Kamis, 23 Februari 2017



FONOLOGI
JENIS-JENIS FONETIK, TRANSKRIPSI FONETIK, ALAT UCAP, dan PROSES PEMBUNYIAN
Dosen Pengampu : Noor Cahaya, M.Pd
 
Disusun Oleh :
Kelompok 2 :

1.     Ade Ferihan (1610116310002)
2.     Elva Riyani (1610116320008)
3.     Erpan Maulana (1610116310009)
4.     Henini Fiya (1610116320014)
5.     Nurina Amaliya (1610116320026)
Kelas : regular B (A2)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA dan SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
TAHUN AJARAN 2017
JENIS-JENIS FONETIK
Berdasarkan di mana beradanya bunyi bahasa itu sewaktu dikaji, dibedakan adanya tiga macam fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris. Sewaktu bunyi itu berada dalam proses produksi di dalam mulut penutur, dia menjadi objek kajian fonetik artikulatoris atau fonetik organis. Sewaktu bunyi bahasa itu berada atau sedang merambat di udara menuju telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik akustik. Lalu, sewaktu bunyi bahasa itu sampai atau berada di telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik auditoris.
Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Pembahasannya, antara lain meliputi masalah alat-alat ucap yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa itu; mekanisme arus udara yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa; bagaimana bunyi bahasa itu dibuat; mengenai klasifikasi bunyi bahasa yang dihasilkan serta apa kriteria yang digunakan; mengenai silabel; dan juga mengenai unsur-unsur atau ciri-ciri suprasegmental, seperti tekanan, jeda, durasi dan nada.
Fonetik akustik, yang objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara, spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel, resonansi, akustik produksi bunyi, serta pengukuran akustik itu. Kajian fonetik akustik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki kepentingan di dalamnya.
Fonetik auditori meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu “diterima” oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat dipahami. Dalam hal ini tentunya pembahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu bekerja. Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa dipahami.
Dari ketiga jenis fonetik itu jelas, yang paling berkaitan dengan ilmu linguistik adalah fonetik artikulatoris, karena fonetik ini sangat berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi atau dihasilkan. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan kajian fisika, yang dilakuan setelah bunyi-bunyi itu dihasilkan dan sedang merambat di udara. Kajian mengenai frekuensi dan kecepatan gelombang bunyi adalah kajian bidang fisika bukan bidang linguistik. Begitupun kajian linguistik auditoris lebih berkaitan dengan ilmu kedokteran daripada linguistik. Kajian mengenai struktur dan fungsi telinga jelas merupakan bidang kedokteran.

TRANSKRIPSI FONETIK
Transkripsi fonetik adalah penulisan bunyi-bunyi bahasa secara akurat atau secara tepat dengan menggunakan huruf atau tulisan fonetik. Huruf fonetik ini dibuat berdasarkan huruf (alphabet) latin yang dimodifikasikan, atau diberi 26 huruf padahal  bunyi-bunyi bahasa itu sangat banyak melebihi jumlah huruf latin, misalnya huruf vokal hanya ada lima buah yaitu ,(a),(i),(u),(e),(o) , padahal fonem vokal bahasa Indonesia saja ada enam buah /a/;/i/;/e/;/α/;/u/;dan /o/. jadi  untuk vokal keempat digunakan huruf <e> yang dimodifikasi dengan dibalik menjadi <α> contoh lain bunyi [o] pada kata <toko>,<tokoh> tidak sama ; maka untuk bunyi [o] pada kata <toko> digunakan huruf <o> sedangkan untuk bunyi [o] pada <tokoh> digunakan huruf <ᴐ> yaitu huruf <o> yang bagian awalnya dibuang. Bunyi <e> pada kata <sate>,<kera>,dan <monyet> adalah tidak sama ; maka bunyi [e] pada kata <sate> digunakan huruf fonetik <e>; untuk bunyi [e] pada kata <kera> digunakan huruf fonetik < α>; untuk bunyi [e] pada kata <monyet> digunakan huruf fonetik<€>. Dengan demikian ketiga kata itu secara fonetik ditulis menjadi [sate], [k αra], [m ᴐń€t].
Pada dasarnya dalam kajian fonetik, satu huruf hanya digunakan untuk satu bunyi; atau satu bunyi dilambangkan dengan satu huruf. Tidak ada penggunaan satu huruf untuk dua bunyi yang berbeda; juga tidak ada penggunaan dua huruf yang berbeda untuk satu bunyi.
Disini untuk pengkaji pemula , dan yang disesuaikan dengan fonetik bahasa Indonesia, diturunkan huruf-huruf fonetik itu. Dimulai untuk bunyi-bunyi vokal , dilanjutkan untuk bunyi-bunyi konsonan.
a untuk bunyi  [a] seperti kata anak,apa ,dan lada.
i untuk bunyi  [i] seperti kata ini,isi, dan dini.
u untuk bunyi  [u] seperti kata susu,lucu, dan aku.
e untuk bunyi  [e] seperti kata sate , gule, dan tape.
o untuk bunyi  [o] seperti kata toko,oto, dan kilo.

dan contoh untuk beberapa bunyi-bunyi konsonan
b untuk bunyi  [b] seperti kata bibi,lembar, dan debu
d untuk bunyi  [d] seperti kata dari,adat, dan hadir
g untuk bunyi  [g] seperti kata gagal,gigi, dan duga
h untuk bunyi  [h] seperti kata hamil,lihat, dan basah
j untuk bunyi  [j] seperti kata jalan , ajal dan jujur

catatan:
1.      Perubahan dan perbedaan dari yang tersebut di atas bisa saja dilakukan asal saja digunakan secara konsisten
2.      Dalam tulisan fonetik setiap bunyi, baik yang segmental maupun suprasegmental, dilambangkan secara akurat, persis seperti yang diucapkan. Setiap bunyi dilambangkan dengan lambang-lambang sendiri , meskipun perbedaannya hanya sedikit.
3.      Untuk menandai perbedaan-perbedaan bunyi yang kecil digunakan tanda-tanda diakritik. Berikut diberikan contoh tanda-tanda diakritik yang lazim digunakan.
Diakritik adalah tanda baca tambahan pada huruf yang sedikit mengubah nilai fonetis huruf tersebut, missal pada tanda ` pada  έ

4.        Disamping tulisan fonetik ada juga tulisan tulisan fonemik dan tulisan ortografis. Dalam tulisan fonemik setiap fonem dilambangkan dengan sebuah lambang. Jadi, ada kemungkinan akurat bila dibandingkan dengan tulisan fonetik. Sedangkan tulisan ortograrfis adalah tulisan menurut system ejaan yang berlaku untuk suatu bahasa, dalam bahasa Indonesia yang berlaku kini adalah system ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD).

Alat Ucap
Alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa ini mempunyai fungsi utama lain yang bersifat fisiologis. Misalnya : paru-paru untuk bernafas, lidah untuk mengecap, dan gigi untuk menguyah. Namun, alat itu secara linguistik digunakan untuk bunyi bahasa.
Kita perlu mengenal nama alat-alat ucap itu satu per satu untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi.
Didalam alat-alat ucap sering disebutkan dengan bahasa latin makanya harus diperhatikan dengan benar. Misalnya, bunyi dari kata labium yaitu bibir, dan bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan gigi disebut bunyi apikodental, yang diambil dari kata  apeks yaitu ujung lidah dan kata dentum yaitu gigi.
Nama alat-alat ucap dan keterangannya  yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut (dimulai dari dalam):
1. Paru-paru (lung)
Paru –paru adalah sebuah sumber arus udara yang merupakan syarat mutlak untuk terjadinya bunyi bahasa. Kalau arus udara datang dari paru-paru disebut arus udara agresif dan kalau arus udara dating dari luar disebut udara ingresif. Sama seperti bunyi kalau dari paru-paru disebut arus udara egresif, dan kalau datang dari luar disebut bunyi ingresif.
2. Pangkal tenggorok (laring) pita suara, glosit dan epiglottis
Pangkal tanggorok adalah sebuah rongga pada ujung saluran pernapasan yang diujungnya ada sepasang pita suara. Pita suara  ini dapat terbuka lebar, terbuka agak lebar, terbuka sedikit, dan tertutup rapat, sesuai dengan arus udara yang dihembuskan.
Antara pita suara itu disebut glotis. Pada glotis inilah awal terjadinya bunyi bahasa dalam proses produksi bunyi itu. Bila glotis berada dalam keadaan terbuka lebar, tidak ada bunyi bahasa yang dihasilkan, selain desah nafas. Bila glotis dalam keadaan terbuka agak lebar akan terjadi bunyi tak bersuara. Bila glotis dalam keadaan terbuka sedikit akan terjadi bunyi bersuara. Lalu, bila glotis dalam keadaan tertutup rapat akan terjadi bunyi hamzah atau bunyi hambat glottal. Proses pembunyian ini dibantu oleh epiglotis (katup pangkal tenggorok) yang bertugas menutup dan membuka jalan nafas (jalan udara dari dan ke paru-paru) dan jalan makanan/minuman kea rah pencernaan.
3. Rongga kerongkongan (Faring)
Faring atau rongga kerongkongan adalah sebuah rongga yang terletak di antara pangkal tenggorok dengan rongga mulut dan rongga hidung. Faring berfungsi sebagai “tabung udara” yang akan ikut bergetar bila pita suara bergetar. Bunyi bahasa yang dihasilkan disebut bunyi faringal.
4. Langit-langit lunak (velum), anak tekak (uvula) dan pangkal lidah (dorsum)
Velum atau langit-langit lunak dan bagian ujungnya yang disebut uvula (anak tekak) dapat turun naik untuk mengatur arus udara ke luar masuk melalui rongga hidung atau rongga mulut. Uvala akan merapat ke dinding faring kalau arus udara ke luar melalui rongga mulut, dan akan menjauh dari dinding faring kalau arus udara ke luar melalui rongga hidung. Bunyi yang dihasilkan kalau udara ke luar melalui rongga hidung disebut bunyi nasal; dan kalau udara keluar melalui rongga mulut disebut bunyi oral. Bunyi yang dihasilkan dengan velum sebagai artikulator pasif dan dorsum sebagai artikulator aktif disebut bunyi dorsovelar, dari gabungan kata dorsum dan velum. Sedangkan yang dihasilkan oleh uvula disebut bunyi uvular.
5. Langit-langit keras (palatum), ujung lidah (apeks), dan daun lidah (laminum).
Dalam pembentukan bunyi-bunyi bahasa, langit-langit keras (palatum) berlaku sebagai artikulator pasif (artikulator yang diam, tidak bergerak) dan yang menjadi artikulator aktifnya adalah ujung lidah (apeks) atau daun lidah (laminum). Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh palatum dan apeks disebut bunyi apikopalatal. Sedangkan yang dihasilkan oleh palatum dan laminum disebut bunyi laminopalatal.
6. Ceruk gigi (alveolum), apeks, dan daun lidah (laminum)
Dalam pembentukan bunyi bahasa, alveolum sebagai artikulator pasif; dan apeks atau laminum sebagai artikulator aktifnya. Bunyi yang dihasilkan oleh alveolum dan apeks disebut bunyi apikoalveolar. Lalu, yang dihasilkan oleh alveolum dan laminum disebut bunyi laminoalveolar.
7. Gigi (dentum), ujung lidah (apeks), dan bibir (labium)
Dalam produksi bunyi bahasa, gigi atas dapat berperan sebagai artikulator pasif; yang menjadi artikulator aktifnya adalah apeks atau bibir bawah. Bunyi yang dihasilkan oleh gigi atas dan apeks disebut bunyi apikodental; dan yang dihasilkan oleh gigi atas dan bibir bawah disebut bunyi labiodental. Dalam hal ini ada juga bunyi interdental, di mana apeks sebagai artikulator aktif berada di antara gigi atas dan gigi bawah yang menjadi artikulator pasifnya.
8. Bibir bawah dan bibir atas
Dalam pembentukan bunyi bahasa bibir atas bisa menjadi artikulator pasif dan bibir bawah menjadi artikulator aktif. Bunyi yang dihasilkan disebut bunyi bilabial, seperti bunyi [b] dan bunyi [p].
Bibir bawah bisa juga menjadi artikulator aktif, dengan gigi atas sebagai artikulator pasifnya. Lalu, bunyi yang dihasilkan disebut bunyi labiodental, dari kata labium dan dentum.
9. Lidah (tongue)
Lidah terbagi atas empat bagian, yaitu ujung lidah (apeks), daun lidah (laminum), punggung atau pangkal lidah (dorsum), dan akar lidah (root). Lidah dengan bagian-bagiannya dalam pembentukan bunyi bahasa selalu menjadi artikulator aktif, yakni artikulator yang bergerak. Sedangkan artikulator pasifnya adalah alat-alat ucap yang terdapat pada rahang atas.
Posisi lidah ke depan, ke tengah, atau ke belakang, dan ke atas atau ke bawah menentukan jenis vokal yang dihasilkan.
10. Mulut dan rongga mulut
Rongga mulut dengan kedua belah bibir (atas dan bawah) berperanan dalam pembentukan bunyi vokal. Kalau bentuk mulut membundar maka akan dihasilkan bunyi vokal bundar atau bulat; kalau bentuk mulut tidak bundar atau melebar akan dihasilkan bunyi vokal tidak bundar.
Secara umum semua bunyi yang dihasilkan di rongga mulut disebut bunyi oral, sebagai lawan bunyi nasal yang dihasilkan melalui rongga hidung.
11. Rongga hidung
Bunyi bahasa yang dihasilkan melalui rongga hidung disebut bunyi nasal. Bunyi nasal ini dihasilkan dengan cara menutup rapat-rapat arus udara di rongga mulut, dan menyalurkannya keluar melalui rongga hidung. Yang ada dalam bahasa Indonesia adalah bunyi nasal bilabial [m], bunyi nasal apikeolveaolar [η] bunyi nasal laminopalatal [n̴], dan bunyi nasal dorsovelar [ŋ].

PROSES PEMBUNYIAN
          Alat ucap atau alat bicara dalam proses memproduksi bunyi Bahasa dapat dibagi atas tiga komponen, yaitu :
a. komponen sublogtal,
b. komponen laring, dan
c. komponen supraglotal.

Komponen subglottal terdiri dari paru-paru (kiri-kanan), saluran bronkial, dan saluran pernafasan (trankea). Di samping ketiga alat ucap ini masih ada yang lain, yaitu otot-otot, dan rongga dada. Secara fisiologis komponen ini digunakan untuk proses pernafasan. Karena itu, komponen ini disebut juga sistem pernafasan. Lalu dalam hubungannya dengan fonetik disebut sistem pernafasan subglotis. Fungsi utama komponen subglottal ini adalah “memberi” arus udara yang merupakan syarat mutlak untuk terjadinya bunyi Bahasa.
Komponen laring (tenggorok) merupakan kotak yang terbentuk dari tulang rawan yang berbentuk lingkaran. Di dalamnya terdapat pita suara. Laring berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, dan hidung. Pita suara dengan kelenturannya bisa membuka dan menutup, sehingga bisa memisahkan dan sekaligus bisa menghubungkan antara udara yang ada di paru-paru dan yang ada di mulut atau rongga hidung. Bila klep ditutup rapat, maka udara yang ada di paru-paru terpisah dengan yang ada di rongga mulut.
Dalam rangka proses produksi bunyi, pada laring inilah terjadinya awal mula bunyi Bahasa itu; baik dengan aliran udara agresif maupun aliran udara ingresif. Posisi glottis (celah di antara pita suara) menentukan bunyi yang diproduksi apakah bunyi bersuara, bunyi tak bersuara, atau bunyi global.
Sehubungan dengan arus udara, sebagai sumber pembunyian biasanya dibedakan adanya tiga macam arus udara , yaitu (a) arus udara pulmonic, yaitu arus udara yang berasal dari paru-paru, (b) arus udara glotalik, yaitu arus udara yang berasal dari rongga faring dan (c) arus udara velarik, yaitu arus audara yang berasal dari gerakan ke belakang di dalam rongga mulut. Namun, yang utama adalah arus udara pulmonik.
Komponen suoraglotal adalah alat-alat ucap yang berada di dalam rongga mulut dan rongga hidup baik yang menjadi articulator aktif maupun yang menjadi articulator pasif. Simak bagan berikut!
Terjadinya bunyi bahasa dalam proses produksi bunyi bahasa pada umumnya dimulai dari proses pemompaan udara ke luar dari paru-paru melalui pangkal tenggorokan (laring) ke tenggorokan yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara itu bisa ke luar, pita suara itu harus berada dalam keadaan terbuka. Setelah melalui pita suara, yang meruoakan jalan satu-satunya untuk bisa ke luar, entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, arus udara tadi diteruskan ke luar ke udara bebas.
Kalau arus udara yang ke luar dari paru-paru itu ke luar tanpa mendapat hambatan apa-apa di dalam rongga mulut, maka kita tidak akan mendengar bunyi apa-apa, selain bunyi nafas. Beda dengan kalau arus udara itu mendapat hambatan pada salah satu tempat alat ucap, akan kita dengar bunyi bahasa.
Hambatan terhadap arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat paling dalam, yaitu pada glottis (celah pita suara) sampai pada tempat yang paling luar, yaitu bibir atas dan bibir bawah. Bila bibir bawah dan bibir atas tertutup lalu arus udara yang terhambat, tiba-tiba dilepaskan kita akan mendengar bunyi letup [b] dan [p]. Simak sekali lagi gambar alat ucap di atas.
Seperti sudah dikemukakan pada bab (5) ada empat macam posisi glotis pada pita suara yaitu suara dengan (a) glotis terbuka lebar, (b) glotis terbuka agak lebar, (c) glotis terbuka sedikit, dan (d) glotis tertutup rapat. Kalau glotis terbuka lebar, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara. Kalau posisi glotis terbuka sedikit maka akan terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara. Kalau posisi glotis tertutup rapat maka akan terjadi bunyi hambat glottal [?] atau lazim disebut bunyi hamzah.
Jadi bunyi-bunyi bahasa baru dapat dihasilkan kalau posisi glotis terbuka agak lebar, terbuka sedikit, dan tertutup rapat. Bunyi bahasa tidak akan terjadi bila posisi glotis  terbuka lebar. Mengapa ? Karena arus udara itu langsung ke luar melalui rongga mulut.
Posisi glotis terbuka sedikit  menghasilkan bunyi tak bersuara. Disebut bunyi tak bersuara karena pita suara tidak turut bergetar, akibatnya dari “mudahnya” arus udara dari paru-paru melewati pita suara yang glotisnya cukup terbuka. Namun, kalau glotis terbuka sedikit, maka pita suara itu turut bergetar ketika dilalui arus udara dari paru-paru, maka terjadilah bunyi bersuara. Kalau pita suara tertutup rapat, dan udara yang terhambat diletupkan akan terjadilah bunyi hambat glottal [?] atau lazim disebut bunyi hamzah.
Sesudah melewati pita suara, tempat awal terjadinya bunyi bahasa, arus udara diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung, di mana alat-alat ucap terdapat. Sesudah melewati pita suara, arus udara ini telah berubah menjadi arus ujar. Kalau arus ujar ini sebelum ke luar dari mulut hanya “diganggu” oleh posisi lidah dan bentuk mulut, akan terjadilah bunyi-bunyi vocal, tetapi kalau arus ujar itu “diganggu” dengan dihambat oleh alat-alat ucap, maka terjadilah bunyi konsonan. Kalau arus udara yang terhambat itu dikeluarkan melalui rongga mulut bunyi yang dihasilkan disebut bunyi oral;kalau dikeluarkan melalui rongga hidung disebut bunyi nasal.
Di sini perlu dijelaskan dulu selain istilah vocal dan konsonan lazim juga digunakan istilah vokoid dan kontoid untuk menyebut bunyi bahasa pada tingkat kajian fonetik. Namun, di dalam buku ini istilah tersebut tidak digunakan. Untuk kajian fonetik digunakan istilah bunyi vokal dan bunyi konsonan dan untuk tingkat fonemik digunakan istilah fonem vokal dan fonem konsonan.
Tempat terjadinya bunyi konsonan ini, yakni tempat terjadinya hambatan atau gangguan terhadap bunyi ujar, disebut tempat artikulasi atau titik artikulasi. Sedangkan proses atau cara terjadinya bunyi itu disebut cara artikulasi. Alat-alat ucap yang digunakan disebut alat artikulasi atau lebih lazim disebut articulator.
Dalam proses artikulasi ini, terlibat dua macam articulator, yaitu articulator aktif dan articulator pasif. Yang dimaksud artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak atau digerakkan, seperti bibir bawah (labium), ujung lidah (apeks), dan daun lidah (laminum). Sedangkan yang dimaksud artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak bergerak atau yang didekati oleh artikulator aktif. Misalnya gigi atas (dentum), ceruk gigi (alveolum), dan langit-langit keras (palantum). Sebagai contoh kalau arus udara dihambat pada kedua belah bibir atas, yang menjadi artikulator pasif, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bilabial, yaitu [b], [p], [m], dan [w]. Kalau bibir bawah sebagai artikulator aktif, merapat atau menyentuh gigi atas yang menjadi artikulator pasifnya, maka akan terjadilah bunyi labiodental [f] dan [v]. kalau ujung lidah, sebagai artikulator aktif, merapat atau menyentuh gigi atas, yang menjadi artikulator pasifnya, maka akan terjadilah bunyi apikodental yaitu [t] dan [d]. Lalu kalau punggung lidah atau belakang lidah (dorsum) sebagai artikulator aktif mengenai langit-langit lunak (velum) yang menjadi artikulator pasifnya, akan terjadilah bunyi dorsovelar, yaitu bunyi [k], [g], dan nasal [n].
Secara umum titik artikulasi (pertemuan antara artikulator aktif dan artikulator pasif) yang mungkin terjadi dalam bahasa Indonesia ialah:
(a) artikulasi bilabial (bibir bawah dan bibir atas)
(b) artikulasi labiodental (bibir bawah dan gigi atas)
(c) artikulasi interdental (gigi bawah, gigi atas, dan ujung lidah
(d) artikulasi apikodental (ujung lidah dan gigi atas)
(e) artikulasi apikoalveloar (ujung lidah dan ceruk gigi atas)
(f) artikulasi laminodental (daun lidah dan gigi atas)
(g) artikulasi laminopalatal (daun lidah dan langit-langit keras)
(h) artikulasi lamino alveolar (daun lidah dan ceruk gigi atas)
(i) artikulasi dorsopalatal (pangkal lidah dan langit-langit keras)
(j) artikulasi dorsovelar (pangkal lidah dan anak tekak)
(k) artikulasi dorsouvular (pangkal lidah dan anak tekak)
(m) artikulasi radiko faringal (akar lidah dan dinding kerong-kongan)
            Agar lebih jelas simak bagan berikut! Perhatikanlah tanda panah yang menghubungkan artikulator aktif dan artikulator pasifnya.
Bagaimana cara bunyi bahasa itu dihasilkan disebut cara artikulasi. Sejauh ini cara artikulasi yang diketahu antara lain adalah :
(a) Arus ujar itu dihambat pada titik tertentu, lalu arus dengan tiba-tiba diletupkan sehingga terjadilah bunyi yang disebut bunyi hambat, bunyi letup atau bunyi plosive.
(b) Arus ujar itu dihambat pada titik tertentu, lalu ujar itu dikeluarkan melalui rongga hidung, sehingga terjadilah bunyi nasal
(c) Arus ujar itu dihambat pada tempat tertentu , kemudian diletupkan sambil bergeser atau didesiskan sehingga terjadilah bunyi paduan atau bunyi afrikat.
(d) Arus ujar itu dihambat pada tempat tertentu, kemudian digeserkan atau didesiskan sehingga terjadilah bunyi geseran, bunyi desis atau bunyi frikatif.
(e) Arus ujar itu dikeluarkan melalui samping kiri dan kanan lidah, maka terjadilah bunyi sampingan atau bunyi lateral.
(f) Arus ujar itu dikeluarkan melalui samping kiri dan kanan lidah lalu digetarkan sehingga terjadilah bunyi getar atau tril.
(g) Arus ujar itu pada awal prosesnya diganggu oleh posisi lidah tetapi kemudian diganggu pada titik artikulasi tertentu sehingga terjadilah bunyi semi vokal yang dikenal juga dengan nama bunyi hampiran.
            Selanjutnya nanti dalam membuat klasifikasi fonem digunakan tiga patokan atau kriteria, yaitu titik artikulasi, tempat artikulasi dan bergetar tidaknya pita suara.

19 komentar:

  1. Nama: Rizki Tri Yuniar
    Nim: 1610116320028
    kelompok: 3

    saya ingin bertanya, apabila kita menyebutkan huruf /p/,/b/,/m/ dan /w/. Huruf /f/ dan /v/. maka akan menghasilkan bunyi konsonsonan apa? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. arus udara dihambat pada kedua belah bibir atas, yang menjadi artikulator pasif, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bilabial, yaitu [b], [p], [m], dan [w]. Kalau bibir bawah sebagai artikulator aktif, merapat atau menyentuh gigi atas yang menjadi artikulator pasifnya, maka akan terjadilah bunyi labiodental [f] dan [v]. kalau ujung lidah, sebagai artikulator aktif, merapat atau menyentuh gigi atas, yang menjadi artikulator pasifnya

      untuk prakteknya pada saat pertemuan yang akan datang

      Hapus
  2. Saya sandra sucipta rimba (1610116320029) dari kelompok 6. Ingin bertanya

    Disana telah di jelaskan jenis-jenis fonetik. Nahh pendapat kalian fonetik yang mana kah yang bisa dipelajari secara umum oleh mahasiswa, berikan alasan dan contohnya??

    Terima kasih ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya pribadi hal yang cocok untuk mahasiswa mengenai fonetik yaitu , Fonetik auditori ialah meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu “diterima” oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat dipahami. sebab kita di bangku perkuliahan telinga sangat berfungsi untuk mendengarkan penjelasan dari dosen maupun dari teman kita sendiri contohnya pada saat berdiskusi di ruang tempat perkuliahan karena kita dapat mengklarifikasi sebagaimana teman atau dosen kita salah dalam penyebutan kita langsung dapat menyaring bahwa dalam penyebutannya salah otomatis langsung terpikirkan penyeburan yang benar terima kasih

      Hapus
  3. Nama: Fermansyah
    NIM: 1610116310010
    Perwakilan dari kelompok 8

    Tadi sdh dijelaskan jenis-jenis fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, akustik, dan auditoris. Tolong berikan contohnya masing-masing satu.
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. fonologi artikulatoris
      berdiskusi antar teman melalu ucapan yang keluar dari mulut menghasilkan bunyi bahasa yang dapat dicerna oleh otak kita

      fonetik akustik
      seperti yang terjadi pada gunung berapi meletus tapi dapat dirasakan oleh mesin yang merekam bunyi melalui getaran dia menghitung dengan cara menggores gores kertas semakin tinggi goresannya semakin pesar skala richter nya. Contoh lain fonetik akustis yaitu ketika kita memetik gitar maka tali gitar akan bergetar, sehingga menyebabkan udara bergetar pula dan terjadilah bunyi yang dapat kita dengar.

      fonetik auditoris
      fonetik ini dapat membantu seorang dokter untuk meneliti anatomi dan sistem saraf manusia melalui pendengaran dokter yang dibantu dengan alat stetoskop

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Nama : MALIA
    Nim : 1610116320019
    Perwakilan dari kelompok 1
    Saya ingin bertanya tentang arus ujar. Apa itu arus ujar dan apakah ada hubungannya dengan subglotal, laring dan supraglotal. Berikan penjelasan mengenai hal tersebut!
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alat ucap dan alat bicara yang dibicarakan dalam proses memproduksi bunyi bahasa.
      a. Komponen subglotal terdiri dari paru-paru (kiri dan kanan), saluran bronkial, dan saluran pernafasan (trakea). Di samping ketiga alat ucap ini masih ada yang lain, yaitu otot-otot, paru-paru, dan rongga dada. Secara fisiologis komponen ini digunakan untuk proses pernafasan. Karena itu, komponen ini disebut juga sistem pernafasan.
      Lalu dalam hubungannya dengan fonetik disebut sistem pernafasan subglotis. Fungsi utama komponen subglotal ini adalah “memberi” arus udara yang merupakan syarat mutlak untuk terjadinya bunyi bahasa.
      b. Komponen laring (tenggorok) merupakan kotak yang terbentuk dari tulang rawan yang berbentuk lingkaran. Di dalamnya terdapat pita suara. Laring berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, dan hidung. Pita suara dengan kelenturannya bisa membuka dan menutup, sehingga bisa memisahkan dan sekaligus bisa menghubungkan antara udara yang ada di paru-paru dan yang ada di mulut atau rongga hidung.
      c. Komponen supraglotal adalah alat-alat ucap yang berada di dalam rongga mulut dan rongga hidung baik yang menjadi artikulator aktif maupun yang menjadi artikulator pasif.

      Hapus
  6. Nama : Devi Lestari
    Nim : 1610116320006
    Perwakilan dari kelompok 6
    Untuk kajian fonetik dimakalah kalian digunakan istilah bunyi vokal dan bunyi konsonan dan untuk tingkat fonemik digunakan istilah fonem vokal dan fonem konsonan. Selain istilah vocal dan konsonan saya juga pernah mendengar lazim juga digunakan istilah vokoid dan kontoid untuk menyebut bunyi bahasa pada tingkat kajian fonetik. Yang mau saya tanyakan adalah jelaskan apakah vokaid dan kontoid itu sama dengan bunyi vokal dan konsonan dan berikan contohnya!
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sama, vokoid dan kontoid itu sama dengan bunyi vokal dan konsonan. dalam studi fonemik, kontoid sering disebut konsonan.konsonan adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh aliran udara yang menemui berbagai hambatan atau penyempitan. contohnya seperti kata stop,afrikat, frikatif, dan trill. kemudian, bunyi vokoid dalam studi fonemik disebut vokal, dihasilkan dengan udara yang keluar dari paru-paru tanpa adanya hambatan. contohnya seperti kata jual dibaca "juwal",lampau dibaca "lampaw" dan sengau dibaca "sengaw".

      Hapus
  7. Nama: Herlyanny Nur Syachrida
    Nim: 1610116320013
    Perwakilan kelompok 4
    Sya ingin bertanya, jenis fonetik apakah yang berkaitan dengan ilmu linguistik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari ketiga jenis fonetik itu jelas, yang paling berkaitan dengan ilmu linguistik adalah fonetik artikulatoris, karena fonetik ini sangat berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi atau dihasilkan. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan kajian fisika, yang dilakuan setelah bunyi-bunyi itu dihasilkan dan sedang merambat di udara. Kajian mengenai frekuensi dan kecepatan gelombang bunyi adalah kajian bidang fisika bukan bidang linguistik. Begitupun kajian linguistik auditoris lebih berkaitan dengan ilmu kedokteran daripada linguistik. Kajian mengenai struktur dan fungsi telinga jelas merupakan bidang kedokteran.

      Hapus
  8. Nama : Eli Yanti
    NIM : 1610116320007
    Perwakilan kelompok 7

    Tadi kalian menjelaskan tentang Pada dasarnya dalam kajian fonetik, satu huruf hanya digunakan untuk satu bunyi; atau satu bunyi dilambangkan dengan satu huruf. Tidak ada penggunaan satu huruf untuk dua bunyi yang berbeda; juga tidak ada penggunaan dua huruf yang berbeda untuk satu bunyi.tolong jelaskan lagi secara rinci mengenai hal tersebut.terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. misalnya huruf O berarti pengucapannya juga harus O bukan diucapkan U. Pengucapan O untuk kata botol, jangan diucapkan butul

      Hapus
  9. Nama : Sinangkung Rohmat
    NIM : A1B114247
    Perwakilan kelompok 3
    saya ingin bertanya, jika paru-paru bermasalah misalnya terkena penyakit apakah akan mempengaruhi alat ucap lainnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tergantung penyakitnya, apakah berpengaruh sekali terhadapan pengucapan bunyi. tapi jika penyakit paru-paru itu menyumbat arus pernafasan akan membuat pengucapan bunyi menjadi sangat sulit.

      Hapus
  10. Nama : Mina Merdekarti
    NIM : 1610116320021
    Perwakilan dari kelompok 5
    Ingin bertanya, apakah ada trik atau cara agar orang yang cadel tetap bisa terdengar jelas saat berbicara atau mengucap?.

    BalasHapus
  11. menurut saya cara mengatasi cadel dengan cara mengucapkan huruf-huruf yang tidak bisa dengan sering, misalnya mengucapkan S dan L setiap hari dalam waktu 30 menit, tapi saat mengucapkan S jangan dibarengi dengan mengucapkan L, jika mengucap S cukup S baru besoknya diganti dengan pengucapan L, terima kasih.

    BalasHapus