Selasa, 11 April 2017









GRAFEM FONEM BAHASA INDONESIA
FONEM, ALOFON, DAN EJAAN

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fonologi Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing: Noor Cahaya, M.Pd.

Disusun Oleh Kelompok VIII:
1. Bayu Krisna Aji (1610116310005)
2. Fermansyah (1610116310010)
3. Jordi Nanda Heriady (1610116310015)
3. Lusi Anggita Aliani (1610116320018)
4. Siti Maimunah (A1B114244)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017

GRAFEM FONEM BAHASA INDONESIA
       Pada bab (3) telah dikemukakan adanya tiga macam trankripsi, yaitu transkripsi fonetik, transkripsi fonemik, dan transkripsi ortografik atau grafemik. Dalam transkripsi fonetik bunyi-bunyi bahasa serta ciri-ciri suprasegmentalnya dilukiskan secara akurat sesuai persis dengan bunyi dan ciri prosodi yang didengar; dalam transkripsi fonemik bunyi-bunyi dituliskan sesuai dengan satuan-satuan fonemisnya. Jadi, mungkin kurang akurat. Sedangkan dalam transkripsi ortografis bunyi-bunyi bahasa dituliskan sesuai dengan konvensi grafemis yang disepakati. Artinya, sesuai dengan sistem dan aturan ejaan yang berlaku. Dalam hal bahasa Indonesia tentu menurut aturan yang disepakati dalam pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).
       Menurut pedoman EYD grafem-grafem untuk fonem-fonem bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
Grafem Fonem Vokal
Fonem
Alofon
Grafem

Contoh




Awal
Tengah
Akhir
/i/
[i]
[I]
<i>
i.tu
a.pik
a.pi
/e/
[e]
[Ɛ]
<e>
e.kor
mo.nyet
sa.te
/∂/
[∂]
<e>
e.mas
ke.ra
ka.de
/u/
[u]
[U]
<u>
u.ji
da.pur
la.gu
/o/
[o]
[
<o>
o.bat
e.kor
bak.so
/a/
/a/
<a>
a.pi
pi.sah
lu.pa




Grafem Fonem Diftong
Fonem
Grafem

Contoh



Awal
Tengah
Akhir
/aw/
<au>
au.la
-
pu.lau
/ay/
<ai>
-
-
lan.dai
/oy/
<oi>
-
-
se.koi
/ey/
<ei>
-
-
sur.vei

Grafem Fonem Konsonan
Fonem
Alofon
Grafem

Contoh




Awal
Tengah
Akhir
/b/
[b]
[p]
<b>
ba.ku
re.but
ja.wab
/p/
[p]
<p>
pa.ku
Ba.pak
si.kap
/m/
[m]
<m>
mu.ka
a.man
da.lam
/w/
[w]
<w>
<u>
wa.ris
-
a.wan
-
-
li.mau
/f/
[f]
<f>
<v>
fa.sih
vi.ta.min
si.fat
av.tur
ak.tif
-
/d/
[d]
<d>
da.ta
a.dat
a.bad
/t/
[t]
<t>
ta.ri
ba.tik
de.kat
/n/
[n]
<n>
na.si
ta.nam
ja.lan
/l/
[l]
<l>
la.ri
ma.lam
ba.tal
/r/
[r]
<r>
ra.sa
ke.ras
be.nar
/z/
[z]
<z>
za.kat
ra.zia
a.ziz
/s/
[s]
<s>
sa.kit
a.sap
ba.las
/f/
[f]
<sy>
sya.hid
a.syar
a.rasy
/ñ/
[ñ]
<ny>
nya.la
ba.nyak
-
/j/
[j]
<j>
ja.la
a.jal
-
/c/
[c]
<c>
ca.ri
a.car
-
/y/
[y]
<y>
ya.tim
a.yun
-
la.lai
/g/
[g]
<g>
gi.la
la.gu
-

[k]
<k>
-
-
gu.dek
/k/
[k]
<k>
ki.ra
a.kal
ja.rak
/ŋ/
[ŋ]
<ng>
nga.nga
a.ngin
a.bang
/x/
[x]
<kh>
khas
a.khir
ta.rikh
/h/
[h]
<h>
ha.bis
ba.hu
su.dah
/?/
[?]
<k>
<Ὁ>
-
-
nik.mat
sa.at
ba.pak
-

Penjelasan :
1.      Grafem <e> dignakan untuk melambangkan dua buah fonem, yaitu fonem vokal /e/ dan /∂/.
2.      Fonem diftong /aw/ dilambangkan dengan gabungan grafem <au> yang dapat menduduki   posisi awal dan akhir kata; fonem diftong /ay/ dilambangkan dengan gabungan grafem <oi> , dan fonem diftong /ey/ dilambangkan dengan gabungan grafem <ei>. Ketiga diftong terakhir hanya menduduki posisi akhir kata.
3.      Grafem <p> selain digunakan untuk melambbangkan fonem /p/, juga dipakai untuk melambangkan fonem /b/ sebagai koda dari sebuah silabel.
4.      Grafem <t> selain digunakan untuk melambangkan fonem /t/ juga digunakan untuk melambangkan fonem /d/ sebagai koda dari sebuah silabel.
5.      Grafem <v> digunakan juga untuk melambangkan fonem /f/ karena menyesuaikan dengan ejaan asli unsur leksikal yang diserap.
6.      Grafem <k> selain untuk melambangkan fonem /k/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /g/ yang berposisi sebagai koda dalam satu silabel.
7.      Grafem <n> selain digunakan untuk melambangkan fonem /n/ juga digunakan untuk melambangkan fonem /ἦ/ pada posisi di muka fonem konsonan /j/ dan /c/.
8.      Gabungan grafem masih digunakan, yaitu gabungan grafem <ng> untuk melambangkan fonem /ŋ/, gabungan grafem <ny> untuk melambangkan fonem /ñ/, dan gabungan grafem <kh>  untuk melambangkan fonem /x/.
9.      Fonem hambat glotal /?/ dilambangkan dengan grafem <k> ; tetapi hambatan glotal /?/ yang bukan fonem tidak dilambangkan.
10.  Bunyi luncuran atau glider [w] dan [y] tidak dilambangkan dengan grafem apa-apa.
Lambang Unsur Suprasigmental
       Unsur suprasigmental yang berupa tekanan, nada, durasi, dan jeda karena tidak bersifat fonemis tidak diberi lambang apa-apa; tetapi unsur intonasi yang dapat mengubah makna kalimat di beri lambang berupa tanda baca, yaitu:
1.      Untuk kalimat deklaratif diberi tanda baca titik (.).
2.      Untuk kalimat interogatif diberi tanda baca tanda tanya (?).
3.      Untuk kalimat imperatif diberi tanda baca tanda seru (!).
4.      Untuk kalimat interjektif diberi tanda baca tanda seru (!).
5.      Untuk menandai bagian-bagian kalimat digunakan tanda koma (,) dan tanda titik koma (;).

FONEM, ALOFON, DAN EJAAN
       Dalam bab-bab terdahulu sudah kita bicarakan apa itu fonem dan apa itu alofon. Telah juga kita menggrafemkan fonem-fonem bahasa Indonesia. Kina akan kita bicarakan bagaimana hubungannya dengan ejaan yang berlaku sekarang yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (selanjutnya disebut singkatannya EYD).
       Pada dasarnya ejaan tidak lain dari konvensi grafis, yakni “perjanjian” di antara para penutur suatu bahasa untuk menuliskan bahasanya. Artinya, bunyi-bunyi bahasa yang seharusnya diujarkan, diganti dengan lambang-lambang grafis,yang disebut huruf, dan dilengkapi dengan tanda bacanya.
       Bahasa Indonesia sama dengan kebanyakan bahasa-bahasa di dunia, menggunakan huruf latin atau abjad latin untuk menuliskan bahasanya. Tentunya dengan sistem dan aturan-aturan tersendiri, yang tidak sama dengan sistem aturan-aturan bahasa lain, seperti bahasa inggris, bahasa belanda, atau bahasa lain, meskipun sama-sama menggunakan abjad latin itu.
       Seperti kita ketahui abjad Latin terdiri dari 26 buah huruf; padahal fonem-fonem bahasa Indonesia berjumlah lebih dari 26 buah. Belum lagi dengan alofon-alofonnya yang jumlahnya cukup banyak. Oleh karena itu, ada huruf yang digunakan untuk melambangkan lebih dari satu fonem, dan ada juga digunakan gabungan dua huruf untuk melambangkan sebuah fonem. Padahal katanya, ejaan yang ideal adalah ejaan yang hanya menggunakan sebuah huruf untuk sebuah fonem; atau sebuah fonem dilambangkan dengan sebuah huruf. Mari kita bicarakan masalah ini lebih lanjut.
       Huruf vokal dalam abjad Latin hanya ada 5 buah, padahal fonem vokal bahasa Indonesia ada 6 buah. Maka ada sebuah huruf, yaitu huruf <e> yang digunakan untuk melambangkan dua buah fonem, yaitu fonem /e/ dan fonem /∂/. Masalah lebih jauh fonem /e/ itu mempunyai dua buah alofon yaitu alofon /e/ dan alofon /ɛ/. Maka bisa dikatakan huruf <e> harus digunakan untuk melambangkan tiga buah alofon, atau tiga buah bunyi. Misalnya pada kata <kera> huruf <e> melambangkan bunyi  /∂/, pada kata <sate> huruf <e> melambangkan bunyi [e], dan pada kata <monyet > hurug <e> melambangkan bunyi /ɛ/.
       Masalah yang sama muncul dalam penggunaan huruf  <k> dimana bunyi ini digunakan untuk melambangkan tiga buah bunyi, yaitu bunyi [k], bunyi [Ɂ], dan bunyi [ǥ]. Pada awal silabel atau suku  kata huruf  <k> selalu melambangkan bunyi [k] seperti terdapat pada kata <kamu> , <ikan>, dan <kakap>. Namun pada akhir silabel sebagai koda bisa melambangkan ketiga bunyi itu. Pada kata <botak> melambangkan bunyi [k], pada kata <bapak> nelambangkan bunyi [Ɂ], dan  pada kata <gubuk> melambanghkan bunyi [g]. Mereka yang tidak tahu bagaimana melafalkan huruf <k> yang terdapat pada posisi koda pada sebuah silabel akan mengucapkan <bapak> sebagai [bapak], dan kata <gubuk> sebagai [gubuk]. Memang hingga saat ini lafal bahasa Indonesia yang baku belum pernah ditetapkan. Yang ada Cuma consensus bahwa lafal yang benar adalah lafal yang tidak menampakan ciri-ciri lafal bahsa daerah. Bagi orang yang bahasa pertamanya bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa daerah tentu sukar melepaskan diri dari pengaruh lafal bahasa daerahnya, kecuali dengan latihan yang intensif dan kemauan yang kuat.
       Huruf <b> yang menempati posisi koda pada sebuah silabel sering di ganti dengan huruf <P>  karena memang lafalnya berbunyi [p]. misalnya pada kata <sebab> dan <jawab> sering dieja menjadi <sebap> dan <jawab> . masalah yang sama sering terjadi pada huruf <d> yang  berposisi sebagai koda pada sebuah silabel. Pada posisi itu huruf <d>  sering dig anti dengan huruf <t> , karena lafalnya memang berbunyi <t>. misalnya pada kata <abad> dan <ahad> ditulis menjadi <abat> dan <ahat>.
       Bunyi pelancar [w] dan [y] meskipun dilafalkan, tetapi tidak dituliskan. Jadi, kata yang berbunyi [duwa] dan [diya] ditulis menjadi <dua> dan <dia>. Begitu juga bunyi pelancar [w] dan [y] pada kata [uwan] dan [iyuran] tidak dituliskan. Namun, dalam bentuk lento huruf [w] dan [y] dituliskan <wang> dan <yuran>.
       Penghilangtan gabungan huruf <tj> dan <dj> yang melambangkan bunyi [c] dan [j] yang ada dalam ejaan lama (ejaan Suwandi) pada dasarnya dimaksudkan untuk membuat ejaan bahasa Indonesia menjadi ejaan yang ideal, yakni melaksanakan prinsip satu fonem satu huruf. Namun, prinsip itu tidak dapat dilaksanakan seutuhnya karena untuk fonem /ń/, /ῃ/ dan fonem /x/, tidak bisa di hindari untuk tidak menggunakan gabungan huruf <ny>, <ng>, dan <kh>. Hal ini dilakukan adalah karena menggunakan gabungan huruf lebih mudah dan lebih ekonomis daripada harus memodifikasi bentuk huruf yang ada, seperti yang dilakukan orang dalam ejaan bahasa Rusia.
       Kedua puluh enam huruf dalam alphabet latin itu memang digunakan dalam ejaan bahasa dengan cukup, kecuali huruf  <Q> yang hanya digunakan utuk menulis kata <Quran> atau <Alquran> , dan huruf <x> yang hanyadigunakan untuk nama atau istilah tertentu, <Xerox>. Pada tempat lain huruf <x> ini diganti dengan gabungan huruf <ks> , tentunya dalam penyerapan kata asing. Misalnya, kata <ekspress> yang menjadi <ekspres> dan kata <export> yang menjadi <eksport>.
       Akhirnya bisa dikatakan, sebagai ejaan otografis, EYD sudah jauh lebih baik bila disbanding dengan sistem ejaan bahasa Inggris. Buktinya, kalau setiap entri dalam kamus bahasa Inggris harus dilengkapi dengan tulisan fonetiknya, maka dalam kamus bahasa Indonesia tidak perlu. Satu-satunya tanda diakritik yang digunakan adalah untuk membedakan bunyi [ð] dan bunyi [e], di mana untuk bunyi [e] grafem <e> diberi tanda aksen ( ̷ ), dan jumlahnya pun tidak banyak.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2009.Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta