GRAFEM
FONEM BAHASA INDONESIA
FONEM,
ALOFON, DAN EJAAN
Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fonologi Bahasa Indonesia
Dosen
Pembimbing: Noor Cahaya, M.Pd.
Disusun
Oleh Kelompok VIII:
1.
Bayu Krisna Aji (1610116310005)
2.
Fermansyah (1610116310010)
3.
Jordi Nanda Heriady (1610116310015)
3.
Lusi Anggita Aliani (1610116320018)
4.
Siti Maimunah (A1B114244)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017
GRAFEM FONEM BAHASA INDONESIA
Pada bab (3) telah dikemukakan adanya
tiga macam trankripsi, yaitu transkripsi fonetik, transkripsi fonemik, dan
transkripsi ortografik atau grafemik. Dalam transkripsi fonetik bunyi-bunyi
bahasa serta ciri-ciri suprasegmentalnya dilukiskan secara akurat sesuai persis
dengan bunyi dan ciri prosodi yang didengar; dalam transkripsi fonemik
bunyi-bunyi dituliskan sesuai dengan satuan-satuan fonemisnya. Jadi, mungkin
kurang akurat. Sedangkan dalam transkripsi ortografis bunyi-bunyi bahasa
dituliskan sesuai dengan konvensi grafemis yang disepakati. Artinya, sesuai
dengan sistem dan aturan ejaan yang berlaku. Dalam hal bahasa Indonesia tentu
menurut aturan yang disepakati dalam pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan (EYD).
Menurut pedoman EYD grafem-grafem untuk
fonem-fonem bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
Grafem Fonem Vokal
Fonem
|
Alofon
|
Grafem
|
Contoh
|
||
Awal
|
Tengah
|
Akhir
|
|||
/i/
|
[i]
[I]
|
<i>
|
i.tu
|
a.pik
|
a.pi
|
/e/
|
[e]
[Ɛ]
|
<e>
|
e.kor
|
mo.nyet
|
sa.te
|
/∂/
|
[∂]
|
<e>
|
e.mas
|
ke.ra
|
ka.de
|
/u/
|
[u]
[U]
|
<u>
|
u.ji
|
da.pur
|
la.gu
|
/o/
|
[o]
[
|
<o>
|
o.bat
|
e.kor
|
bak.so
|
/a/
|
/a/
|
<a>
|
a.pi
|
pi.sah
|
lu.pa
|
Grafem Fonem Diftong
Fonem
|
Grafem
|
Contoh
|
||
Awal
|
Tengah
|
Akhir
|
||
/aw/
|
<au>
|
au.la
|
-
|
pu.lau
|
/ay/
|
<ai>
|
-
|
-
|
lan.dai
|
/oy/
|
<oi>
|
-
|
-
|
se.koi
|
/ey/
|
<ei>
|
-
|
-
|
sur.vei
|
Grafem
Fonem Konsonan
Fonem
|
Alofon
|
Grafem
|
Contoh
|
||
Awal
|
Tengah
|
Akhir
|
|||
/b/
|
[b]
[p]
|
<b>
|
ba.ku
|
re.but
|
ja.wab
|
/p/
|
[p]
|
<p>
|
pa.ku
|
Ba.pak
|
si.kap
|
/m/
|
[m]
|
<m>
|
mu.ka
|
a.man
|
da.lam
|
/w/
|
[w]
|
<w>
<u>
|
wa.ris
-
|
a.wan
-
|
-
li.mau
|
/f/
|
[f]
|
<f>
<v>
|
fa.sih
vi.ta.min
|
si.fat
av.tur
|
ak.tif
-
|
/d/
|
[d]
|
<d>
|
da.ta
|
a.dat
|
a.bad
|
/t/
|
[t]
|
<t>
|
ta.ri
|
ba.tik
|
de.kat
|
/n/
|
[n]
|
<n>
|
na.si
|
ta.nam
|
ja.lan
|
/l/
|
[l]
|
<l>
|
la.ri
|
ma.lam
|
ba.tal
|
/r/
|
[r]
|
<r>
|
ra.sa
|
ke.ras
|
be.nar
|
/z/
|
[z]
|
<z>
|
za.kat
|
ra.zia
|
a.ziz
|
/s/
|
[s]
|
<s>
|
sa.kit
|
a.sap
|
ba.las
|
/f/
|
[f]
|
<sy>
|
sya.hid
|
a.syar
|
a.rasy
|
/ñ/
|
[ñ]
|
<ny>
|
nya.la
|
ba.nyak
|
-
|
/j/
|
[j]
|
<j>
|
ja.la
|
a.jal
|
-
|
/c/
|
[c]
|
<c>
|
ca.ri
|
a.car
|
-
|
/y/
|
[y]
|
<y>
|
ya.tim
|
a.yun
|
-
la.lai
|
/g/
|
[g]
|
<g>
|
gi.la
|
la.gu
|
-
|
[k]
|
<k>
|
-
|
-
|
gu.dek
|
|
/k/
|
[k]
|
<k>
|
ki.ra
|
a.kal
|
ja.rak
|
/ŋ/
|
[ŋ]
|
<ng>
|
nga.nga
|
a.ngin
|
a.bang
|
/x/
|
[x]
|
<kh>
|
khas
|
a.khir
|
ta.rikh
|
/h/
|
[h]
|
<h>
|
ha.bis
|
ba.hu
|
su.dah
|
/?/
|
[?]
|
<k>
<Ὁ>
|
-
-
|
nik.mat
sa.at
|
ba.pak
-
|
Penjelasan
:
1.
Grafem <e> dignakan untuk
melambangkan dua buah fonem, yaitu fonem vokal /e/ dan /∂/.
2.
Fonem diftong /aw/ dilambangkan dengan
gabungan grafem <au> yang dapat menduduki posisi awal dan akhir kata; fonem diftong
/ay/ dilambangkan dengan gabungan grafem <oi> , dan fonem diftong /ey/
dilambangkan dengan gabungan grafem <ei>. Ketiga diftong terakhir hanya
menduduki posisi akhir kata.
3.
Grafem <p> selain digunakan untuk
melambbangkan fonem /p/, juga dipakai untuk melambangkan fonem /b/ sebagai koda
dari sebuah silabel.
4.
Grafem <t> selain digunakan untuk
melambangkan fonem /t/ juga digunakan untuk melambangkan fonem /d/ sebagai koda
dari sebuah silabel.
5.
Grafem <v> digunakan juga untuk
melambangkan fonem /f/ karena menyesuaikan dengan ejaan asli unsur leksikal
yang diserap.
6.
Grafem <k> selain untuk melambangkan
fonem /k/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /g/ yang berposisi sebagai
koda dalam satu silabel.
7.
Grafem <n> selain digunakan untuk
melambangkan fonem /n/ juga digunakan untuk melambangkan fonem /ἦ/ pada posisi
di muka fonem konsonan /j/ dan /c/.
8.
Gabungan grafem masih digunakan, yaitu
gabungan grafem <ng> untuk melambangkan fonem /ŋ/,
gabungan grafem <ny> untuk melambangkan fonem /ñ/, dan gabungan grafem
<kh> untuk melambangkan fonem /x/.
9.
Fonem hambat glotal /?/ dilambangkan
dengan grafem <k> ; tetapi hambatan glotal /?/ yang bukan fonem tidak
dilambangkan.
10.
Bunyi luncuran atau glider [w] dan [y]
tidak dilambangkan dengan grafem apa-apa.
Lambang
Unsur Suprasigmental
Unsur suprasigmental yang berupa
tekanan, nada, durasi, dan jeda karena tidak bersifat fonemis tidak diberi
lambang apa-apa; tetapi unsur intonasi yang dapat mengubah makna kalimat di
beri lambang berupa tanda baca, yaitu:
1.
Untuk kalimat deklaratif diberi tanda baca
titik (.).
2.
Untuk kalimat interogatif diberi tanda
baca tanda tanya (?).
3.
Untuk kalimat imperatif diberi tanda baca
tanda seru (!).
4.
Untuk kalimat interjektif diberi tanda
baca tanda seru (!).
5.
Untuk menandai bagian-bagian kalimat
digunakan tanda koma (,) dan tanda titik koma (;).
FONEM, ALOFON, DAN EJAAN
Dalam bab-bab terdahulu sudah kita bicarakan apa itu
fonem dan apa itu alofon. Telah juga kita menggrafemkan fonem-fonem bahasa
Indonesia. Kina akan kita bicarakan bagaimana hubungannya dengan ejaan yang
berlaku sekarang yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan
(selanjutnya disebut singkatannya EYD).
Pada dasarnya ejaan tidak lain dari
konvensi grafis, yakni “perjanjian” di antara para penutur suatu bahasa untuk
menuliskan bahasanya. Artinya, bunyi-bunyi bahasa yang seharusnya diujarkan,
diganti dengan lambang-lambang grafis,yang disebut huruf, dan dilengkapi dengan
tanda bacanya.
Bahasa Indonesia sama dengan kebanyakan
bahasa-bahasa di dunia, menggunakan huruf latin atau abjad latin untuk
menuliskan bahasanya. Tentunya dengan sistem dan aturan-aturan tersendiri, yang
tidak sama dengan sistem aturan-aturan bahasa lain, seperti bahasa inggris,
bahasa belanda, atau bahasa lain, meskipun sama-sama menggunakan abjad latin
itu.
Seperti kita ketahui abjad Latin terdiri
dari 26 buah huruf; padahal fonem-fonem bahasa Indonesia berjumlah lebih dari
26 buah. Belum lagi dengan alofon-alofonnya yang jumlahnya cukup banyak. Oleh
karena itu, ada huruf yang digunakan untuk melambangkan lebih dari satu fonem,
dan ada juga digunakan gabungan dua huruf untuk melambangkan sebuah fonem.
Padahal katanya, ejaan yang ideal adalah ejaan yang hanya menggunakan sebuah
huruf untuk sebuah fonem; atau sebuah fonem dilambangkan dengan sebuah huruf.
Mari kita bicarakan masalah ini lebih lanjut.
Huruf vokal dalam abjad Latin hanya ada
5 buah, padahal fonem vokal bahasa Indonesia ada 6 buah. Maka ada sebuah huruf,
yaitu huruf <e> yang digunakan untuk melambangkan dua buah fonem, yaitu
fonem /e/ dan fonem /∂/.
Masalah lebih jauh fonem /e/ itu mempunyai dua buah alofon yaitu alofon /e/ dan
alofon /ɛ/. Maka bisa dikatakan huruf <e> harus digunakan untuk
melambangkan tiga buah alofon, atau tiga buah bunyi. Misalnya pada kata
<kera> huruf <e> melambangkan bunyi
/∂/, pada kata
<sate> huruf <e> melambangkan bunyi [e], dan pada kata <monyet
> hurug <e> melambangkan bunyi /ɛ/.
Masalah
yang sama muncul dalam penggunaan huruf
<k> dimana bunyi ini digunakan untuk melambangkan tiga buah bunyi,
yaitu bunyi [k], bunyi [Ɂ], dan bunyi [ǥ]. Pada awal silabel atau suku kata huruf
<k> selalu melambangkan bunyi [k] seperti terdapat pada kata
<kamu> , <ikan>, dan <kakap>. Namun pada akhir silabel
sebagai koda bisa melambangkan ketiga bunyi itu. Pada kata <botak>
melambangkan bunyi [k], pada kata <bapak> nelambangkan bunyi [Ɂ], dan pada kata <gubuk> melambanghkan bunyi
[g]. Mereka yang tidak tahu bagaimana melafalkan huruf <k> yang terdapat
pada posisi koda pada sebuah silabel akan mengucapkan <bapak> sebagai
[bapak], dan kata <gubuk> sebagai [gubuk]. Memang hingga saat ini lafal
bahasa Indonesia yang baku belum pernah ditetapkan. Yang ada Cuma consensus
bahwa lafal yang benar adalah lafal yang tidak menampakan ciri-ciri lafal bahsa
daerah. Bagi orang yang bahasa pertamanya bukan bahasa Indonesia, melainkan
bahasa daerah tentu sukar melepaskan diri dari pengaruh lafal bahasa daerahnya,
kecuali dengan latihan yang intensif dan kemauan yang kuat.
Huruf <b> yang menempati posisi koda pada sebuah
silabel sering di ganti dengan huruf <P>
karena memang lafalnya berbunyi [p]. misalnya pada kata <sebab>
dan <jawab> sering dieja menjadi <sebap> dan <jawab> .
masalah yang sama sering terjadi pada huruf <d> yang berposisi sebagai koda pada sebuah silabel.
Pada posisi itu huruf <d> sering dig
anti dengan huruf <t> , karena lafalnya memang berbunyi <t>.
misalnya pada kata <abad> dan <ahad> ditulis menjadi <abat>
dan <ahat>.
Bunyi
pelancar [w] dan [y] meskipun dilafalkan, tetapi tidak dituliskan. Jadi, kata
yang berbunyi [duwa] dan [diya] ditulis menjadi
<dua> dan <dia>. Begitu juga bunyi pelancar [w] dan [y] pada kata
[uwan] dan [iyuran] tidak dituliskan. Namun, dalam bentuk
lento huruf [w] dan [y] dituliskan <wang> dan <yuran>.
Penghilangtan
gabungan huruf <tj> dan <dj> yang melambangkan bunyi [c] dan [j]
yang ada dalam ejaan lama (ejaan Suwandi) pada dasarnya dimaksudkan untuk
membuat ejaan bahasa Indonesia menjadi ejaan yang ideal, yakni melaksanakan
prinsip satu fonem satu huruf. Namun, prinsip itu tidak dapat dilaksanakan
seutuhnya karena untuk fonem /ń/, /ῃ/ dan fonem /x/, tidak bisa di hindari
untuk tidak menggunakan gabungan huruf <ny>, <ng>, dan <kh>.
Hal ini dilakukan adalah karena menggunakan gabungan huruf lebih mudah dan
lebih ekonomis daripada harus memodifikasi bentuk huruf yang ada, seperti yang
dilakukan orang dalam ejaan bahasa Rusia.
Kedua
puluh enam huruf dalam alphabet latin itu memang digunakan dalam ejaan bahasa
dengan cukup, kecuali huruf <Q>
yang hanya digunakan utuk menulis kata <Quran> atau <Alquran> , dan
huruf <x> yang hanyadigunakan untuk nama atau istilah tertentu,
<Xerox>. Pada tempat lain huruf <x> ini diganti dengan gabungan
huruf <ks> , tentunya dalam penyerapan kata asing. Misalnya, kata
<ekspress> yang menjadi <ekspres> dan kata <export> yang
menjadi <eksport>.
Akhirnya
bisa dikatakan, sebagai ejaan otografis, EYD sudah jauh lebih baik bila
disbanding dengan sistem ejaan bahasa Inggris. Buktinya, kalau setiap entri
dalam kamus bahasa Inggris harus dilengkapi dengan tulisan fonetiknya, maka
dalam kamus bahasa Indonesia tidak perlu. Satu-satunya tanda diakritik yang
digunakan adalah untuk membedakan bunyi [ð] dan bunyi [e], di mana untuk bunyi
[e] grafem <e> diberi tanda aksen ( ̷ ), dan jumlahnya pun tidak banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009.Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama saya Alya Dhania Riadyni, NIM : 1610116320003. Saya dari kelompok 5.
BalasHapusPada artikel disebutkan, ejaan yang ideal adalah ejaan yang hanya menggunakan sebuah huruf untuk sebuah fonem. Dapatkah anda memberikan contoh ejaan yang ideal? Dan adakah di dunia ini bahasa yang memiliki ejaan ideal? Terimakasih.
Terimakasih kepada penanya.
HapusDalam ejaan bahasa Indonesia, yakni tentang prinsip satu fonem satu huruf (ejaan ideal). Hal ini masih belum bisa dilaksanakan sepenuhnya, karena selain ejaan yang di sempurnakan 26 huruf didalam abjadnya, ada beberapa huruf seperti /f/,/q/,/v/,/x/,dan /z/. Merupakan huruf serapan, huruf tersebut hanya bisa di pakai secara resmi dan tidak bersifat umum.
contohnya :
-taxi yang ditulis dengan taksi
-quadrat yang di tulis dengan kuadrat.
dan juga dalam ejaan bahasa Indonesia terdapat penggabungan huruf seperti ng , ny , kh. hal ini lah yang mengakibatkan ejaan bahasa Indonesia masih belum bisa di katakan ejaan ideal.
adapun contoh untuk ejaan bahasa Indonesia yang menggunakan satu fonem satu hurup (ejaan ideal) seperti :
-akar ditulis dengan akar
-rumah di tulis dengan rumah
jadi menurut saya di setiap negara dengan bahasanya masing-masing mempunyai prinsip satu fonem satu huruf (ejaan ideal) , akantetapi masih belum bisa digunakan seutuhnya.
Siap terimakasih
HapusSaya Sandra Sucipta Rimba
BalasHapusNim 1610116320029 dari Kelompok 6. Saya ingin bertanya, apakah ada dalam bahasa Banjar Grafem fonem diftong dan Grafem fonem konsonan, jika ada jelaskan bagaimana Grafem nya dan berikan contohnya.
Terimakasih
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusAda, grafem fonem bahasa Banjar. Misalnya, pada grafem < ai > contohnya seperti kata sampai, dan grafem fonem bahasa Banjar. Misalnya, pada grafem < ny > contohnya seperti kata nyaman.
Hapusmenanggapi jawaban dari fermansyah, kata sampai dan kata nyaman itu bisa saja menjadi bahasa indonesia, saya ingin bahasa banjar yang benar-benar bahasa daerah banjar, jika bisa saya meminta setiap grafem fonem diftong masing-masing ada contohnya, jika ada. Terimakasih
HapusSaya hanya bisa memberikan contoh pada grafem < ai > contohnya pada kata mandai, gulai, gulali, galai dan lincai.
HapusTerima kasih
Nama saya Herlina Sri Damayanti
BalasHapusNim 1610116320012 dari kelompok 4
Saya ingin bertanya, apa perbedaan fonem dengan grafem tolong jelaskan
Terima kasih
Perbedaan antara fonem dan huruf (grafem) : fonem adalah satuan bunyi bahasa yang terkecil yang dapat membedakan arti, sedangkan huruf (grafem) adalah gambaran dari bunyi (fonem), dengan kata lain huruf adalah lambang fonem.
HapusNama saya Rizki Tri Yuniar
BalasHapusNim 1610116320028. Dari kelompok 3. saya ingin bertanya, sebutkan contoh lain dari kata yang melambanghkan bunyi [g], Jika mengucapkannya, seperti contoh diatas kata . Terima kasih
Contoh diatas gudeg, tulisannya gudeg dibaca gudek. Contoh lainnya seperi kata gubug, tulisannya gubug tapi dibaca gubuk.
HapusTerima kasih.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama saya Hafizahtunnisa Amsyah
BalasHapusNim 1610116320011 saya dari kelompok 1 saya ingin bertanya apa keterkaitan fon fonem dan alofon tolong berikan contohnya. Terima kasih
Saya Lusi Anggita Aliani, NIM :1610116320018
HapusSaya akan menjawab pertanyaan dari Hafizahtunnisa.
jadi kerkaitan antara fon , fonem dan alofon
Alofon adalah variasi dari sebuah fonem, bunyi yang merupakan proses realisasi atau penjabaran dari sebuah fonem. Sebuah fonem merupakan konsep abstrak karena kehadiran fonem dalam ujaran diwakili oleh alofon yang sifatnya nyata, dapat didengar dan diamati secara empiris. Selain itu alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis atau kemiripan bunyi. Semisal dalam bahasa Indonesia, fonem /i/ setidaknya memiliki empat fonem yaitu perbedaan pengucapan /i/ pada kata cita, tarik, ingkar, dan kali.
Nama : Nurina Amaliya
BalasHapusNim : 1610116320026 saya dari kelompok 2
Saya ingin bertanya berikan contoh fonem, alofon dan ejaan. Beserta penjelasannya.
Terima kasih
- Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil di dalam kata yang berfungsi membedakan bentuk dan makna. Fonem ditulis di antara tanda /…/.
HapusContoh: pada pasangan kata bahasa Banjar sangkal dan cangkal. Kedua kata itu mempunyai makna yang berbeda karena adanya perbedaan bunyi pada awal kata, yaitu bunyi [s] dan [c]. Kata pertama berarti ‘amarah’, sedangkan kata kedua berarti ‘rajin’. Kedua bunyi itu merupakan fonem yang berbeda dan masin-masing ditulis sebagai /s/ dan /c/.
- Alofon adalah varian atau realisasi suatu fonem yang berbeda-beda menurut lingkungan distribusinya.
Contoh: fonem /i/ dan /u/ di dalam bahasa Indonesia dan Banjar yang realisasi alofonnya dapat berbeda bergantung pada lingkungan distribusinya. Alofon /i/ dapat berwujud [i, I, e], sedangkan /u/ dapat berwujud [u, U, o].
Ejaan ialah keseluruhan sistem dan peraturan penulisan bunyi bahasa untuk mencapai keseragaman. Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan yang dihasilkan dari penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.
Contoh : Soenji, sunji, menjadi sunyi
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusnama saya ade ferihan nim 1610116310002
BalasHapusmengapa alofon dalam bahasa indonesia berbeda jumalah dengan abjad yang ada di bahasa indonesia
Terima Kasih kepada Ade ferihan yang sudah bertanya.
HapusAbjad dalam bahasa indonesia sesuai ketentuan berjumlah 26 buah huruf, sedangkan pada alofon berjumlah lebih. Karena alofon adalah bentuk variasai dimana mewakili setiap huruf pada fonemnya. contohnya
fonem /i/ setidaknya memiliki empat fonem yaitu perbedaan pengucapan /i/ pada kata cita, tarik, ingkar, dan kali.
Nama : Muhammad Setiawan Dini
BalasHapusNIM : 1610116310022
perwakilan dari kelompok 7
saya ingin bertanya,dimateri Fonem,Alofon,dan Ejaan terdapat kalimat yakni “perjanjian” di antara para penutur suatu bahasa untuk menuliskan bahasanya. tolong jelaskan maksud dari kalimat tersebut. terima kasih
terimakasih kepada penanya
HapusMaksud dari "perjanjian" para penutur bahasa disini adalah pada muasal ejaan mengunakan bentuk konvesi grafis , kemudian di ubah menjadi lambang-lambang yaitu berbentuk abjad huruf , dilengkapi dengan tanda bacanya. Karna bahsa Indonesia sama dengan bahasa-bahasa di dunia menggunakan huruf latin. Jadi hal ini di tuturkan agar mudah untuk di dipelajari dan dipahami.
Nama : Devi Lestari
BalasHapusNim : 1610116320006
Perwakilan dari kelompok 6
Dari pernyataan diatas kelompok kalian mengatakan bahwa ejaan otografis, EYD sudah jauh lebih baik bila dibanding dengan sistem ejaan bahasa Inggris. Buktinya, kalau setiap entri dalam kamus bahasa Inggris harus dilengkapi dengan tulisan fonetiknya, maka dalam kamus bahasa Indonesia tidak perlu. Satu-satunya tanda diakritik yang digunakan adalah untuk membedakan bunyi [ð] dan bunyi [e], di mana untuk bunyi [e] grafem diberi tanda aksen ( ̷ ), dan jumlahnya pun tidak banyak. Yang mau saya tanyakan disini adalah adakah bukti dan tanda-tanda lain yang dapat membuktikan serta memperjelas pernyataan bahwa EYD sudah jauh lebih baik dibanding dengan sistem ejaan bahasa Inggris tolong berikan contoh perbandingan tersebut! Terima kasih