Jumat, 07 April 2017






DISTRIBUSI FONEM BAHASA INDONESIA DAN PERUBAHAN BUNYI/FONEM





Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Fonologi Bahasa Indonesia

Dosen Pembimbing :
Noor Cahaya, M.Pd

Disusun Oleh Kelompok VII :
Eli Yanti                                             (1610116320007)
Likina Yusufa                                   (1610116320017)
Muhammad Setiawan Dini              (1610116310022)
Sinta Herawati                                   (1610116320031)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
 UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017
Distribusi Fonem Bahasa Indonesia
Distribusi fonem adalah letak atau beradanya sebuah fonem didalam satu satuan ujaran,yang kita sebut sebuah kata atau morfem. Secara umum fonem dapat berada pada posisi awal kata,tengah kata,maupun di akhir kata. Secara khusus satu per satu,ada fonem yang dapat berada pada ketiga posisi itu,tetapi ada pula yang tidak dapat. Hanya berada pada posisi awal saja,atau posisi akhir saja. Fonem vokal memang selalu dapat menduduki posisi pada semua tempat, berkenaan dengan posisinya sebagai puncak kenyaringan pada setiap silabel. Sedangkan fonem konsonan tidak selalu demikian : mungkin dapat menduduki awal dan akhir,tetapi mungkin juga hanya menduduki posisi awal.
Berikut distribusi fonem bahasa indonesia
1. Fonem Vokal
  1. Vokal /a/,dapat menduduki semua posisi.                                                                  Contoh : ambil,taat,harga.
  2. Vokal /i/,dapat menduduki semua posisi.                                                                   Contoh : indah,amin,tani.
  3. Vokal /e/,dapat menduduki semua posisi.                                                                  Contoh : enak,karet,sate.
  4. Vokal /ǝ/,dapat menduduki posisi awal,tengah dan posisi akhir.                               Contoh : [ǝmas],[lǝmbut],[kodǝ].
  5. Vokal /u/,dapat menduduki semua posisi.                                                                  Contoh : udang,sambut,dan lagu.
  6. Vokal /o/,dapat menduduki semua posisi.                                                                  Contoh :oleh,belok,dan bakso.
2. Fonem Diftong
  1. Diftong /aw/ dapat menduduki posisi awal dan posisi akhir.
Contoh : aula [awla] dan pulau [pulaw]. tidak dapat menduduki posisi tengah.
  1. Diftong /ay/ hanya menduduki posisi akhir.
Contoh : [pantay] dan [landay]. Tidak dapat menduduki posisi awal dan tengah.
  1. Diftong /oy/ hanya menduduki posisi akhir.
Contoh : [sǝkoy] dan [amboy]. Tidak menduduki posisi awal dan posisi tengah.
  1. Diftong /ǝy/ juga hanya menduduki posisi akhir.                                                       Contoh : [survǝy]. Tidak dapat menduduki posisi awal dan tengah.
3. Fonem Konsonan          
  1. Konsonan /b/ dapat menduduki posisi awal,posisi tengah dan posisi akhir seperti pada kata bambu,timbul,dan sebab. Namun, pada posisi akhir sebagai koda posisinya mendua,maksudnya dapat sebagai fonem /b/, dan dapat pula sebagai fonem /p/. Disini, fonem /b/ itu kehilangan kontrasnya dnegan fonem /p/.  Fonem yang seperti ini lazim disebut dengan nama arkifonem. Keduanya, /b/ dan /p/ dianggap sebagai anggota dari arkifonem /B/.
  2. Konsonan /p/ dapat menduduki semua posisi : awal,tengah,dan akhi.                       Contoh :pikat,lipat, dan tutup.
  3. Konsonan /m/ dapat menduduki semua posisi :  awal,tengah,dan akhir.                   Contoh : makan,aman,dan dalam.
  4. Konsonan Semi vokal /w/ dapat menduduki posisi awal dan tengah contoh : waris dan awam. Pada posisi akhir semi vokal /w/ merupakan bagian dari diftong /aw/,yang secara ortografi dilambangkan dengan huruf <u>.                                                                 Contoh : [pulaw]→<pulau>, dan [danaw]→<danau>.                                                      Sebagai luncuran atau bunyi pelancar,bunyi [w] dalam ortografi tidak diberi lambang apa-apa. Contoh : [duᵚa]→<dua>; dan [kuᵚe]→<kue>.
  5. Konsonan /f/ dapat menduduki semua posisi.           
Contoh : fitnah,sifat dan aktif.                                                                                       Konsonan labiodental tak bersuara /f/ dan konsonan labiodental bersuara /v/ tidak memiliki pasangan minimal.
  1. Konsonan /d/ dapat menduduki semua posisi.
Contoh : dari,adat, dan abad.
  1. Konsonan /t/ dapat menduduki semua posisi.           
Contoh : tari,hati,dan karet.
  1. Konsonan /n/ dapat menduduki semua posisi.                                                            Contoh : nasi,tanah,dan tuan.
  2. Konsonan /I/ dapat menduduki semua posisi.                                                            Contoh : lari,balai,dan bakal.
  3. Konsonan /r/ dapat menduduki semua posisi.
Contoh : raja,urat,dan lebar.
  1. Konsonan /z/ dapat menduduki semua posisi.
Contoh : zakat,lazim,dan aziz.
  1. Konsonan /ñ/ dapat menduduki posisi awal dan tengah.                                           Contoh : [ñali] dan [bañak].
  2. Konsonan /j/ dapat menduduki posisi awal dan tengah.                   
Contoh : jalan dan ajal.          
  1. Konsonan /c/ dapat menduduki posisi awal dan tengah.                   
Contoh : copet dan kecil.
  1. Konsonan /ʃ/ dapat menduduki semua posisi.                                                            Contoh : [ʃarat] dieja <syarat> , [iʃarat] dieja <isyarat> dan [araʃ] dieja <arasy>.
  2. Konsonan /s/ dapat menduduki semua posisi .                                               Contoh : salut,pasar,dan baris.
  3. Konsonan /g/ dapat menduduki posisi awal dan tengah.                  
Contoh : gadis dan agar.Juga dapat menduduki posisi akhir tetapi secara ortografis selalu dilambangkan dengan huruf <k>. contoh :<gubuk> dilafalkan <gubug> atau <gubuk>
  1. Konsonan /k/ dapat menduduki semua posisi.                                                            Contoh : kata,akan,dan anak.
  2. Konsonan /?/ dapat menduduki posisi tengah dan akhir. Secara ortografis dilambangkan dengan huruf <k>
Contoh : nikmat [ni?mat] dan bapak [bapa?]
  1. Konsonan /ŋ/ dapat menduduki semua posisi.                                                            Contoh : ŋaŋa,aŋan, dan benaŋ.
  2. Konsonan /x/ dapat menduduki semua posisi.                                                            Contoh : [xitan] dieja <khitan> , [axir] dieja <akhir>, dan [tarix] dieja <tarikh>.
  3. Konsonan /h/ dapat menduduki semua posisi.                                                            Contoh : hamil,mahir,dan sudah.
                                                 
Gugus Konsonan
1.      Gugus konsonan /br/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata brahmana dan labrak.
2.      Gugus konsonan /bl/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata blangko dan amblas.
3.      Gugus konsonan /by/ hanya menduduki posisi tengah, seperti pada kata obyek dan subyek.
4.      Gugus konsonan /dr/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata drama dan sudra.
5.      Gugus konsonan /dw/ dapat menduduki posisi awal saja, seperti pada kata dwidarma.
6.      Gugus konsonan /dy/ hanya menduduki posisi tengah, seperti pada kata madya.
7.      Gugusan konsonan /fl/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata flanel dan inflasi.
8.      Gugus konsonan /fr/ dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata frater dan infra.
9.      Gugus konsonan /gl/ hanya menduduki posisi awal, seperti pada kata global dan glukosa.
10.  Gugus konsonan /gr/ hanya menduduki posisi awal seperti pada kata grafis dan gram.
11.  Gugus konsonan /kl/ hanya menduduki posisi awal, seperti pada kata klasik dan klinik.
12.  Gugus konsonan /kr/ hanya menduduki posisi awal, seperti pada kata kritik dan kroket.
13.  Gugus konsonan /ks/ dapat menduduki posisi awal, tengah, dan akhir seperti pada kata ksatria, eksponen, dan konteks.
14.  Gugus konsonan /kw/ dapat menduduki posisi awal dan tengah, seperti pada kata kwintal dan takwim.
15.  Gugus konsonan /pr/ dapat menduduki posisi awal dan tengah, seperti pada kata pribadi dan kaprok.
16.  Gugus konsonan /ps/ hanya menduduki posisi awal, seperti psikologi dan psikiater.
17.  Gugus konsonan /sl/ hanya dapat menduduki posisi awal, seperti pada kata slogan dan slebor.
18.  Gugus konsonan /sp/ hanya dapat menduduki posisi awal, seperti pada kata spontan dan spirit.
19.  Gugus konsonan /sr/ hanya dapat menduduki posisi awal, seperti pada kata srigala.
20.  Gugus konsonan /st/ hanya dapat menduduki posisi awal, seperti pada kata studio dan stasiun.
21.  Gugus konsonan /sk/ hanya dapat menduduki posisi awal, seperti pada kata skala.
22.  Gugus konsonan /skr/ hanya dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata skripsi dan manuskrip.
23.  Gugus konsonan /tr/ dapat menduduki posisi awal dan tengah, seperti pada kata tragedi dan sutra.
Dari pembicaraan di atas, mengenai distribusi fonem-fonem bahasa Indonesia dapat ditarik kesimpulan, bahawa.
1.      Semua fonem vokal dapat berdistribusi pada semua posisi (awal, tengah, dan akhir) kecuali vokal /ә/ yang hanya berposisi pada awal dan tengah; tetapi tidak dapat pada posisi akhir.
2.      Fonem diftong atau gugus vokal pada umumnya hanya menduduki posisi akhir, kecuali diftong /aw/ yang dapat menduduki posisi awal dan akhir.
3.      Semua fonem konsonan dapat menduduki posisi awal, tengah, dan akhir; kecuali fonem /w/, /ñ/, /j/, /c/, dan /g/ yang tidak dapat menduduki posisi akhir; dan fonem letup /?/ yang tidak dapat menduduki posisi awal.
4.      Mengenai gugus konsonan:
a.       Semua gugus konsonan dapat menduduki posisi awal, kecuali gugus /by/ yang tidak dapat.
b.      Posisi tengah dapat diduduki oleh gugus /bl/, /br/, /by/, /dr/, /dy/, /fl/, /gl/, /ks/, /kw/, /pr/, /skr/, dan /tr/ yang lainnya tidak dapat.
c.       Satu-satunya gugus yang dapat menduduki posisi akhir adalah /ks/.

Perubahan Bunyi/Fonem
Di dalam praktik bertutur fonem atau bunyi bahasa itu tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkaitan di dalam suatu runtunan bunyi.Secara fonetis maupun fonemis, akibat dari saling berkaitan dan pengaruh mempengaruhi bunyi-bunyi itu bisa saja berubah. Kalau perubahan itu tidak menyebabkan identitas fonemnya berubah, maka perubahan itu hanya bersifat fonetis; tetapi kalau perubahan itu sampai menyebabkan identitas fonemnya  berubah maka perubahan itu bersifat fonemis.
            Penyebab perubahan itu bisa diperinci menjadi (1) akibat adanya koartikulasi; (2) akibat pengaruh bunyi yang mendahului atau yang membelakangi; (3) akibat distribusi; dan (4)akibat lainnya.
1.      Akibat Adanya Koartikulasi
Koartikulasi disebut juga artikulasi sertaan, atau artikulasi kedua, adalah proses artikulasi lain yang menyertai terjadinya artikulasi utama, artikulasi primer, atau artikulasi pertama. Koartikulasi ini terjadi karena sewaktu artikulasi primer untuk memproduksi bunyi pertama berlangsung, alat-alat ucap sudah mengambil ancang-ancang untuk membuat atau memproduksi bunyi berikutnya. Akibatnya, bunyi pertama yang dihasilkan agak berubah mengikuti ciri-ciri bunyi kedua yang akan dihasilkan.
Dalam peristiwa ini dikenal adanya proses-proses labialisasi, rerofleksi, palatalisasi, velarisasi, faringalisasi, dan glotalisasi. Secara singkat proses-proses tersebut akan dibicarakan di bawah ini.
a.       Labialisasi
Labiaslisasi adalah proses pelabilan atau pembulatan bentuk bibir ketika artikulasi primer berlangsung. Selain bunyi labial bunyi lain dapat dilabialisasikan. Misalnya, bunyi [t] atau fonem /t/ adalah bunyi apikoalveolar, tetapi pada kata <tujuan>, bunyi [t] itu akibat dari akan diucapkannya bunyi [u] yang merupakan vokal bundar, maka bunyi [t] disertai dengan proses pembulatan bibir, sehingga bunyi [t] terdengar sebagai bunyi[tᵂ]. Jadi, kata <tujuan> dilafalkan menjadi [tᵂujuᵂan].
b.      Retrofleksi
Retrofleksi adalah proses penarikan ujung lidah melengkung ke arah palatum sewaktu artikulasi primer berlangsung sehingga terdengar bunyi [r]. selain bunyi apical, bunyi lain dapat diretrofleksikan. Misalnya, bunyi [k] adalah bunyi dorsopalatal, tetapi bunyi [k] pada kata <kertas> dilafalkan sebagai bunyi [kʳ] karena bunyi [k] itu direrofleksikan dulu. Jadi, kata <kertas> dilafalkan menjadi [kʳetas].
c.       Palatalisasi
Palatalisasi adalah proses pengangkatan daun lidah kea rah langit-langit keras (palatum) sewaktu articulator primer berlangsung. Selain bunyi palatal, bunyi lainnya dapat dipalatalisasikan. Misalnya,bunyi [p] adalah bunyi apikoalveolar tak bersuara, tetapi pada kata <piara>, bunyi [p] dipalatalisasikan sehingga terdengar sebagai bunyi [pʸ]. Maka, kata <piara> dilafalkan menadi [pʸara].
d.      Velarisasi
Velarisasi ialah proses pengangkatan pangkal lidah (dorsum) ke arah langit-langit lunak (velum) ketika artikulasi primer berlangsung. Selain bunyi velar, bunyi lain dapat divelarisasikan. Misalnya, bunyi [m] pada kata <makhluk> divelarisasikan menjadi [m˟]. Oleh karena itu, kata <makhluk> dilafalkan menjadi [m˟axluk].
e.       Faringalisasi
Faringalisasi ialah proses penyempitan rongga faring ketika artikulasi sedang berlangsung dengan cara menaikkan laring, mengangkat uvular (ujung langit-langit lunak), serta dengan menarik belakang lidah (dorsum) ke arah dinding faring. Semua bunyi dapat difaringalisasikan.
f.       Glotalisasi
Glotalisasi ialah proses penyertaan bunyi hambatan pada glotis, (glotis tertutup rapat) sewaktu artikulasi primer berlangsung. Misalnya, bunyi [a] dan bunyi [o] pada kata <akan> dan <obat> dilafalkan menjadi [?akan] dan o?bat]. begitu juga bunyi [a] pertama pada kata <taat> dan <saat> dilafalkan menjadi [ta?at] dan [sa?at].

2.      Akibat Pengaruh Bunyi Lingkungan
Akibat pengaruh bunyi lingkungan (bunyi yang berada sebelum atau sesudah bunyi utama) akan terjadi dua peristiwa perubahan yang disebut asimilasi dan disimilasi.
a.       Asimilasi
Yang dimaksud dengan asimilasi ialah perubahan bunyi secara fonetis akibat pengaruh yang berada sebelum atau sesudahnya. Kalau arah pengaruh ituke depan disebut asimilasi progresif. Kalau arah pengaruh itu ke belakang disebut asimilasi regresif.
Asimilasi progresif umpamanya bunyi [t] adalah bunyi apikoalveolar atau apikodental; tetapi pada kata <stasiun> bunyi [t] itu dilafalkan sebagai bunyi [t] laminoalveolar. Perubahan bunyi hambat apikoalveolar [t] menjadi bunyi hambat laminoalveolar adalah karena pengaruh secara progresif dari bunyi geseran laminopalatal [s].
Asimilasi regresif, umpamanya bunyi [p] adalah bunyi hambat bilabial; tetapi bunyi [p] pada silabel pertama kata <pantun> dilafalkan secara apikoalveolar. Perubahan bunyi hambat bilabial[p] menjadi bunyi hambat apikoalveolar adalah karena pengaruh nasal apikoalveolar [n].
Asimilasi, baik progresif maupun regresif lazim diartikan sebagai penyamaan dua buah bunyi yang berbeda menjadi dua buah bunyi yang sama. Dalam kasus kedua contoh di atas yang disamakan adalah tempat artikulasinya. Bunyi [t] yang sebenarnya vokal apikoalveolar diubah menjadi bunyi laminoalveolar disamakan dengan bunyi [s] yang laminopalatal.

b.      Disimilasi
Disimilasi merupakan proses kebalikan dari asimilasi. Kalau dalam asimilasi dalam dua buah bunyi yang tidak sama diubah menjadi sama, maka dalam kasus disimilasi dua buah bunyi yang sama diubah menjadi dua buah bunyi yang berbeda atau tidak sama. Misalnya, dalam bahasa Indonesia ada kata belajar, yang berasal dari pembentukan ber+ajar, yang seharusnya menjadi belajar. Namun, di sini bunyi [r] pertama didisimilasikan dengan [], sehingga menjadi belajar. Contoh lain bunyi [r] pada kata terantar diubah menjadi bunyi[] dan [r] sehingga menjadi telantar.

3.      Akibat Distribusi
Yang dimaksud dengan distribusi adalah letak atau tempat suatu bunyi dalam satu satuan ujaran. Akibat distribusi ini akan terjadi perubahan bunyi yang disebut aspirasi, pelepasan (release), pemaduan dan netralisasi.
a.       Asipirasi
Adalah pengucapan suatu bunyi yang disertai dengan hembusan keluarnya udara dengan keras, sehingga terdengar bunyi [h]. Misalnya, bunyi [p] dalam bahasa inggris bila berposisi pada awal kata akan diucapkan dengan aspirasi, sehingga terdengar sebagai bunyi [pʱ]. Jadi, kata <peace> dan <peter>akan diucapkan menjadi [pʱeis] dan [p itə]. Namun, bila konsonan [p] itu berada pada posisi akhir kata atau berada sesudah bunyi laminoalveolar, maka aspirasi itu tidak ada, seperti pada kata <map> yang diucapkan <mɛp> dan kata <space> yang diucapkan <spies>. Bunyi yang beraspirasi disebut bunyi aspirat.
b.      Pelepasan (release)
Yang dimaksud dengan pelepasan (release) adalah pengucapan bunyi hambat letup tanpa hambatan atau letupan, lalu dengan serentak dengan bunyi berikutnya diucapkan. Jadi, hambatan atau letupan itu dilepaskan atau dibebaskan. Misalnya bunyi [p] adalah bunyi hambat letup bersuara; tetapi bunyi [p] pada kata <tatap muka> dilafalakn tanpa hambat letup. Begitu juga bunyi [t] yang sebenarnya berupa bunyi hambat letup, pada kata <tempat nenek> dilafalkan tanpa hambat letup.


c.       Pemanduan (pengafrikatan)
Yang dimaksud dengan pemanduan atau pengafrikatan adalah penghilangan letupan pada bunyi hambat letup. Dalam hal ini, setelah hambat letup dilepaskan, lalu bunyi digeserkan secara perlahan-lahan. Jadi, artikulasinya bukan hambat letup, melainkan menjadi hambat geser. Misalnya, bunyi [t] pada kata <hebat> dan <tempat> dilafalkan menjadi [hɛbatˢ] dan [tαmpatˢ].
d.      Harmonisasi vokal
Harmonisasi vokal adalah proses penyamanan vokal pada silabel pertama terbuka dengan vokal pada silabel kedua yang tertutup. Umpamanya pada kata-kata <sate>, <onde-onde>, dan <rante> vokal [e] dilafalkan sebagai bunyi [e]; tetapi pada kata <karet>, <coret>, dan <kontet> diucapkan sebagai bunyi [ɛ]. Namun, pada kata <bebek>, <ketek> , dan <seret> ‘tarik’ dilafalkan sebagai [bɛbɛk], [kɛtɛk], dan [sɛrɛt]. Jadi, meskipun pada silabel terbuka bunyi [e] itu dilafalkan sebagai [ɛ] juga. Hal ini terjadi karena pengaruh atau dari distribusi [e] yang terdapat pada silabel kedua yang tertutup. Pertiwa inilah yang disebut dengan istilah hamonisasi vokal.
e.       Netralisasi
Netralisasi ialah hilangnya kontras antara dua buah fonem yang berbeda. Misalnya, bunyi [b] pada kata <jawab> bisa dilafalkan sebagai bunyi [p] dan juga sebagai [b], sehingga kata <jawab> itu bisa dilafalkan sebagai [jawab] dan [jawap]. Hal ini seperi didalam kajian fonemik disebut arkifonem, yakni dua buah fonem yang kehilangan kontranya. Sebagai arkifonem kedua fonem itu dilambangkan sebagai fonem/B/ (ditulis huruf kapital). Kenapa fonem /B/ bukan /p/? karena apibila diberi proses afikasi dengan sufiks {-an}, fonem /b/nya itu akan muncul kembali jadi {jawab}+{-an}à[ja.wa.ban].

4.      Akibat Proses Morfologi
Perubahan bunyi akibat adanya proses morfologi lazim disebut engan istilah morfofonemik atau morfofonologi. Dalam proses ini dapat terjadi peristiwa (a) pemunculan fonem,(b) pelepasan fonem,(c) peluluhan fonem, (d) pergeseran fonem,(e) perubahan fonem.

a.       Pemunculan fonem
Yang dimaksud dengan pemunculan fonem adalah hadirnya sebuah fonem yang sebelumnya tidak ada akibat dari terjadinya.mi salnya,dalam prefiksasi me-atau pe- akan muncul bunyi nasal yang homorgan dengan fonem pertama dari dasar yang diberi prefiks itu. Contoh :

{me-}    +   {bina}  àmembina
{pem-}   +   {bina} à Pembina

Juga muncul  bunyi pelancar [y] apabila sebuah kata yang berakhir dengan bunyi [i] diberi sufik {-an}; dan akan muncul bunyi pelancar [w] apabila sebuah kata yang berakhir dengan bunyi [u] diberi sufiks{-an}. Contoh :

{hari}   +   {-an}  à [hariʸan]
{satu}   +   {-an} à [satuʷan]

b.      Pelesapan Fonem
Pelesapan fonem adalah peristiwa hilangnya fonem akibat proses morfologis.misalnya,hilangnya bunyi [r] yang ada pada prefiks {ber-} dalam proses prefiksasi pada kata <renang>; hilangnya bunyi [h] pada proses pengimbuhan dengan akhiran {wan} pada kata <sejarah>; dan hilangnya bunyi [k] pada proses pengimbuhan dengan akhiran {nda}.simak contoh berikut !

{ber}   +   {renang}    à [berenang]
{sejarah}   +   {wan}  à [sejarawan]
{anak}   +   {nda}      à [ananda]

Dalam perkembangan bahasa indonesia terakhir ada juga proses pelepasan bunyi yang sama dalam proses komposisi.simak contoh berikut.

{pasar}   +   {raya}     à [pasaraya]
{kereta}   +   {api}     à[keretapi]
{ko}   +   {operasi}     à[koperasi]

c.       Peluluhan Fonem
Peluluhan fonem adalah proses luluhnya sebuah fonem,lalu menyatu pada fonem berikutnya.hal ini terjadi dalam prefiksasi {me} atau {pe} pada kata yang dimulai dengan konsonan tak bersuara, yaitu [s,k,p,dan t].contoh :


{me} + {sikat}            à[mðñikat]
{pe} + {sikat}             à [pðñikat]
{me} + {kirim}           à  [mðKirim]
{pe} + {kirim}            à [pðKirum]
{me} + {pilih}            à  [mðmilih]
{pe} + {pilih}             à  [pðmilih}
{me} + {tulis}                        à  [mðnulis]
{pe} + {tulis}                         à [pðnulis]

d.      Pergeseran Fonem
Pergeseran fonem adalah berubahnya posisi sebuah fonem dari satu silabel ke dalam silabel berikutnya. Umpamanya fonem/t/,fonem /n/,dan fonem /m/ pada kata <lompat >,<makan> akan pindah ke silabel berikutnya bila diberi sufiks {-an}.simak contoh berikut !

{lom.pat} + {an}        à [lëm.pa.tan]
{ma.kan} + {an}         à  [ma.kan.nan.]
{mi.num} + {an}        à  [mi.nu.man]
e.       Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah proses berubahnya sebuah fonem menjadi fonem yang lain kerena menghindari adanya dua bunyi sama. Umpamanya, dalam proses prefikasi {ber} pada kata <ajar> dan prefiksasi {ter} pada kata <anjur>,bunyi [r] pada prefiks {ber} berubah menjadi bunyi [l]. Simak dan perhatikan
{ber} +{ajar} à  [bαlajar]
{ter} + {anjur} à  [tαlanjur]

Perubahan dua bunyi yang sama menjadi dua bunyi yang berbeda dalam konsep lain disebut
Disimilasi.

5.      Akibat dari perkembangan Sejarah
Perubahan bunyi akibat dari perkembangan sejarah ini tidak berkaitan dengan kajian fonologi,melainkan berkenaan dengan pemakaian sejumlah unsur leksikal di dalam masyarakat dan budaya.perubahan yang berkenaan dengan perkembangan sejarah pemakaian bahasa ini,antara lain, adalah proses kontraksi (penyingkatan),metatesis,diftongisasi,monoftongisasi,dan anaptiksis.
a.       Kontraksi (penyingkatan)
Kontraksi atau penyingkatan adalah proses menghilangkan sebuah bunyi atau lebih pada sebuah unsur leksikal.dilihat dari bagian mana dari unsur leksikal itu yang dihilangkan dapat dibedakan atas aferesis,apokop,dan sinkop.
Aferesis adalah proses penghilangan satu fonem atau lebih pada awal kata.misalnya:
Tetapi              à tapi
Pepermin         à permin
Upawasa         à puasa
Hembus           à embus
Hutang                        à utang
Satu                 à atu

Apokop adalah proses penghilangan satu fonem atau lebih pada akhir kata. Misalnya :

Pelangit           à pelangi
Mpulaut           à pulau
President         à presiden

Sinkop adalah proses penghilangan sebuah fonem atau lebih pada tengah kata.misalnya :

Baharu à baru
Sahaya à saya
Utpatti à upeti

b.      Metatesis
Metatesis adalah perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata.dalam bahasa indonesia kata-kata yang mengalami proses metatesis ini tidak banyak. Diantaranya yang ada adalah

Jalur     à  lajur
Royal   à  loyar
Brantas à brantas
Ulur     à  urul
Kelikirà  kerikil
Sapu    à  apus ---- usap

c.       Diftongisasi
Diftongisasi adalah  proses perubahan vokal tunggal menjadi vokal rangkap secara berurutan. Perubahan vokal tunggal ke vokal rangkap ini masih diucapkan dalam satu puncak kenyaringan.jadi, masih dalam satu silabel.misalnya :

Anggota          à anggauta,bunyi [o]             à[au]
Sentosa            à sentausa, bunyi [o]             à [au]
Teladan           à tauladan, bunyi [e]             à[au]
Topan              à taupan, bunyi [o]                à [au]


d.      Monoftongisasi
Monoftongisasi adalah proses perubahan dua buah vokal atau gugus vokal menjadi sebuah vokal.proses ini banyak terjadi dalam bahasa indonesia akibat dari ingin memudahkan ucapan.misalnya :
[ramay] diucapkan [rame]
[kalaw] diucapkan [kalo]
[satay] diucapkan [sate]
[pulaw] diucapkan [pulo]

e.       Anaftiksis
Anaftiksis adalah proses penambahan bunyi vokal di antara dua konsonan dalam sebuah kata; atau penambahan sebuah konsonan pada sebuah kata tertentu.kita mengenal adanya tiga macam anaftiksis,yaitu protesis,epentesis,dan paragog.

Protesis adalah proses penambahan bunyi pada awal kata misalnya :

Mas     à emas
Mpu     à empu
tik        à ketik
lang     à elang

Epentesis adalah proses penambahan bunyi pada tengah kata.misalnya :

Kapak  à  kampak
sajak    à  sanjak
upama  à  umpama
beteng             à benteng

Paradog adalah proses penambahan bunyi pada posisi akhir kata. Misalnya :

hulubala à  hulubalang
ina       à  inang
adi       à  adik


DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009.Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

16 komentar:

  1. assalamulaikum
    nama : jordi nanda heriady
    nim : 1610116310015
    kel 8
    saya ingn brtnya , bagaimana cara proses luluhnya sebuah fonem jika prefikasi {me} atau {pe} pada kata tidak terdengar jelas ? trimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam wr. wb. Kamk akan menjawab pertanyaan dari Jordi Nanda Heriady. seperti kami lampirkan diatas contohnya :
      {me} + {sikat} → [m∂ňikat]. pada kata dasar sikat dan penambahan me huruf s yang ada pada kata sikat akan hilang dan berganti menjadi ∂ň (dilapakan menyikat).

      Hapus
  2. Nama: Annisa Nurshifariani Ahya
    NIM: 1610116320004
    Kelompok 6
    Saya ingin bertanya, fonem /b/ dan fonem /p/ pada posisi akhir kehilangan kontras, sehingga keduanya disebut sebagai anggota dari arkifonem /B/. Nah pertanyaan saya adalah adakah fonem pain yang berstatus seperti fonem /b/ dan fonem /p/ ini? Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami akan menjawab pertanyaan dari Annisa. Ya, ada. Seperti/D/ yang memiliki arkifonem /t/ dan fonem /d/ pada kata [abat] untuk /abad/

      Hapus
  3. Nama : Elva Riyani
    NIM : 1610116320008
    Perwakilan kelompok 2
    Saya ingin bertanya, apakah semua gugus konsonan dapat menduduki posisi awal ? Jelaskan !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami akan menjawab pertanyaan dari Elva.
      Semua gugus konsonan dapat menduduki posisi awal, kecuali gugus /by/ dan /dy/ yang tidak dapat, karena tidak ada kata yang awalan /by/ dan /dy/.

      Hapus
  4. Nama : Nia Amelia
    Nim. : 1610116320024
    Perwakilan dari kelompok 1.
    Assalamualaikum wr. Wb, pada monoftongisasi sudah disebutkan bahwa terjadi penyederhanaan diftong, dari yang awalnya dua menjadi satu, yang ingin saya tanyakan apakah ada penghususan penyederhanaannya dan apakah itu berlaku jika hanya pengucapannya pada individual saja? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaikumsalam wr.wb. kami akan menjawab pertanyaan dari Nia Amelia. Sebenarnya tidak ada pengkhususan dalam Monoftongisasi, terutama dalam bahasa indonesia. hal ini dikarenakan bahasa indonesia memiliki sikap pemudahan dalam pengucapan terhadap bunyi-bunyi diftong.dan apakah hal ini berlaku jika pengucapannya terjadi pada individu saja. jawabannya adalah ya berlaku dikarenakan pengucapan semacam ini sering di lakukan oleh masing-masing per individu dalam percakapan sehari-hari.

      Hapus

  5. Nama saya lia fitriani,perwakilan kelompok 4
    Pada pembahasan Asimilasi regresif,ada istilah apikoalveolar,apa yang di maksud dengan apikoalveolar dan apa hubungannya dengan asimilasi regresif

    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. kami akan menjawab pertanyaan dari Lia Fitriani. Apikoalveolar yaitu konsonan yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai arikulator dan lengkung kaki gaga (alveolum) sebagai titik artikulasi : [s], [z[, [r] dan [l].dan hubungannya dengan asimilasi regresif bisa dilihat pada contoh bunyi [p] adalah bunyi hambat bilabial; bunyi [p] pada silabel pertama kata dilafalkan secara apikoalveolar. Perubahan bunyi hambat bilabial[p] menjadi bunyi hambat apikoalveolar adalah karena pengaruh nasal apikoalveolar [n].

      Hapus

  6. Nama saya lia fitriani,perwakilan kelompok 4
    Pada pembahasan Asimilasi regresif,ada istilah apikoalveolar,apa yang di maksud dengan apikoalveolar dan apa hubungannya dengan asimilasi regresif

    Terima kasih

    BalasHapus
  7. Nama saya Nur Redha Namiya ,NIM :1610116320025
    Tolong berikan salah satu contoh fonem konsonan dalam bahasa banjar pada semua posisi.

    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami akan menjawab pertanyaan dari Namiya. Salah satu contoh fonem konsonan dalam bahasa banjar pada semua posisi , yaitu pada fonem /p/. Seperti pada kata pander, bapala, dan kadap.

      Hapus
  8. Saya thata santica dari kelompok 3 .nim 1610116320033 . saya ingin bertanya tolong berikan salah satu contoh gugus konsonan dalam bahasa jawa . Trimakasih.

    BalasHapus
  9. kami akan menjawab pertanyaan dari Thata. salah satu contoh gugus konsonan dalam bahasa Jawa, yaiti pada pada gugus konsonan [bl] pada kata blarak, bluluk, blorok.

    BalasHapus
  10. Borgata Hotel Casino & Spa - MapYRO
    Find 이천 출장마사지 parking costs, opening 파주 출장샵 hours and a parking map 제주 출장샵 of Borgata Hotel Casino & Spa 3318 South Borgata Blvd, Atlantic City, NJ, 목포 출장안마 at MapYRO 경주 출장안마

    BalasHapus