Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fonologi
Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing : Noor Cahaya, M.Pd
Disusun Oleh Kelompok VI
Annisa
Nurshifariani Ahya (1610116320004)
Sandra Sucipta Rimba (1610116320029)
Oktavia Permita Sari (1610116320027)
Devi Lestari (1610116320006)
Park Daeho (10161687
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Realisasi Fonem Bahasa Indonesia
Realisasi fonem sebenarnya sama dengan bagaimana
fonem itu dilafalkan. Hanya masalahnya kalau orang Indonesia melafalkan
fonem-fonem bahasa Indonesia sangat banyak sekali variasinya. Hal ini berkenaan
bahwa bangsa indonesia terdiri dari berbagai etnis dan berbagai bahasa daerah,
sehingga ketika melafalkan fonem-fonem bahasa Indonesia pasti dipengaruhi oleh
sistem fonologi bahasa daerahnya.
Di sini dalam kajian fonemik, kita mencoba
merumuskan bagaimana fonem-fonem bahasa Indonesia harus direalisasikan, dalam
arti harus dilafalkan atau diucapkan.
Realisasi Fonem Vokal
Secara
umum realisasi fonem vokal bahasa indonesia adalah sebagai berikut.
1.
Fonem
/i/
Fonem
ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama,
direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada silabel terbuka atau
silabel tak berkoda seperti pada kata <kini> [kini], <lidi> [lidi],
dan <sapi> [sapi]. Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [I] apabila berada pada silabel tertutup atau
silabel berkoda seperti pada kata <batik> [batIk], <ambil> [ambIl],
dan <lirik> [lirIk].
2.
Fonem
/e/
Fonem /e/ mempunyai dua macam realisasi,
yaitu:
Pertama,
direalisasikan sebagai bunyi [e] apabila berada pada silabel terbuka, seperti
pada kata <sate> [sate], <pete> [p∂te], dan <berabe>
[b∂rabe].
Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [ε] apabila berada pada silabel tertutup, seperti
pada kata <monyet> [m ﬤñεt], <karet>
[karεt], dan <ember> [εmbεr].
3.
Fonem
/a/
Secara umum fonem /a/ direalisasikan
sebagai bunyi [a], baik pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata
seperti pada kata <apa>, <padam>, dan <dua>. Secara fonetis,
akibat pengaruh lingkungan, sebenarnya fonem /a/ pada silabel pertama kata apa, pada silabel kedua kata padam, dan silabel ketiga pada kata dua adalah tidak sama. Namun, ketidaksamaan
itu tidak dapat dipolakan seperti pada pengucapan fonem /i/ dan /e/.
4.
Fonem /ә/
Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [∂] seperti
pada kata <kera> [k∂ra], <erat> [∂rat], dan <Maret> [mar∂t].
5.
Fonem /u/
Fonem /u/ mempunyai dua macam realisasi,
yaitu:
Pertama, dilafalkan
sebagai bunyi [u] apabila berada pada silabel terbuka seperti pada kata
<susu> [susu], <ibu> [ibu], dan <tunggu> [tuƞgu].
Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [U] apabila berada pada silabel tertutup seperti pada
kata <kasur> [kasUr], <libur> [libUr] dan <tangguh> [taƞguh].
6.
Fonem /o/
Fonem /o/ mempunyai dua macam realisasi,
yaitu:
Pertama,
direalisasikan sebagai bunyi [o] apabila berada pada silabel terbuka, seperti
pada kata <toko> [toko], <bakso> [ba?so] dan <oto> [oto].
Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [ﬤ] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata
<tokoh> [t ﬤk
ﬤh]
Realisasi fonem konsonan
1.
Fonem /b/
Fonem /o/ mempunyai dua macam realisasi,
yaitu:
Pertama,
direalisasikan sebagai bunyi [b] apabila berada pada awal silabel, baik silabel
terbuka maupun silabel tertutup yang bukan ditutup oleh fonem konsonan /b/.
Misalnya pada kata <bagus> [bagus], <kabur> [kabur] dan
<bantal> [bantal]. Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [b] atau [p] apabila berposisi sebagai koda pada
sebuah silabel. Misalnya, pada kata:
<sebab> diucapkan [s∂bab] atau [s∂bap]
<jawab> diucapkan [jawab] atau [jawap]
<sabtu> diucapkan [sabtu] atau [saptu]
2.
Fonem /p/
Direalisasikan sebagai bunyi [p] baik sebagai onset
pada sebuah silabel maupun sebagai koda. Misalnya <papan> [papan], <pukul> [pukul], <sampul>
[sampul]. Namun, perlu dicatat fonem /p/ pada awal kata bila diberi prefiks me-
atau prefiks pe- akan luluh atau disenyawakan dengan bunyi nasal yang homorgan
(sealat ucap). Misalnya:
Me + pilih à [memilih]
Pe + pilih à [pemilih]
Me + potong à [memotong]
Pe + potong à [pemotong]
3.
Fonem /n/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi
[n], seperti pada kata <nanas> [nanas], <pinang> [pinaŋ], dan
<iman> [iman].
4.
Fonem /w/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi
[w], seperti pada kata <waris> [waris], <awan> [awan],
<bawal> [bawal] dan <wow> [wow].
5.
Fonem /f/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [f]
seperti pada kata <kafe> [kafe] dan <aktif> [aktif]. Kata serapan
asing yang secara ortografi ditulis dengan huruf <v>, seperti kata
<vitamin>, <variasi> dan <rival> juga dilafalkan sebagai
bunyi [f]. Jadi, lafal ketiga kata itu adalah [fitamin], [fariasi] dan [rifal].
6.
Fonem /d/
Fonem /d/ mempunyai dua macam realisasi,
yaitu:
Pertama, direalisasikan
sebagai bunyi [d] apabila berposisi sebagai sebuah onset pada sebuah silabel.
Misalnya pada kata <daging> [dagiƞ] <hadis> [hadis] dan
<dada> [dada] dan <hadis>.
Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [t] dan [d] bila berposisi sebagai sebuah koda
pada sebuah silabel, yaitu:
<abad> dilafalkan [abat] atau [abad]
<jilid> dilafalkan [jilit] atau [jilid]
<ahad> dilafalkan [ahat] atau [ahad]
7.
Fonem /t/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi
[t], seperti pada kata <titi> [titi], <latih> [latih], dan
<rebut> [rebut]. Namun, perlu dicatat fonem /t/ pada posisi awal kata
bila diberi prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh atau disenyawakan dengan
bunyi nasal yang homorgan (sealat ucap) dengan fonem /t/ itu misalnya:
Me + tari à [menari]
Pe + tari à [penari]
Me + tumbuk à [menumbuk]
Pe + tumbuk à [penumbuk]
8.
Fonem /n/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi
[n], baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya
<nama> [nama], <panas> [panas], dan <asin> [asin].
9.
Fonem
/I/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[l] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel, seperti pada
kata <lari> [lari], <halal> [halal], dan <batal> [batal].
10. Fonem /r/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[r] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya
<ribut> [ribut], <karet> [karet], dan <kabar> [kabar].
11. Fonem /z/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[z] bila sebagai onset pada sebuah silabel. Misalnya <zaman> [zaman],
<zakat> [zakat], dan <zamzam> [zamzam]. Bila sebagai koda
dilafalkan sebagai bunyi [z] atau bunyi [s]. Misalnya pada kata <aziz>
dilafalkan [aziz] atau [azis].
12. Fonem /s/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[s] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada
kata <sakit> [sakit],
<pesan> [pesan], dan <kamus> [kamus].
13. Fonem /l/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[l ] baik sebagai onset maupun sebagai koda. Misalnya <syarat> [l arat], <syahbandar>
[l ahbandar], dan <arasy> [ara l ].
14. Fonem /ñ/
Fonem nasal ini direalisasikan sebagai
bunyi [ñ] misalnya
pada kata <nyanyi> [ña ñi], <banyak> [bañak], dan <nyonya> [ñ
É ña]. Fonem
/ñ/ tidak pernah berposisi sebagai koda.
15. Fonem /j/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [j]
seperti pada kata <jalan> [jalan], <jujur> [jujur], dan
<ajal> [ajal]. Fonem /j/ tidak pernah berposisi sebagai koda.
16. Fonem /c/
Secara umum fonem /c/ ini direalisasikan sebagai bunyi
[c] seperti pada kata <cari> [cari], <acar> [acar], dan
<cacar> [cacar]. Fonem ini tidak pernah berposisi sebagai koda.
17. Fonem /y/
Fonem ini selalu direalisasikan sebagai bunyi [y]
seperti pada kata <yatim> [yatim], <ayun> [ayun], dan
<yayasan> [yayasan]. Fonem ini tidak pernah berposisi sebagai koda.
18. Fonem /g/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu: \
Pertama,
direalisasikan sebagai bunyi [g] apabila berposisi sebagai onset. Misalnya pada
kata <gajah> [gajah], <agar>
[agar], dan <gagal> [gagal].
Kedua,
Direalisasikan sebagai bunyi [g] atau [k] apabila berposisi sebagai koda
misalnya:
<gudeg> dilafalkan [gudeg] atau [gudek]
<grobag> dilafalkan [grÉbag] atau [grÉbak]
<goblog> dilafalkan
[gÉblÉg] atau [gÉblÉk]
19. Fonem /k/
Fonem ini memiliki tiga macam realisasi,
yaitu:
Pertama,
direalisasikan sebagai bunyi [k] apabila berposisi sebagai onset pada sebuah
silabel. Misalnya pada kata <kabar> [kabar], <bakar> [bakar], dan
<akur> [akur].
Kedua,
direalisasikan sebagai bunyi [?] apabila berposisi sebagai koda pada sebuah
silabel seperti: <bapak> [bapa?], <nikmat> [ni?mat], dan
<rakyat> [ra?yat].
Ketiga, direalisasikan sebagai bunyi [g]
bila berposisi sebagai koda misalnya:
<gudeg> [gudek], <gubuk>
[gubug], dan <gebuk> [g¶bug].
20. Fonem /h/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [h] baik berposisi
sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada kata
<nganga> [haha],
<angin> [ahin],
dan <bingung> [bihuh].
21. Fonem /x/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[x] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
Misalnya <khas> [xas], <akhir> [axir], dan <tarikh> [tarix].
22. Fonem /h/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[h] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
Misalnya pada kata <hari> [hari], <sehat> [sehat], dan <lebih>
[l¶bih].
23. Fonem /?/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi
[?] yang muncul pada:
Pertama,
silabel pertama dari sebuah kata yang berupa fonem vokal. Misalnya pada kata
<akan> [?akan], <isap> [?isap], dan <udang> [?udah].
Kedua,
di antara dua buah silabel, dimana naklus silabel pertama dan nuklus silabel
kedua berupa fonem vokal yang sama. Misalnya pada kata
<taat> dilafalkan [ta?at]
<aan> (nama orang) dilafalkan [a?an]
<iin> (nama orang) dilafalkan [i?in]
<uud> (nama orang) dilafalkan [u?ud]
<bloon> (nama orang) dilafalkan [blÉ?Én]
Gugus
Fonem dan Deret Fonem
Yang dimaksud dengan gugus fonem adalah dua buah
fonem yang berbeda tetapi berada dalam sebuah silabel atau suku kata. Sedangkan
yang dimaksud deret fonem adalah dau buah fonem yang berbeda, berada dalam
silabel berbeda, meskipun letaknya berdampingan.
Gugus dan Deret Vokal
Gugus vokal adalah sama dengan diftong.
Sejauh ini diftong tercatat ada dalam bahasa Indonesia adalah diftong atau
gugus vokal <ai>, <au>, <oi>, dan <ei>, seperti
terdapat pada kata-kata:
Pulau
Santai
Sekoi
Survei
Sedangkan
deret vokal yang tercatat ada sampai saat ini adalah:
aa seperti pada kata saat dan taat
au seperti pada kata laut dan daun
ai seperti pada kata kain dan kait
ao seperti pada kata kaos dan laos
ua seperti pada kata luar dan kuat
ue seperti pada kata kue
au seperti pada kata laut dan daun
ai seperti pada kata kain dan kait
ao seperti pada kata kaos dan laos
ua seperti pada kata luar dan kuat
ue seperti pada kata kue
ui seperti pada kata puing dan suit
ia seperti pada kata siar dan kiat
iu seperti pada kata tiup dan liur
io seperti pada kata kiong dan biola
oa seperti pada kata loak dan soak
oi seperti pada kata koin dan poin
eo seperti pada kata beo dan Leo
Catatan:
Deret
vokal ii, uu, dan oo hanya ada pada
beberapa nama orang seperti iin, uun, dan
oon.
Gugus
konsonan disebut juga klaster yang
ada dalam bahasa Indonesia adalah:
br seperti
pada kata brahma dan labrak
bl seperti pada kata blangko dan semblih
by seperti pada kata obyekti
dr seperti pada kata drama dan drakula
dw seperti pada kata dwidarma
dy seperti pada kata madya
fl seperti pada kata flannel dan inflasi
fr seperti pada kata frater dan infra
gl seperti pada kata global dan gladiol
gr seperti pada kata gram dan grafis
kl seperti pada kata klasik dan klinik
kr seperti pada kata kritik dan Kristen
ks seperti pada kata ksatria dan eksponen
kw seperti pada kata kwartir dan kwartet
pr seperti pada kata pribadi idan keprok
bl seperti pada kata blangko dan semblih
by seperti pada kata obyekti
dr seperti pada kata drama dan drakula
dw seperti pada kata dwidarma
dy seperti pada kata madya
fl seperti pada kata flannel dan inflasi
fr seperti pada kata frater dan infra
gl seperti pada kata global dan gladiol
gr seperti pada kata gram dan grafis
kl seperti pada kata klasik dan klinik
kr seperti pada kata kritik dan Kristen
ks seperti pada kata ksatria dan eksponen
kw seperti pada kata kwartir dan kwartet
pr seperti pada kata pribadi idan keprok
ps seperti
pada kata psikolog dan psikopat
sl seperti pada kata slogan dan slalom
sp seperti pada kata spontan dan special
spr seperti pada kata sprit dan spreyer
sl seperti pada kata slogan dan slalom
sp seperti pada kata spontan dan special
spr seperti pada kata sprit dan spreyer
sr seperti pada kata srigala dan sronok
st seperti pada kata studio dan stasiun
str seperti pada kata strata dan strika
sw seperti pada kata swadaya dan swast
sk seperti pada kata skala
skr seperti pada kata skripsi dan manuskrip
st seperti pada kata studio dan stasiun
str seperti pada kata strata dan strika
sw seperti pada kata swadaya dan swast
sk seperti pada kata skala
skr seperti pada kata skripsi dan manuskrip
tr seperti pada kata tragedy dan trahum
ty seperti pada kata satya
ty seperti pada kata satya
Catatan:
Gugus
konsonan br seperti pada kata labrak dan gugus konsonan pr seperti pada kata keprok, secara
ortografis menurut EYD dianggap sebagai deret konsonan karena suku katanya harus
dipenggal menjadi lab, rak dan kep, rok.
Seringkali
untuk “memindahkan” lafal sebuah gugus konsunan kl pada kata klas dan gugus konsonan pr seperti pada kata praktik diselipkan vokal tengah sendang
[ǝ] sehingga lafalnya menjadi [kelas] dan [pǝraktӓk]. Sebaliknya bisa juga
terjadi silabel berpola KV dijadikan silabel KKV, seperti kata [kǝlapa] menjadi
[klapa], dan kata [nǝgeri] menjadi [nǝgri].
Deret konsonan yang ada
dalam bahasa Indonesia antara lain adalah:
bd seperti
pada kata sabda
bh seperti pada kata subhat
bl seperti pada kata kiblat
hb seperti pada kata mahkama
hl seperti pada kata bahla, bahlul
hm seperti pada kata tahm
ht seperti pada kata tahta,
kb seperti pada kata takbir, akbar
kl seperti pada kata iklan, coklat
km seperti pada kata sukma
kr seperti pada kata pokrol, takrir
ks seperti pada kata siksa, paksa
kt seperti pada kata bakti, bukti
?d seperti pada kata [bak?da
?l seperti pada kata [ta?luk], [ta?lik]
?m seperti pada kata [ba?mi], [ma?mum
?n seperti pada kata [ma?na], [la?nat]
?y seperti pada kata [ra?yat], [ru?yat]
lb seperti pada kata kalbu, talbiah
ld seperti pada kata kaldu, kaldera
lk seperti pada kata taling, palka
lm seperti pada kata halma, gulma
hb seperti pada kata mahkama
hl seperti pada kata bahla, bahlul
hm seperti pada kata tahm
ht seperti pada kata tahta,
kb seperti pada kata takbir, akbar
kl seperti pada kata iklan, coklat
km seperti pada kata sukma
kr seperti pada kata pokrol, takrir
ks seperti pada kata siksa, paksa
kt seperti pada kata bakti, bukti
?d seperti pada kata [bak?da
?l seperti pada kata [ta?luk], [ta?lik]
?m seperti pada kata [ba?mi], [ma?mum
?n seperti pada kata [ma?na], [la?nat]
?y seperti pada kata [ra?yat], [ru?yat]
lb seperti pada kata kalbu, talbiah
ld seperti pada kata kaldu, kaldera
lk seperti pada kata taling, palka
lm seperti pada kata halma, gulma
lp seperti pada kata pulpen, bolpoin
mb seperti pada kata sambut, timbul
mp seperti pada kata simpan, sampul mb seperti pada kata sambut, timbul
mpr seperti pada kata kompraŋ
nc seperti pada kata hancur, lancip
ncl seperti pada kata kinclong
ncr seperti pada kata kencring
nd seperti pada kata janda, tunda
nj seperti pada kata janji, tanjung
np seperti pada kata tanpa
nt seperti pada kata nanti, pantun
ŋg seperti pada kata laŋgar, maŋga
ŋk seperti pada kata naŋka, boŋkar
ŋkr seperti pada kata baŋkrut
ŋs seperti pada kata piŋsan, saŋsi
pt seperti pada kata baptis, saptu
rb seperti pada kata karbon, terbang
rc seperti pada kata karcis
rd seperti pada kata kerdil, kardus
rg seperti pada kata surge, harga
rh seperti pada kata berhala
rj seperti pada kata terjang, terjal
rk seperti pada kata berkas, harkat
rl seperti pada kata perlu
rm seperti pada kata norma, nirmala
rc seperti pada kata karcis
rd seperti pada kata kerdil, kardus
rg seperti pada kata surge, harga
rh seperti pada kata berhala
rj seperti pada kata terjang, terjal
rk seperti pada kata berkas, harkat
rl seperti pada kata perlu
rm seperti pada kata norma, nirmala
rn seperti pada kata sirna, porno
rp seperti pada kata korpus
rp seperti pada kata korpus
rs seperti pada kata sirsak
rt seperti pada kata kertas, karton
rt seperti pada kata kertas, karton
sb seperti
pada kata tasbih
sk seperti pada kata miskin, riskan
sl seperti pada kata muslim
sr seperti pada kata mesra, pasrah
sp seperti pada kata puspa
ʃd seperti pada kata taʃdid
ʃr seperti pada kata taʃrik
tm seperti pada kata ritme
tl seperti pada kata mutlak
xl seperti pada kata maxluk
ʃd seperti pada kata taʃdid
ʃr seperti pada kata taʃrik
tm seperti pada kata ritme
tl seperti pada kata mutlak
xl seperti pada kata maxluk
Catatan:
Untuk
“memudahkan” lafal seringkali deret konsonan hilang karena diselipi vokal
temgah sedang [ǝ], seperti kata coklat menjadi
cokǝlat; tasbih menjadi tasǝbih; dan
kata pasrah menjadi pasǝrah.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
