Kamis, 23 Maret 2017

REALISASI FONEM BAHASA INDONESIA SERTA GUGUS FONEM DAN DERET FONEM


    
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fonologi Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing : Noor Cahaya, M.Pd

   Disusun Oleh Kelompok VI
              Annisa Nurshifariani Ahya (1610116320004)
              Sandra Sucipta Rimba (1610116320029)
              Oktavia Permita Sari (1610116320027) 
              Devi Lestari (1610116320006)
              Park Daeho (10161687

       PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
    JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
   FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
    UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
MARET 2017

Realisasi Fonem Bahasa Indonesia

Realisasi fonem sebenarnya sama dengan bagaimana fonem itu dilafalkan. Hanya masalahnya kalau orang Indonesia melafalkan fonem-fonem bahasa Indonesia sangat banyak sekali variasinya. Hal ini berkenaan bahwa bangsa indonesia terdiri dari berbagai etnis dan berbagai bahasa daerah, sehingga ketika melafalkan fonem-fonem bahasa Indonesia pasti dipengaruhi oleh sistem fonologi bahasa daerahnya.

Di sini dalam kajian fonemik, kita mencoba merumuskan bagaimana fonem-fonem bahasa Indonesia harus direalisasikan, dalam arti harus dilafalkan atau diucapkan.


Realisasi Fonem Vokal

Secara umum realisasi fonem vokal bahasa indonesia adalah sebagai berikut.

1.    Fonem /i/

Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada silabel terbuka atau silabel tak berkoda seperti pada kata <kini> [kini], <lidi> [lidi], dan <sapi> [sapi]. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [I] apabila berada pada silabel tertutup atau silabel berkoda seperti pada kata <batik> [batIk], <ambil> [ambIl], dan <lirik> [lirIk].

2.      Fonem /e/

Fonem /e/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [e] apabila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata <sate> [sate], <pete> [pte], dan <berabe> [brabe].
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [ε] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata <monyet> [mñεt], <karet> [karεt], dan <ember> [εmbεr].

3.      Fonem /a/

Secara umum fonem /a/ direalisasikan sebagai bunyi [a], baik pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata seperti pada kata <apa>, <padam>, dan <dua>. Secara fonetis, akibat pengaruh lingkungan, sebenarnya fonem /a/ pada silabel pertama kata apa, pada silabel kedua kata padam,  dan silabel ketiga pada kata dua adalah tidak sama. Namun, ketidaksamaan itu tidak dapat dipolakan seperti pada pengucapan fonem /i/ dan /e/.

4.      Fonem /ә/

Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [∂] seperti pada kata <kera> [k∂ra], <erat> [∂rat], dan <Maret> [mar∂t].

5.      Fonem /u/

Fonem /u/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, dilafalkan sebagai bunyi [u] apabila berada pada silabel terbuka seperti pada kata <susu> [susu], <ibu> [ibu], dan <tunggu> [tuƞgu].
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [U] apabila berada pada silabel tertutup seperti pada kata <kasur> [kasUr], <libur> [libUr] dan <tangguh> [taƞguh].

6.      Fonem /o/

Fonem /o/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:

Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [o] apabila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata <toko> [toko], <bakso> [ba?so] dan <oto> [oto].

Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [] apabila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata <tokoh> [tkh]


Realisasi fonem konsonan

1.      Fonem /b/

Fonem /o/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:

Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [b] apabila berada pada awal silabel, baik silabel terbuka maupun silabel tertutup yang bukan ditutup oleh fonem konsonan /b/. Misalnya pada kata <bagus> [bagus], <kabur> [kabur] dan <bantal> [bantal]. Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [b] atau [p] apabila berposisi sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya, pada kata:

<sebab> diucapkan [s∂bab] atau [s∂bap]

<jawab> diucapkan [jawab] atau [jawap]

<sabtu> diucapkan [sabtu] atau [saptu]

2.      Fonem /p/

Direalisasikan sebagai bunyi [p] baik sebagai onset pada sebuah silabel maupun sebagai koda. Misalnya <papan> [papan],  <pukul> [pukul], <sampul> [sampul]. Namun, perlu dicatat fonem /p/ pada awal kata bila diberi prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh atau disenyawakan dengan bunyi nasal yang homorgan (sealat ucap). Misalnya:
Me + pilih à [memilih]
Pe + pilih à [pemilih]
Me + potong à [memotong]
Pe + potong à [pemotong]

3.      Fonem /n/

Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [n], seperti pada kata <nanas> [nanas], <pinang> [pinaŋ], dan <iman> [iman].

4.      Fonem /w/

Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [w], seperti pada kata <waris> [waris], <awan> [awan], <bawal> [bawal] dan <wow> [wow].

5.      Fonem /f/

Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [f] seperti pada kata <kafe> [kafe] dan <aktif> [aktif]. Kata serapan asing yang secara ortografi ditulis dengan huruf <v>, seperti kata <vitamin>, <variasi> dan <rival> juga dilafalkan sebagai bunyi [f]. Jadi, lafal ketiga kata itu adalah [fitamin], [fariasi] dan [rifal].

6.      Fonem /d/

Fonem /d/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [d] apabila berposisi sebagai sebuah onset pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <daging> [dagiƞ] <hadis> [hadis] dan <dada> [dada] dan <hadis>.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [t] dan [d] bila berposisi sebagai sebuah koda pada sebuah silabel, yaitu:
<abad> dilafalkan [abat] atau [abad]
<jilid> dilafalkan [jilit] atau [jilid]
<ahad> dilafalkan [ahat] atau [ahad]

7.      Fonem /t/

Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [t], seperti pada kata <titi> [titi], <latih> [latih], dan <rebut> [rebut]. Namun, perlu dicatat fonem /t/ pada posisi awal kata bila diberi prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh atau disenyawakan dengan bunyi nasal yang homorgan (sealat ucap) dengan fonem /t/ itu misalnya:
Me + tari à [menari]
Pe + tari à [penari]
Me + tumbuk à [menumbuk]
Pe + tumbuk à [penumbuk]

8.      Fonem /n/

Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [n], baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya <nama> [nama], <panas> [panas], dan <asin> [asin].

9.      Fonem /I/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [l] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel, seperti pada kata <lari> [lari], <halal> [halal], dan <batal> [batal].

10.  Fonem /r/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [r] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya <ribut> [ribut], <karet> [karet], dan <kabar> [kabar].

11.  Fonem /z/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [z] bila sebagai onset pada sebuah silabel. Misalnya <zaman> [zaman], <zakat> [zakat], dan <zamzam> [zamzam]. Bila sebagai koda dilafalkan sebagai bunyi [z] atau bunyi [s]. Misalnya pada kata <aziz> dilafalkan [aziz] atau [azis].

12.  Fonem /s/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [s] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <sakit> [sakit],  <pesan> [pesan], dan <kamus> [kamus].

13.  Fonem /l/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [l ] baik sebagai onset maupun sebagai koda. Misalnya <syarat> [l arat], <syahbandar> [l ahbandar], dan <arasy> [ara l ].

14.  Fonem /ñ/

Fonem nasal ini direalisasikan sebagai bunyi [ñ] misalnya pada kata <nyanyi> [ña ñi], <banyak> [bañak], dan <nyonya> [ñ É ña]. Fonem /ñ/ tidak pernah berposisi sebagai koda.

15.  Fonem /j/

Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [j] seperti pada kata <jalan> [jalan], <jujur> [jujur], dan <ajal> [ajal]. Fonem /j/ tidak pernah berposisi sebagai koda.

16.  Fonem /c/

Secara umum fonem /c/ ini direalisasikan sebagai bunyi [c] seperti pada kata <cari> [cari], <acar> [acar], dan <cacar> [cacar]. Fonem ini tidak pernah berposisi sebagai koda.

17.  Fonem /y/

Fonem ini selalu direalisasikan sebagai bunyi [y] seperti pada kata <yatim> [yatim], <ayun> [ayun], dan <yayasan> [yayasan]. Fonem ini tidak pernah berposisi sebagai koda.

18.  Fonem /g/

Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:  \
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [g] apabila berposisi sebagai onset. Misalnya pada kata <gajah> [gajah],  <agar> [agar], dan <gagal> [gagal].
Kedua, Direalisasikan sebagai bunyi [g] atau [k] apabila berposisi sebagai koda misalnya:
<gudeg>   dilafalkan [gudeg] atau [gudek]
<grobag>  dilafalkan [grÉbag] atau [grÉbak]
<goblog>  dilafalkan [gÉblÉg] atau [gÉblÉk]

19.  Fonem /k/

Fonem ini memiliki tiga macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [k] apabila berposisi sebagai onset pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <kabar> [kabar], <bakar> [bakar], dan <akur> [akur].
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [?] apabila berposisi sebagai koda pada sebuah silabel seperti: <bapak> [bapa?], <nikmat> [ni?mat], dan <rakyat> [ra?yat].
Ketiga, direalisasikan sebagai bunyi [g] bila berposisi sebagai koda misalnya:
<gudeg> [gudek], <gubuk> [gubug], dan <gebuk> [gbug].

20.  Fonem /h/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [h] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <nganga> [haha], <angin> [ahin], dan <bingung> [bihuh].

21.  Fonem /x/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [x] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya <khas> [xas], <akhir> [axir], dan <tarikh> [tarix].

22.  Fonem /h/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [h] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel. Misalnya pada kata <hari> [hari], <sehat> [sehat], dan <lebih> [lbih].

23.  Fonem /?/

Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [?] yang muncul pada:
Pertama, silabel pertama dari sebuah kata yang berupa fonem vokal. Misalnya pada kata <akan> [?akan], <isap> [?isap], dan <udang> [?udah].
Kedua, di antara dua buah silabel, dimana naklus silabel pertama dan nuklus silabel kedua berupa fonem vokal yang sama. Misalnya pada kata
<taat>      dilafalkan [ta?at]
<aan>      (nama orang) dilafalkan [a?an]
<iin>       (nama orang) dilafalkan [i?in]
<uud>     (nama orang) dilafalkan [u?ud]
<bloon>  (nama orang) dilafalkan [blÉ?Én]


Gugus Fonem dan Deret Fonem

Yang dimaksud dengan gugus fonem adalah dua buah fonem yang berbeda tetapi berada dalam sebuah silabel atau suku kata. Sedangkan yang dimaksud deret fonem adalah dau buah fonem yang berbeda, berada dalam silabel berbeda, meskipun letaknya berdampingan.


Gugus dan Deret Vokal

Gugus vokal adalah sama dengan diftong. Sejauh ini diftong tercatat ada dalam bahasa Indonesia adalah diftong atau gugus vokal <ai>, <au>, <oi>, dan <ei>, seperti terdapat pada kata-kata:
            Pulau
            Santai
            Sekoi
            Survei

Sedangkan deret vokal yang tercatat ada sampai saat ini adalah:

aa         seperti pada kata saat dan taat 
au        seperti pada kata laut dan daun 
ai         seperti pada kata kain dan kait 
ao        seperti pada kata kaos dan laos 
ua        seperti pada kata luar dan kuat 
ue        seperti pada kata kue
ui         seperti pada kata puing dan suit
ia         seperti pada kata siar dan kiat
iu         seperti pada kata tiup dan liur
io         seperti pada kata kiong dan biola
oa        seperti pada kata loak dan soak
oi         seperti pada kata koin dan poin
eo        seperti pada kata beo dan Leo

Catatan:
Deret vokal ii, uu,  dan oo hanya ada pada beberapa nama orang seperti iin, uun, dan oon.
Gugus konsonan disebut juga klaster yang ada dalam bahasa Indonesia adalah:

            br         seperti pada kata brahma dan labrak
            bl         seperti pada kata blangko dan semblih 
            by        seperti pada kata obyekti
            dr         seperti pada kata drama dan drakula
            dw       seperti pada kata  dwidarma
            dy        seperti pada kata madya 
            fl          seperti pada kata flannel dan inflasi 
            fr         seperti pada kata  frater dan infra 
            gl         seperti pada kata global dan  gladiol 
            gr         seperti pada kata gram dan grafis 
            kl         seperti pada kata klasik dan klinik
            kr         seperti pada kata kritik dan  Kristen 
            ks         seperti pada kata ksatria dan eksponen 
            kw       seperti pada kata kwartir dan kwartet
            pr         seperti pada kata pribadi idan  keprok
            ps         seperti pada kata psikolog dan psikopat 
            sl          seperti pada kata slogan dan  slalom 
            sp         seperti pada kata spontan dan  special
            spr       seperti pada kata sprit dan spreyer
            sr         seperti pada kata srigala dan sronok 
            st         seperti pada kata  studio dan stasiun
            str        seperti pada kata  strata dan strika 
            sw        seperti pada kata  swadaya dan swast
            sk         seperti pada kata  skala 
            skr       seperti pada kata skripsi dan manuskrip 
            tr          seperti pada kata   tragedy dan  trahum 
            ty         seperti pada kata satya

Catatan:

Gugus konsonan br seperti pada kata labrak  dan gugus konsonan pr seperti pada kata keprok, secara ortografis menurut EYD dianggap sebagai deret konsonan karena suku katanya harus dipenggal menjadi lab, rak dan kep, rok.

Seringkali untuk “memindahkan” lafal sebuah gugus konsunan kl pada kata klas  dan gugus konsonan pr  seperti pada kata praktik diselipkan vokal tengah sendang [ǝ] sehingga lafalnya menjadi [kelas] dan [pǝraktӓk]. Sebaliknya bisa juga terjadi silabel berpola KV dijadikan silabel KKV, seperti kata [kǝlapa] menjadi [klapa], dan kata [nǝgeri] menjadi [nǝgri].

Deret konsonan yang ada dalam bahasa Indonesia antara lain adalah:
            bd        seperti pada kata sabda
            bh        seperti pada kata subhat
            bl         seperti pada kata kiblat 
            hb        seperti pada kata mahkama
            hl         seperti pada kata bahla, bahlul 
            hm       seperti pada kata tahm
            ht         seperti pada kata tahta, 
            kb        seperti pada kata takbir, akbar 
            kl         seperti pada kata iklan, coklat 
            km       seperti pada kata sukma 
            kr         seperti pada kata pokrol, takrir
            ks         seperti pada kata siksa, paksa 
            kt         seperti pada kata bakti, bukti 
            ?d        seperti pada kata [bak?da
            ?l         seperti pada kata [ta?luk], [ta?lik] 
            ?m       seperti pada kata [ba?mi], [ma?mum
            ?n        seperti pada kata [ma?na], [la?nat] 
            ?y        seperti pada kata [ra?yat], [ru?yat] 
            lb         seperti pada kata kalbu, talbiah 
            ld         seperti pada kata kaldu, kaldera 
            lk         seperti pada kata taling, palka 
            lm        seperti pada kata halma, gulma
            lp         seperti pada kata pulpen, bolpoin 
            mb       seperti pada kata sambut, timbul 
            mp       seperti pada kata simpan, sampul 
            mpr      seperti pada kata kompraŋ 
            nc        seperti pada kata hancur, lancip 
            ncl       seperti pada kata kinclong 
            ncr       seperti pada kata kencring 
            nd        seperti pada kata janda, tunda 
            nj         seperti pada kata janji, tanjung 
            np        seperti pada kata tanpa 
            nt         seperti pada kata nanti, pantun 
            ŋg        seperti pada kata laŋgar, maŋga
            ŋk        seperti pada kata naŋka, boŋkar
            ŋkr       seperti pada kata baŋkrut
            ŋs         seperti pada kata piŋsan, saŋsi
            pt         seperti pada kata baptis, saptu
            rb         seperti pada kata karbon, terbang 
            rc         seperti pada kata karcis 
            rd         seperti pada kata kerdil, kardus  
            rg         seperti pada kata surge, harga 
            rh         seperti pada kata berhala 
            rj          seperti pada kata terjang, terjal 
            rk         seperti pada kata berkas, harkat 
            rl          seperti pada kata  perlu 
            rm        seperti pada kata norma, nirmala 

            rn         seperti pada kata sirna, porno 
            rp         seperti pada kata korpus
            rs         seperti pada kata sirsak 
            rt          seperti pada kata kertas, karton
            sb         seperti pada kata tasbih
            sk         seperti pada kata miskin, riskan
            sl          seperti pada kata muslim
            sr         seperti pada kata mesra, pasrah
            sp         seperti pada kata  puspa
            ʃd         seperti pada kata taʃdid
            ʃr          seperti pada kata taʃrik
            tm        seperti pada kata  ritme 
            tl          seperti pada kata mutlak
            xl         seperti pada kata maxluk

Catatan:

Untuk “memudahkan” lafal seringkali deret konsonan hilang karena diselipi vokal temgah sedang [ǝ], seperti kata coklat menjadi cokǝlat; tasbih menjadi tasǝbih; dan kata pasrah menjadi pasǝrah.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.