudara menuliskan "Kajian psikolinguistik juga banyak meminta bantuan kajian fonologi. Sewaktu membicarakan perkembangan pemerolehan bunyi-bunyi bahasa oleh anak-kanak tentu memerlukan bantuan fonologi." Bisakah memberikan contohnya? Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Contohnya, mengapa bunyi-bunyi bilabial lebih dahulu diperoleh oleh seorang kanak-kanak daripada bunyi dental atau palatal. Bunyi bilabial yakni berkaitan dengan kedua bibir atau fonem yang dihasilkan dengan menyempitkan kedua bibir, misal [p], [b], dan [m]. Sedangkan dental atau palatal yaitu berhubungan dengan gigi atas dalam proses artikulasi suatu bunyi yang terjadi karena penyempitan atau persentuhan antara (ujung) lidah dan gigi, misal [L].
      Bunyi bilabial lebih memudahkan seorang anak dalam masa pertumbuhan belajar menyebutkan beberapa kata-kata sederhana seperti buah, mama dan lain-lain. Sedangkan bunyi dental lebih sulit dipahami anak-anak yang masih tahap mengenal atau tumbuh kembang.

      Hapus
  2. Assalamu'alaikum
    Nama : Eli Yanti
    NIM : 1610116320007
    Perwakilan kelompok 7

    Jelaskan tujuan mempelajari fonologi dalam kehidupan sehari-hari! Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Untuk dapat membedakan bunyi-bunyi bahasa.
      2. Mendeskripsikan bagaimana proses terjadinya bunyi bahasa.
      3. Untuk mempelajari fungsi bunyi.
      4. Untuk mempelajari kata-kata tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
      5. Menentukan objek kajian bunyi-bunyi bahasa.

      Hapus
  3. Assalamu'alaikum
    Nama : Erpan Maulana
    NIM : 1610116310009
    Perwakilan kelompok 2


    Sebutkan sumbangan praktis fonologi terhadap kegiatan nyata dalam masyarakat! Apa sumbangannya itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Untuk melakukan sumbangan pengajaran bunyi-bunyi bahasa terhadap masyarakat.
      2. Menambah wawasan tentang bahasa pada masyarakat.
      3. Sebagai salah satu alternasi bahan pembelajaran fonologi dalam kehidupan masyarakat yang masih belum mengerti dan memahami kajian ilmu bunyi-bunyi bahasa.
      4. Sebagai salah satu alternasi bahan informasi bagi penelitian yang akan dilakukan .
      5. Mendeskripsikan aspek fonetik dengan inventarisasi bunyi dan deskripsi bunyi.
      6. Mendeskripsikan aspek fonemik yang berkaitan dengan pembuktian status fonem dan alofonnya, dan struktur fonem dalam suku kata.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Nama saya liafitriani dari kelompok 4 saya ingin bertanya,Bagaimana nada, tekanan, dan durasi, akan memberi perbedaan makna terhadap wujud sebuah morfem atau kata.terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. (kalimat berita), kamu berdiri? (kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah, nada, durasi dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia.

      Hapus
    2. perbedaan tekanan, nada, durasi akan memberikan perbedaan makna. sangat jelas sekali bahwa perbedaab pengucapan meliputi aspek yang telah anda ucapkan akan meberikan makna yang berbeda. karena setiap bahasa di dunia dan utamanya bahasa indonesia memiliki ciri penyebutan melalui intonasi, nada, tekanan, dan durasi yang menyirikan perbedaan pada kalimat tanya yang nada ujungnya berayun sedikit, kalimat perintah yang intonasi akhir pada pengucapannya agak naik, dan meskipun pada kalimat yang sama jika intonasi dan iramanya berbeda akan menunjukkan makna yang berbeda.

      Hapus
  6. Nama : Tesa Oktavia
    NIM :1610116320032
    Saya perwakilan kelompok 3
    Pada materi kalian dijelaskan bahwa bidang lain juga memerlukan fonologi seperti seni musik, seni sastra , mengapa bidang tersebut juga membutuhkan fonologi dalam penerapannya, terimakasih .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita mengetahui dewasa ini bahwa musik merupakan salah satu aspek kesenian yang sangat melekat dalam keseharian kita. Mengapa dalam penerapan seni musik dan seni sastra menggunakan fonologi. Kita sudah tahu bahwa dalam seni musik dan seni sastra pasti memerlukan bunyi vokal, kita tidak mungkin salah dalam pengucapan bunyi vokal . Dalam belajar seni musik dan seni sastra kita harus bisa membedakan bunyi dari huruf-huruf abjad itu sendiri. Tugas dari fonologi adalah mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Oleh karena itu, dalam belajar seni musik dan seni sastra fonologi juga penting dalam penerapannya.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. seperti yang sudah kita ketahui bahwa fonologi adalah ilmu yang mepelajari tentang bunyi-bunyi. Peranannya juga berpengaruh dalam bidang-bidang lain yang memerlukan bunyi. Seperti pada bidang seni sastra dan seni sastra. Dalam seni sastra sangat nyata diperlukannya fonologi karena kesalahan dalam pengucapan konsonan dan vokal akan berpengaruh dalam penyampaian makna, hal ini berkaitan langsung dengan fonemik dalam ilmu fonologi ini.Shingga perlu diajarkannya penyebutan bunyi yang benar oleh alat-alat ucap manusia. Terima Kasih.

      Hapus
  7. Assalamu'alaikum Wr. Wb.
    Nama: Fermansyah
    NIM: 1610116310010
    Perwakilan kelompok 8

    Berikan contoh kajian semantik yg meliputi semua tataran bahasa yg banyak melibatkan kajian fonologi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kajian semantik yang meliputi semua tataran bahasa juga banyak melibatkan kajian fonologi. Perbedaan bunyi pada sebuah “pasangan minimal” dapat membedakan makna kedua kata itu.
      Contoh pasangan minimal:
      • lupa dan rupa
      Dalam contoh tersebut, /l/ dan /r/ pada kata “lupa” dan “rupa” berbeda secara fungsional. Artinya, /l/ dan /r/ merupakan fonem-fonem yang berbeda. Kata “lupa” terdiri atas bunyi /l/, /u/, /p/, dan /a/, sedangkan kata “rupa” dibangun oleh bunyi /r/, /u/, /p/, dan /a/. Kalau kita cermati kedua kata tersebut, ternyata yang berbeda hanyalah bunyi /l/ dalam kata “lupa” dengan bunyi /r/ dalam kata “rupa”. Dengan begitu, /l/ dan /r/ di dalam bahasa Indonesia dipandang sebagai fonem, yaitu lambang bunyi yang berfungsi sebagai pembeda makna.

      Hapus
  8. Nama: Annisa Nurshifariani Ahya
    NIM: 1610116320004
    Saya perwakilan dari kelompok 6

    Mengapa variasi-variasi bunyi dapat menunjukan status sosial dari seseorang atau sekelompok orang di dalam masyarakat?
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komunikasi dan interaksi antar manusia terjadi sempurna dengan perantara bahasa. Dengan kata lain, manusia tidak dapat terlepas dari bahasa mengingat peran penting bahasa dalam berinteraksi dan berkomunikasi pada kehidupan manusia.
      Keberadaan manusia dalam masyarakat sangat beragam baik agama, status sosial, pendidikan, pekerjaan, gender, usia dan sebagainya. Di samping itu, dalam menjalani kehidupannya manusia membentuk kelompok-kelompok kecil sesuai dengan kepentingannya. Dari pernyataan tersebut maka bahasa akan mempunyai variasi-variasi sesuai kelompok penuturnya. Kekhususan dalam masing-masing kelompok bisa ditandai oleh adanya penggunaan variasi bahasa yang digunakan dalam suatu interaksi oleh pemakainya (Kartomiharjo, 1988: 4). Variasi dalam masing-masing kelompok ini dikenal dengan ragam bahasa atau variasi bahasa.
      Variasi bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa.

      Hapus